27.8 C
Jakarta
Senin, September 28, 2026
BerandaKATA EKBISKEUANGANGaji Baru Masuk Sudah Habis? Ini Trik Buat Gen-Z Biar Tak Lagi...

Gaji Baru Masuk Sudah Habis? Ini Trik Buat Gen-Z Biar Tak Lagi ‘Numpang Lewat’

katafoto, Jakarta – Istilah “gaji numpang lewat” kini semakin sering digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika penghasilan baru diterima, tetapi uang sudah menipis sebelum memasuki tanggal gajian berikutnya.

Kondisi tersebut tidak lepas dari meningkatnya biaya kebutuhan sehari-hari. Founder & CEO MRE Mike Rini Sutikno dan perencana keuangan Andy Nugroho membagikan sejumlah cara yang dapat dilakukan Gen-Z agar lebih disiplin mengelola penghasilan.

Rini mengatakan, kenaikan harga kebutuhan pokok secara langsung berdampak terhadap kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan.

“Satu porsi pecel ayam misalnya tadinya Rp 25.000, sekarang Rp 27.000. Kalau gaji kita tidak naik, daya beli kita semakin menurun,” ujarnya Minggu (27/9).

Menurut dia, ketika harga barang dan jasa terus meningkat, sejumlah pengeluaran perlu disesuaikan agar kondisi keuangan tetap terkendali.

Sementara Andy mengingatkan pentingnya menentukan kebutuhan berdasarkan skala prioritas. Menurutnya, pengeluaran sebaiknya tidak hanya mengikuti keinginan atau gaya hidup.

“Buat skala prioritas dalam membelanjakan uang, hindari membelanjakan uang hanya untuk mengikuti gaya hidup,” katanya, dikutip dari Liputan6.com

Selain mengatur pengeluaran, Andy juga mendorong Gen-Z untuk mulai memiliki sumber penghasilan tambahan.

“Hindari berhutang hal-hal yang bersifat konsumtif,” ujarnya.

Disiplin Mengatur Gaji

Rini menilai kemampuan mengelola gaji bukan sesuatu yang otomatis dimiliki seseorang. Kebiasaan tersebut perlu dibangun secara bertahap.

“Disiplin mengatur gaji itu bukan bawaan dari lahir, tapi kebiasaan yang kita bangun pelan-pelan,” kata Rini, menyebut kuncinya adalah membangun sistem, bukan sekadar niat.

Salah satu langkah yang dapat diterapkan adalah prinsip pay yourself first. Rini menyarankan memanfaatkan fitur auto debit perbankan agar kebutuhan wajib langsung dialokasikan begitu gaji diterima.

“Begitu gaji masuk ke rekening, langsung bayar dan amankan yang wajib dulu,” katanya.

Andy menambahkan, membangun pengingat secara terus-menerus juga diperlukan agar seseorang tidak mudah kembali pada kebiasaan konsumtif.

“Tanamkan dan reminder terus berulang-ulang dalam mindset kita, pikirkan apa hal terburuk yang akan kita hadapi bila kita tidak mau disiplin,” ungkap Andy, menekankan pentingnya sugesti diri secara terus-menerus.

Rini juga menyarankan agar arus kas dikendalikan sejak awal bulan. Dengan begitu, uang yang tersedia dapat langsung dibagi sesuai kebutuhan.

“Kunci utamanya adalah mengendalikan arus kas harian dan mengunci pengeluaran tetap di awal bulan,” ujar dia.

Bagi Pengeluaran Berdasarkan Prioritas

Andy membagi pengeluaran menjadi tiga tingkat prioritas. Pertama adalah kebutuhan yang bersifat wajib dan harus dipenuhi.

“Yang utama adalah kebutuhan-kebutuhan yang bersifat penting dan wajib, contoh, bayar kos-kosan, bayar cicilan kendaraan bermotor, beli token listrik/ wifi/ paket data. Prioritas kedua adalah pengeluaran yang penting namun masih bisa diatur ulang jumlahnya, contoh, untuk makan sehari-hari, ongkos transport ke tempat kerja, kebutuhan toiletteries. Ketiga adalah kebutuhan yang bersifat kesenangan, tidak terlalu penting dan tidak wajib terpenuhi, contoh, beli kopi, nongkrong di kafe, nonton film, travelling,” paparnya.

Agar pembagian uang lebih mudah dilakukan, Andy menyarankan rekening tabungan dipisahkan dari rekening yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

“Bahkan kalau kita sedemikian tidak bisa disiplin, maka tidak ada salahnya untuk memiliki beberapa rekening terpisah dari satu bank yang sama sebagai tempat menaruh uang untuk berbagai pos kebutuhan yang berbeda,” ujar dia.

Menurut Andy, pemisahan tersebut dapat membantu mengurangi keinginan melakukan pembelian secara spontan.

“Itu dapat mendorong kita untuk bersikap impulsif dalam berbelanja,” ia menambahkan.

Untuk penggunaan paylater dan kartu kredit, Andy juga mengingatkan agar pengeluaran tetap dikendalikan. Salah satu caranya dengan mengisi saldo e-wallet hanya sesuai kebutuhan.

Formula Membagi Gaji

Bagi Gen-Z dengan penghasilan rata-rata sekitar Rp4 juta-Rp5 juta, Rini membagikan formula pembagian gaji yang dapat menjadi salah satu acuan.

“30 persen saya buat nabung, lima sampai 10 persen untuk asuransi, cicilan utang maksimal 30 persen, sisanya untuk biaya hidup dan lifestyle,” kata dia.

Sementara Andy menggunakan metode pembagian berbeda, yakni 40:30:20:10.

“40 persen untuk kebutuhan sehari-hari, 30 persen untuk cicilan dan utang, 20 persen ditabung dan diinvestasikan, 10 persen dialokasikan untuk dana charity,” tutur dia.

Dengan pembagian tersebut, penghasilan tidak langsung habis untuk kebutuhan konsumtif. Kunci utamanya tetap pada kemampuan menentukan prioritas, mengendalikan arus kas, serta membangun kebiasaan keuangan yang disiplin.

Baca Juga

Beras Premium Langka di Ritel, Mentan Amran: Ada Mafia yang Bikin Ribut

katafoto, Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman...

Bukan Cuma SD, Pendidikan Gratis Kini Disiapkan Mulai TK, Ini Rinciannya

katafoto, Jakarta - Pemerintah menyiapkan skema layanan pendidikan gratis...

Jokowi Buka Kartu, Ini 10 Aktivitasnya Bersama PSI Jelang Pemilu 2029

katafoto, Bandung - Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi)...

Danantara-Thales Jajaki Investasi AI hingga Teknologi Pasca-Kuantum di Indonesia

katafoto, Jakarta - Danantara Indonesia memperluas penjajakan kerja sama...

Pasar Mobil Listrik Indonesia Menggeliat, BYD Kuasai 37 Persen Pangsa Pasar

katafoto, Jakarta - Pasar kendaraan energi baru atau New...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini