26.7 C
Jakarta
Sabtu, Maret 28, 2026
BerandaFOTOCERITAPotret Sunyi Relokasi Makam di Tengah Proyek Tol Yogyakarta-Bawen

Potret Sunyi Relokasi Makam di Tengah Proyek Tol Yogyakarta-Bawen

 

Yogyakarta – Di bawah langit biru, suara doa pelan terdengar lirih di sebuah pemakaman di Padukuhan Susukan III, Margokaton, Seyegan. Bukan pemakaman biasa. Hari itu, 192 makam harus direlokasi untuk memberi jalan bagi pembangunan Jalan Tol Yogyakarta–Bawen.

Bukan tanpa hati. Prosesi relokasi dilakukan dengan penuh hormat. Dimulai dengan Selamatan Bedah Bumi, warga dan tokoh masyarakat berkumpul, berdoa bersama, memohon restu dan keselamatan bagi para arwah yang akan dipindahkan. Bagi mereka, ini bukan sekadar tanah yang dibongkar. Ini adalah rumah keabadian leluhur.

Didik Harjunadi (60), tokoh masyarakat yang sejak awal mendampingi proses ini, berbicara dengan suara pelan namun mantap.

“Ini tahap dua. Pertama dulu ada 56 itu yang kena tiang (tol). Kalau yang saat ini dari pendataan kami ada 190an yang dipindahkan,” jelasnya.

Pemindahan tidak dilakukan jauh-jauh. Lokasi baru masih dalam kompleks yang sama—sebuah bentuk kompromi agar para arwah tetap ‘tinggal’ di kampungnya sendiri, meski harus bergeser beberapa langkah.

Empat hari penuh, sejak Minggu hingga Kamis (25–29 Mei 2025), proses relokasi dilakukan oleh tim Al Fatihah Istighfar dan Sholawat (Al Iswat), sebuah lembaga dari Semarang yang telah mengurus ribuan makam terdampak proyek tol di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Dipimpin oleh Joko Yudho, tim ini bekerja dalam diam namun penuh kelembutan. Setiap jenazah diangkat dengan doa, dibungkus kain kafan baru, dan dipindahkan ke liang yang telah disiapkan. Tidak ada suara bising alat berat, hanya lantunan istighfar dan sholawat yang mengiringi langkah demi langkah.

“Kami memperlakukan setiap jenazah seperti keluarga sendiri. Ini bukan pekerjaan teknis saja. Ini tentang rasa, tentang hormat,” ujar salah satu anggota Al Iswat.

Di pemakaman, terlihat seorang perempuan berdoa. Ia tidak berkata banyak. Hanya matanya yang berkaca-kaca mengikuti jalannya prosesi pemindahan.

Di tengah pembangunan dan kemajuan, cerita seperti ini kerap luput dari sorotan. Namun di Susukan III, warga membuktikan bahwa kemajuan tak harus meninggalkan kenangan. Bahwa menghormati masa lalu adalah cara terbaik menyambut masa depan.

Dan bagi para arwah yang telah berpindah rumah, mereka mungkin telah berpindah tanah tapi tak pernah benar-benar berpisah dari kampungnya.

Baca Juga

Pospam Kapal di Batang Ini Jadi Daya Tarik Wisata Lebaran

Batang - Pos Pengamanan (Pospam) Lebaran 2026 di kawasan...

Tak Perlu Khawatir Stok BBM di Tol Padaleunyi Dipastikan Aman

Jakarta - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi...

Bikin Takjub, Mudik ke Jakarta Bikin Perputaran Uang Tembus Rp21 T

Jakarta - Program Mudik ke Jakarta yang diinisiasi Pemerintah...

Arus Balik Terkendali, Polisi Jaga Jalur Bireuen–Takengon

Aceh - Arus lalu lintas di ruas Jalan Bireuen–Takengon,...

Arus Mudik Membludak, 1,3 Juta Kendaraan Masuk Jateng

Semarang - Pemantauan malam takbiran Idulfitri 1447 Hijriah di...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini