Surabaya – Meningkatnya ancaman bencana alam dan perubahan iklim, PT United Tractors Tbk (UT) menegaskan bahwa ketangguhan masyarakat hanya bisa dibangun melalui upaya yang berkelanjutan, terencana, dan kolaboratif. Melalui sistem manajemen bencana yang mencakup fase pre-disaster, disaster response, hingga recovery, UT berupaya hadir bukan sekadar sebagai pemberi bantuan, tetapi sebagai mitra penguat kapasitas masyarakat.
“Ketangguhan tidak hanya diukur dari kecepatan bantuan saat bencana, tetapi dari kemampuan masyarakat untuk siap, tanggap, dan pulih lebih cepat. Semua capaian ini lahir dari kerja sama erat antara warga dan pemerintah daerah. UT akan terus menjadi bagian dari ekosistem yang mendorong kesiapsiagaan, pemulihan lingkungan, dan fondasi hidup masyarakat,” ujar Branch Operation Head UT Cabang Surabaya, Badrun Radhi.
Pada tahap pre-disaster, UT mengembangkan berbagai inisiatif mitigasi, termasuk Kampung Tangguh Bencana (KATANA) di Kota Batu, Jawa Timur. UT juga memperkuat konservasi lingkungan melalui revegetasi hutan serta pengembangan Program Desa Unity Proklim Lestari di lereng Gunung Arjuno, yang kini menjadi percontohan nasional.
Empat desa binaan—Tulungrejo, Tawangargo, Giripurno, dan Sumbergondo—menunjukkan perubahan signifikan. Bersama Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kehutanan, dan warga, UT merehabilitasi 567 hektare lahan kritis, menanam lebih dari 110.000 pohon produktif, serta membangun sistem mitigasi terpadu. Para petani kini memiliki sumber pendapatan baru sebagai petani buah, bahkan pendapatan mereka meningkat hingga dua kali lipat setiap bulan. Kondisi ini membuktikan bahwa konservasi dapat berjalan seiring dengan peningkatan ekonomi.

Transformasi pengelolaan sampah juga menunjukkan hasil nyata. Dari sebelumnya menghasilkan 22 ton sampah per bulan pada 2023, masyarakat kini berhasil mengolah sampah menjadi sumber ekonomi melalui TPS3R, bank sampah, kompos, hingga budidaya maggot. Bahkan pada 2024, Desa Sumbergondo mulai tidak lagi mengirimkan sampah ke TPA Kota Batu—sebuah capaian besar hasil sinergi warga, pemerintah, dan UT.
Memasuki fase disaster response, UT memperkuat kesiapsiagaan melalui disaster risk mapping, pengembangan KATANA, pendampingan sekolah lewat SOBAT Tangguh, serta partisipasi dalam HKB, Bulan PRB, FESDIKGANA, hingga pengenalan board games siaga bencana yang inklusif bagi anak berkebutuhan khusus.
Pada 27 November 2025, UT bersama BPBD, SatBrimob POLDA Jatim, dan BASARNAS melaksanakan simulasi gempa serta evakuasi keluarga karyawan di UT Cabang Surabaya. Kegiatan ini dilengkapi penggunaan “Red Code”, aplikasi tombol darurat buatan UT yang dirancang untuk mempercepat koordinasi saat situasi krisis.
Pada tahap recovery, UT berfokus pada pemulihan jangka panjang di Lumajang pascaerupsi Gunung Semeru. Program ini mencakup pembangunan Hunian Tetap (Huntap), pembangunan SD Negeri Sumberwuluh 02, serta pembangunan pos pantau dengan kamera CCTV. UT juga memberikan pelatihan kebencanaan kepada warga Desa Tangguh Bencana Sumbermujur dan edukasi kesiapsiagaan bagi siswa SD Negeri Sumberwuluh 02.

Sebagai respons cepat atas erupsi Gunung Semeru pada 19 November 2025, UT menyalurkan bantuan logistik ke sejumlah titik, termasuk bahan pokok untuk dapur umum di Desa Supit Urang, paket sembako bagi penyintas, serta dukungan bagi Pos Lapangan Candipuro berupa vitamin, masker, obat tetes mata, dan oksigen portabel. UT juga memberikan dukungan psikososial dan perlengkapan sekolah bagi anak-anak penyintas di SD Negeri Supiturang 1 dan 4.
Dari lereng Arjuno hingga wilayah terdampak di Lumajang, UT bersinergi antara warga, pemerintah, dan dunia usaha menuju masa depan yang lebih siap dan berkelanjutan. Desa-desa binaan kini menjadi bukti bahwa pelestarian lingkungan, peningkatan ekonomi, dan kesiapsiagaan bencana dapat berjalan selaras.

