Jakarta – Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya bersama para pakar membahas langkah penguatan ekonomi kreatif sebagai motor baru pertumbuhan ekonomi nasional dalam forum Prasasti Insights yang digelar di Jakarta. Forum ini dirancang sebagai ruang diskusi terbuka untuk menyatukan perspektif sekaligus mendorong kolaborasi lintas pihak agar kontribusi sektor ekonomi kreatif semakin optimal.
Menteri Ekraf menegaskan bahwa potensi ekonomi kreatif di daerah merupakan sumber pertumbuhan baru yang belum tergarap sepenuhnya. Menurutnya, kekayaan budaya nusantara, bonus demografi generasi muda yang akrab dengan teknologi digital, serta pesatnya transformasi digital menjadi fondasi kuat bagi pengembangan ekonomi kreatif dari daerah.
“Ekonomi kreatif adalah sumber daya baru Indonesia yang tumbuh dari tiap daerah. Kementerian Ekraf terus memetakan subsektor unggulan berbasis kekayaan budaya, kekuatan talenta muda, dan perkembangan digital. Inilah yang menjadikan ekonomi kreatif sebagai mesin pertumbuhan ekonomi nasional yang berangkat dari daerah,” ujar Teuku Riefky Harsya saat menyampaikan arah kebijakan dan tantangan pengembangan ekraf di Jakarta, Selasa (23/12).
Ia menyampaikan, sepanjang satu tahun terakhir sektor ekonomi kreatif telah memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja berkualitas, penguatan kelas menengah, serta peningkatan daya saing Indonesia di tingkat global. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekonomi kreatif menyerap lebih dari 27,4 juta tenaga kerja atau sekitar 18,7 persen dari total penduduk usia produktif, sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi nasional menuju 8 persen.

Melalui program Asta Ekraf, Kementerian Ekraf mendorong penguatan talenta kreatif lewat pelatihan lintas subsektor, peningkatan akses pembiayaan, serta perluasan pasar. Upaya ini diarahkan agar pelaku ekonomi kreatif dapat naik kelas, dari level lokal hingga nasional dan global.
Di kesempatan yang sama, Executive Director Prasasti, Nila Marita, menilai penguatan ekonomi kreatif membutuhkan ruang dialog kebijakan yang inklusif, terstruktur, dan berorientasi solusi. Ia menyebut Prasasti Insights menjadi pijakan awal untuk merumuskan kebijakan ekonomi kreatif yang lebih fokus dan berkelanjutan.
Nila juga mengapresiasi konsistensi Kementerian Ekraf dalam menempatkan daerah sebagai basis pengembangan ekonomi kreatif nasional. Menurutnya, keberagaman lokal, talenta daerah, dan ekosistem kreatif di berbagai wilayah merupakan kekuatan utama ekonomi kreatif Indonesia.
“Kami melihat diskusi ini membuka perspektif baru sekaligus peluang kolaborasi yang lebih luas, sehingga sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Ekraf,” ujar Nila.
Berdasarkan kajian Prasasti dan data BPS, kinerja ekonomi kreatif Indonesia tergolong solid. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif tercatat mencapai 5,69 persen, sementara nilai ekspornya menembus 12,89 miliar dolar AS, melampaui target tahun 2025. Capaian ini menunjukkan besarnya peluang ekonomi kreatif Indonesia di tengah tantangan ekonomi global.
Board of Advisors Prasasti, Burhanuddin Abdullah, dalam sambutan melalui video, menekankan bahwa Indonesia memiliki keunggulan yang sulit ditiru negara lain, yakni kekayaan budaya dan kreativitas berbasis keberagaman.
“Di saat banyak negara mengandalkan skala dan teknologi, ekonomi kreatif Indonesia menawarkan nilai diferensiasi yang kuat melalui identitas, narasi, dan inovasi lokal. Inilah modal penting untuk membuka peluang pertumbuhan ekonomi nasional,” tuturnya.

