30.6 C
Jakarta
Jumat, Juni 5, 2026
BerandaKATA GAYA HIDUPKESEHATANSering Susah Fokus? Bisa Jadi Ini Gejala ADHD pada Orang Dewasa

Sering Susah Fokus? Bisa Jadi Ini Gejala ADHD pada Orang Dewasa

Yogyakarta – Kasus Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau ADHD pada anak dilaporkan terus meningkat. Meski kerap dikaitkan dengan usia dini, kondisi ini bisa berlanjut hingga dewasa. Sayangnya, banyak orang belum menyadari hal tersebut, padahal dampaknya dapat mengganggu produktivitas sehari-hari. Pada orang dewasa, gejalanya sering muncul secara lebih halus, seperti sulit berkonsentrasi, kesulitan mengatur waktu, hingga kendala dalam mengendalikan emosi.

Psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Diana Setiyawati, menjelaskan bahwa ADHD pada orang dewasa umumnya terjadi karena keterlambatan diagnosis. Hal ini disebabkan oleh anggapan bahwa gejala yang muncul tidak terlalu mengganggu. Selain itu, masih ada stigma bahwa individu dengan ADHD terlihat baik-baik saja, padahal sebenarnya mereka sedang berjuang menghadapi kondisinya. 

“Memang ADHD nggak terlalu mengganggu dan sering dianggap baik-baik saja, tapi sebenarnya mungkin dia tengah struggle (berjuang) atau mengalami kondisi tidak produktif dalam hidup,” ujarnya, Jumat (17/4).

Diana menambahkan, jika kondisi ini tidak segera ditangani, dampaknya bisa cukup signifikan bagi penderitanya. Produktivitas dapat menurun, banyak tugas tidak terselesaikan, serta muncul kebiasaan pelupa dan kesulitan fokus saat bekerja. Bahkan, dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat membuat seseorang menjadi underachiever. Ia menegaskan bahwa hal tersebut merupakan salah satu ciri gangguan mental. 

“Salah satu ciri mental illness adalah tidak produktif karena sering pelupa dan susah fokus,” imbuhnya dikutip dari laman ugm.

Meski demikian, ADHD pada orang dewasa tetap dapat ditangani. Menurut Diana, penanganan bisa dilakukan melalui terapi maupun bantuan psikiater, termasuk penggunaan obat untuk membantu meningkatkan fokus. Namun, ia menekankan bahwa kunci utama terletak pada kemampuan individu dalam mengelola diri, yang perlu didukung oleh pendampingan profesional. “Sebenarnya sih cara yang paling efektif adalah dari kesadaran untuk bisa me-manage diri me-manage distraksi. Ini perlu terapi dan perlu multidisiplin antara psikiater dan psikolog,” terangnya.

Baca Juga

Lumajang Dipilih Jadi Lokasi Pertama Stasiun GIES di Indonesia

Lumajang - Kabupaten Lumajang kembali mencatatkan prestasi sebagai daerah...

Sinyal Wi-Fi Lemot? Ternyata Posisi Router Ini Biang Keroknya

Jakarta - Sebagian orang mengira sinyal Wi-Fi yang lemah...

Hanya 10 Persen Terdeteksi, Menkes Soroti Rendahnya Skrining Hepatitis

Jakarta - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti masih...

Kereta Api Jadi Primadona Moda Transportasi Lain Mengalami Penurunan

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kereta api...

Tunjukkan Perubahan Positif, 1.052 Warga Binaan Diganjar Remisi Waisak

Jakarta - Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Menimipas), Agus Andrianto,...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini