33.3 C
Jakarta
Senin, April 20, 2026
BerandaKATA GAYA HIDUPKESEHATANSering Susah Fokus? Bisa Jadi Ini Gejala ADHD pada Orang Dewasa

Sering Susah Fokus? Bisa Jadi Ini Gejala ADHD pada Orang Dewasa

Yogyakarta – Kasus Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau ADHD pada anak dilaporkan terus meningkat. Meski kerap dikaitkan dengan usia dini, kondisi ini bisa berlanjut hingga dewasa. Sayangnya, banyak orang belum menyadari hal tersebut, padahal dampaknya dapat mengganggu produktivitas sehari-hari. Pada orang dewasa, gejalanya sering muncul secara lebih halus, seperti sulit berkonsentrasi, kesulitan mengatur waktu, hingga kendala dalam mengendalikan emosi.

Psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Diana Setiyawati, menjelaskan bahwa ADHD pada orang dewasa umumnya terjadi karena keterlambatan diagnosis. Hal ini disebabkan oleh anggapan bahwa gejala yang muncul tidak terlalu mengganggu. Selain itu, masih ada stigma bahwa individu dengan ADHD terlihat baik-baik saja, padahal sebenarnya mereka sedang berjuang menghadapi kondisinya. 

“Memang ADHD nggak terlalu mengganggu dan sering dianggap baik-baik saja, tapi sebenarnya mungkin dia tengah struggle (berjuang) atau mengalami kondisi tidak produktif dalam hidup,” ujarnya, Jumat (17/4).

Diana menambahkan, jika kondisi ini tidak segera ditangani, dampaknya bisa cukup signifikan bagi penderitanya. Produktivitas dapat menurun, banyak tugas tidak terselesaikan, serta muncul kebiasaan pelupa dan kesulitan fokus saat bekerja. Bahkan, dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat membuat seseorang menjadi underachiever. Ia menegaskan bahwa hal tersebut merupakan salah satu ciri gangguan mental. 

“Salah satu ciri mental illness adalah tidak produktif karena sering pelupa dan susah fokus,” imbuhnya dikutip dari laman ugm.

Meski demikian, ADHD pada orang dewasa tetap dapat ditangani. Menurut Diana, penanganan bisa dilakukan melalui terapi maupun bantuan psikiater, termasuk penggunaan obat untuk membantu meningkatkan fokus. Namun, ia menekankan bahwa kunci utama terletak pada kemampuan individu dalam mengelola diri, yang perlu didukung oleh pendampingan profesional. “Sebenarnya sih cara yang paling efektif adalah dari kesadaran untuk bisa me-manage diri me-manage distraksi. Ini perlu terapi dan perlu multidisiplin antara psikiater dan psikolog,” terangnya.

Baca Juga

Kapal Ilegal Disulap Jadi Aset, KKP Manfaatkan Hasil Tangkapan untuk Nelayan

Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan mengoptimalkan...

Catat Lonjakan Besar, Access by KAI Ubah Cara Orang Bepergian

Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat performa...

Bukan Sekadar Rumah Sakit, Primaya Rajawali Ubah Wajah Layanan Kesehatan di Bandung

Jakarta - Primaya Hospital Group resmi menghadirkan Primaya Rajawali...

Canggih, UGM Luncurkan Kendaraan Listrik eKarsa Khusus Rumah Sakit

Yogyakarta - Inovasi terus dikembangkan oleh tim peneliti Universitas...

Biaya Rumah Sakit Membengkak, Thailand Siapkan Aturan untuk Wisatawan

Jakarta - Pemerintah Thailand tengah mendorong kebijakan baru yang...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini