30.1 C
Jakarta
Minggu, Agustus 2, 2026
BerandaKATA EKBISINDUSTRIPolemik Pagar Mal Berakhir, Lippo Group dan Pakuwon Kompak Buka Suara

Polemik Pagar Mal Berakhir, Lippo Group dan Pakuwon Kompak Buka Suara

Jakarta – Pemilik dua jaringan pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia, Lippo Group dan Pakuwon Group, menegaskan kondisi keamanan nasional tetap kondusif sehingga tidak ada kebutuhan memasang pagar pembatas di kawasan mal. Keduanya memastikan pagar yang sempat muncul di sejumlah pusat perbelanjaan merupakan keputusan manajemen lokal, bukan kebijakan perusahaan.

Chairman Lippo Group sekaligus Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Luar Negeri Kadin Indonesia, James T. Riady, mengatakan pemasangan pagar pernah dilakukan seluruh mal milik Lippo saat Indonesia menghadapi kerusuhan pada masa lalu. Namun, menurutnya, langkah tersebut sudah tidak lagi diperlukan karena situasi keamanan kini jauh lebih baik.

“Dulu semua mal memasang pagar ketika terjadi kerusuhan. Sekarang sudah tidak diperlukan lagi karena situasi sudah tenang,” ujar James dalam siaran pers Kadin Indonesia, Jumat (31/7).

Pernyataan serupa disampaikan pendiri Pakuwon Group, Alexander Tedja. Ia memastikan pagar yang sempat dipasang di Mal Kota Kasablanka (Kokas), Jakarta Selatan, akan segera dibongkar.

Alexander menjelaskan pemasangan pagar tersebut merupakan keputusan manajemen setempat tanpa instruksi dari pemegang saham maupun kantor pusat perusahaan.

“Itu kebijakan manajemen lokal dan akan segera dibongkar,” katanya.

Sebelumnya, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mengaku telah berbicara langsung dengan Alexander Tedja terkait polemik pemasangan pagar di Mal Kota Kasablanka.

Berdasarkan hasil komunikasi tersebut, Alexander menegaskan pagar akan dibongkar dan penataan kawasan akan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru di tengah masyarakat.

“Saya juga sudah berbicara langsung dengan Pak Alex Tedja. Beliau mengatakan itu hanya inisiatif manajemen lokal dan akan segera diselesaikan,” ujar Maruarar.

Maruarar juga mengapresiasi pernyataan James Riady dan Alexander Tedja yang secara terbuka menyampaikan bahwa kondisi keamanan Indonesia tetap terjaga.

“Mereka adalah pemilik mal dan hotel di Indonesia. Sikap kedua pemilik mal ini patut diapresiasi karena situasi keamanan kita memang baik,” katanya.

Sementara itu, James menilai masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kondisi sosial maupun perekonomian nasional. Menurutnya, pemerintah berhasil menjaga stabilitas daya beli melalui sejumlah kebijakan strategis, seperti mempertahankan harga BBM bersubsidi, LPG 3 kilogram, dan tarif listrik rumah tangga bersubsidi di tengah gejolak harga energi dunia.

“Selama BBM subsidi tidak naik, LPG 3 kilogram tidak naik, dan tarif listrik rumah tangga bersubsidi tetap, tidak ada alasan masyarakat gelisah,” ujarnya.

Ia menambahkan, optimisme terhadap perekonomian juga tercermin dari kinerja industri pusat perbelanjaan yang masih menunjukkan tren positif. Bahkan, permintaan ruang usaha dari para tenant disebut lebih besar dibandingkan ketersediaan ruang di banyak mal.

“Sekarang justru kekurangan ruang. Permintaan untuk membuka toko lebih besar daripada pasokan ruang di pusat perbelanjaan modern. Ini masa emas bagi bisnis mal,” katanya.

James mengatakan prospek bisnis yang positif membuat Lippo Group terus memperluas jaringan usahanya. Saat ini perusahaan mengelola 106 pusat perbelanjaan yang terdiri atas 71 mal dan 35 shopping center yang tersebar di lebih dari 29 kota di Indonesia.

Menurutnya, tingginya minat tenant untuk membuka gerai baru serta ekspansi yang dilakukan pengembang menjadi indikator bahwa dunia usaha masih memiliki kepercayaan tinggi terhadap prospek ekonomi Indonesia.

“Kalau situasi tidak aman, tentu para tenant tidak akan berlomba membuka toko. Fakta bahwa pengembang terus berekspansi menunjukkan kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi Indonesia tetap kuat,” ujarnya.

James kembali menegaskan bahwa pemasangan pagar di beberapa pusat perbelanjaan hanya terjadi di lokasi tertentu dan tidak mencerminkan kebijakan industri secara keseluruhan.

“Itu hanya inisiatif manajemen lokal, bukan kebijakan pemilik ataupun kantor pusat. Bahkan setelah dikonfirmasi, pagar seperti itu memang tidak diperlukan,” tegasnya.

Alexander Tedja juga menyampaikan bahwa isu pemasangan pagar di mal sempat menjadi perhatian publik di media sosial. Meski demikian, ia menegaskan kondisi keamanan saat ini tetap kondusif sehingga tidak ada alasan bagi pusat perbelanjaan untuk memasang pagar pembatas.

Baca Juga

Sudaryono Bersih-Bersih BGN, 261 Pegawai Dipecat dan 48 ASN Disanksi

Jakarta - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mengambil...

Perry Warjiyo Tinggalkan Bank Indonesia, Pemerintah Jamin Stabilitas Tetap Terjaga

Jakarta - Pemerintah menerima pengunduran diri Perry Warjiyo dari...

Belanja Perjalanan Dinas Pemerintah Turun 50 Persen, Instansi Mana Paling Besar?

Jakarta - Belanja perjalanan dinas kementerian dan lembaga pemerintah...

Proyek KCIC Dibenahi, Danantara Janji Selesaikan Beban WIKA dan KAI

Jakarta - Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony...

Kinerja PGE Makin Moncer, Target Kapasitas 1,8 GW Dipacu hingga 2033

Jakarta - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mencatatkan...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini