katafoto, India – Bank Indonesia (BI) mendorong negara-negara anggota BRICS memperkuat kerja sama ekonomi dan keuangan melalui langkah yang lebih konkret. Salah satunya dengan memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi serta membangun konektivitas sistem pembayaran antarnegara.
Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan hal tersebut dalam Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral BRICS atau 2nd BRICS Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting (BRICS FMCBG).
Dalam forum tersebut, Destry menekankan perlunya menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mencari sumber pertumbuhan baru di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan fragmentasi ekonomi global.
“Indonesia melihat peluang strategis bagi BRICS untuk mengubah berbagai tantangan menjadi resiliensi bersama melalui penguatan kerja sama konkret. Termasuk transaksi mata uang lokal dan konektivitas pembayaran lintas negara, dengan tetap memperhatikan tahapan pembangunan dan prioritas nasional masing-masing negara.” kata Destry dikutip pada Jumat (11/9).
BI dan India Bahas Transaksi Mata Uang Lokal
Di sela rangkaian pertemuan BRICS FMCBG yang digelar di Mumbai, India, Destry juga bertemu secara bilateral dengan Gubernur Reserve Bank of India (RBI) Sanjay Malhotra.
Pertemuan tersebut membahas sejumlah agenda kerja sama Indonesia dan India. Di antaranya percepatan local currency transaction (LCT), local currency bilateral swap arrangement (LCBSA), serta pengembangan konektivitas pembayaran menggunakan QR antarnegara.
Bank Indonesia menilai berbagai kerja sama tersebut penting untuk menerjemahkan komitmen BRICS menjadi konektivitas ekonomi dan keuangan yang memberikan manfaat nyata bagi Indonesia dan India.
Negara BRICS Sepakati Penguatan Ekonomi
Pertemuan kedua BRICS FMCBG berlangsung pada Rabu (9/9) hingga Kamis (10/9). Indonesia dalam forum tersebut diwakili Wakil Menteri Keuangan RI Juda Agung.
Forum tersebut mempertemukan pimpinan bank sentral dan kementerian keuangan dari negara anggota BRICS. Negara yang hadir meliputi Indonesia, Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Mesir, Uni Emirat Arab, Ethiopia, dan Iran.
Dalam pertemuan itu, negara-negara anggota menyepakati penguatan kerja sama ekonomi dan keuangan untuk meningkatkan ketahanan bersama dalam menghadapi berbagai tekanan ekonomi global.
Sejumlah isu strategis menjadi pembahasan, antara lain penguatan resiliensi dan pertumbuhan ekonomi, transformasi digital dan kecerdasan artifisial (AI), konektivitas pembayaran lintas negara, pemanfaatan mata uang lokal, ketahanan siber, serta pembiayaan berkelanjutan.
Selain itu, BRICS menilai penguatan arsitektur keuangan global perlu terus didorong. Salah satunya melalui reformasi tata kelola Dana Moneter Internasional (IMF) agar suara dan representasi negara-negara berkembang semakin kuat.
Indonesia Dorong Kerja Sama yang Saling Melengkapi
Indonesia menilai perbedaan karakteristik dan kondisi setiap negara anggota BRICS seharusnya tidak menjadi hambatan dalam memperkuat kerja sama. Sebaliknya, keberagaman tersebut dapat menjadi modal untuk membangun hubungan yang saling melengkapi dan menciptakan nilai tambah bersama.
Pertemuan kedua BRICS FMCBG kemudian menghasilkan Pernyataan Bersama yang mencerminkan komitmen negara anggota dalam merespons berbagai tantangan ekonomi global.
Ke depan, Indonesia memandang penting untuk tetap membuka ruang dialog dan membangun jembatan kerja sama di tengah meningkatnya fragmentasi global.
Melalui sinergi antara Bank Indonesia dan pemerintah, Indonesia akan terus mengambil bagian dalam agenda kerja sama internasional. Langkah tersebut diarahkan untuk menghasilkan kebijakan konkret yang inklusif, sekaligus tetap sesuai dengan kepentingan dan prioritas nasional.
Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan ekonomi dan sistem keuangan Indonesia di tengah dinamika ekonomi global.

