katafoto, Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan proses impor minyak mentah atau crude oil dari Rusia tahap kedua sudah mulai berjalan. Menurut Bahlil, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus melakukan diversifikasi sumber pasokan minyak mentah Indonesia.
Impor minyak mentah dari Rusia dilakukan berdasarkan kesepakatan antarpemerintah. Setelah tahap pertama terealisasi, pengadaan berikutnya dilakukan secara bertahap.
“Sudah, sudah, sudah mulai jalan ya,” kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (11/9).
Bahlil menjelaskan, kerja sama pengadaan crude oil dari Rusia merupakan salah satu hasil dari kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke negara tersebut beberapa waktu lalu.
Menurut dia, pemerintah harus terbuka terhadap berbagai sumber pasokan minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.
“Kita sekarang ini lagi kondisi global kayak begini, kita mencari skala prioritas mana yang duluan bisa mendatangkan crude kita. Selama tidak menabrak aturan dan secara ekonomis masuk,” ujar dia.
Bahlil menilai kondisi global yang penuh ketidakpastian membuat Indonesia perlu mengambil keputusan berdasarkan kepentingan nasional. Karena itu, pemerintah tidak ingin terlalu membatasi pilihan sumber minyak selama pengadaannya sesuai aturan dan memberikan manfaat secara ekonomi.
“Bayangkan, orang dunia lagi susah, kita masih pilih-pilih. Saya lebih mementingkan kepentingan rakyat daripada kepentingan lain. Apalagi kedaulatan bangsa kita tidak boleh diintervensi oleh siapapun. Karena kita menganut mazhab politik bebas aktif,” sambung Bahlil.
Pemerintah Siapkan Kontrak Jangka Panjang
Sebelumnya, Bahlil mengungkapkan pemerintah tengah menyiapkan kontrak pembelian minyak mentah dari Rusia dalam jangka panjang.
Ia memastikan proses pengadaan minyak tersebut dilakukan oleh negara, bukan semata-mata melalui perusahaan tertentu.
Bahlil sebelumnya menyebut pembelian tahap pertama telah berhasil direalisasikan. Sementara itu, tahap kedua sedang berjalan dan pemerintah mulai mempersiapkan kerja sama untuk kebutuhan jangka panjang.
“Tahap pertama sudah. Tahap dua lagi berjalan. Nanti kita bikin kontrak jangka panjang kok,” kata Bahlil usai pelantikan di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2026.
Dia menegaskan bahwa pemerintah mengambil peran langsung dalam proses pengadaan minyak mentah tersebut. Impor dilakukan oleh Lemigas di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Kementerian ESDM.
“Ingat ya, yang melakukan pengadaan itu bukan Pertamina ya, negara. Jadi, negara enggak boleh diintervensi oleh negara lain, ya. Ini negara. Jadi, jangan dipleset-plesetin, yang melakukan impor adalah negara,” tegas dia.
Pemerintah Tentukan Penyaluran Minyak
Setelah minyak mentah tiba di Indonesia, pemerintah akan menentukan penggunaannya sesuai dengan kebutuhan nasional.
Bahlil mengatakan, keputusan mengenai penyaluran minyak tersebut sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah. Prioritasnya adalah menjaga ketahanan energi sekaligus memastikan manfaatnya kembali kepada masyarakat.
“Setelah negara ambil, baru negara mau siapkan untuk ke mana untuk kepentingan rakyat, bangsa, dan negara, itu urusan negara lah, dan negara kita ini kan menganut asas bebas aktif,” kata dia.
Bahlil juga menekankan bahwa kebijakan pengadaan minyak tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga independensi Indonesia dalam menentukan kebijakan energi.
“Kita tidak mendikte negara lain, tapi negara lain juga tidak boleh mendikte kita, ya. Independensi negara kita harus kita jaga sebagai bagian daripada pengabdian kita kepada Ibu Pertiwi,” imbuh Bahlil.

