Jakarta – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, memaparkan berbagai inovasi hasil penelitian lembaganya saat bertemu Presiden Prabowo Subianto bersama 150 periset BRIN pada Kamis (6/8). Salah satu inovasi yang menjadi perhatian adalah kapal nelayan bertenaga listrik yang diklaim mampu menekan biaya operasional secara signifikan.
Arif menjelaskan, BRIN telah mengembangkan berbagai teknologi untuk mendukung kemajuan kampung nelayan, mulai dari armada penangkapan ikan, sistem budidaya, hingga pengolahan hasil perikanan. Kapal nelayan berpenggerak listrik menjadi salah satu inovasi yang dinilai berpotensi meningkatkan efisiensi biaya.
“Berdasarkan hasil pengembangan BRIN berpotensi mengurangi biaya operasional energi hingga 70% dibandingkan menggunakan BBM,” ujar Arif.
Selain armada penangkapan, BRIN juga mengembangkan teknologi budidaya, penyimpanan, pengeringan, hingga pengolahan hasil perikanan. Menurut Arif, inovasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk sehingga manfaat ekonomi tidak hanya diperoleh saat proses penangkapan di laut, tetapi juga berlanjut pada tahap pengolahan.
Di sektor Program Makan Bergizi Gratis (MBG), BRIN mengembangkan teknologi yang mencakup seluruh rantai pasok, mulai dari penyediaan bahan pangan, mesin pengolah, kemasan, deteksi halal, sistem distribusi, hingga pemantauan berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
“Salah satu contohnya adalah food guard, perangkat yang ditempatkan pada ompreng untuk mendeteksi gas pembusukan dengan menggunakan multi-sensor dan model AI,” tuturnya.
Sementara di bidang mineral kritis, BRIN membangun kemampuan teknologi mulai dari identifikasi sumber daya, proses ekstraksi, pemisahan, hingga pemurnian. Arif menyebut unit pengolahan yang dikembangkan dirancang memiliki kapasitas minimal 1.000 ton bahan baku per tahun dengan potensi peningkatan nilai tambah hingga 40 kali lipat.
“Jadi yang sedang kita kejar bukan sekadar menambang, tetapi menguasai tahapan yang menentukan nilai strategis dan ekonominya,” tutur dia.
Dalam bidang penyediaan air bersih, BRIN telah mengembangkan Arsinum Mobile yang mampu menghasilkan 5.000 hingga 20.000 liter air siap minum setiap hari. Teknologi tersebut telah dimanfaatkan untuk mendukung penanganan bencana di berbagai daerah.
“Begitu pula teknologi desalinasi BRIN juga telah dilisensikan kepada industri dan diterapkan di lebih 40 lokasi pulau kecil dan di berbagai tempat yang ada,” kata Arif.
BRIN juga mengembangkan inovasi di sektor perumahan melalui pemanfaatan material lokal untuk membuat genteng, panel bangunan, serta sistem rumah modular interlock yang dapat dirakit lebih cepat dibandingkan metode konstruksi konvensional.
“Salah satu desain dalam material dalam produk BRIN ditargetkan dapat dibangun 14 hari dan siap huni dalam 30 hari,” katanya.
Arif menegaskan, inovasi yang dikembangkan BRIN tidak sebatas menghasilkan material bangunan. Menurutnya, lembaga tersebut juga membangun sistem konstruksi yang lebih cepat, terstandar, ramah lingkungan, serta dapat diproduksi secara massal oleh industri nasional.

