Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Kepulauan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain menangani korban luka, pemerintah juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi munculnya penyakit di lokasi pengungsian.
Hingga 25 Agustus 2026, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi penyakit yang paling banyak ditemukan di wilayah terdampak dengan 9.668 kasus.
Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Agus Jamaludin, mengatakan pemantauan dan pelayanan kesehatan terus ditingkatkan untuk mencegah munculnya masalah kesehatan baru selama masyarakat berada di pengungsian.
“Data Kemenkes menunjukkan, dampak gempa tersebar di tujuh kabupaten, yakni Manggarai, Sikka, Nagekeo, Manggarai Barat, Ende, Ngada, dan Manggarai Timur. Gempa tersebut menyebabkan 105 orang meninggal dunia, 1.287 orang mengalami luka ringan, serta 385 orang mengalami luka berat dan membutuhkan perawatan inap,” papar Agus dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (26/8).
Lebih dari 185.000 warga saat ini masih mengungsi di 44 lokasi yang tersebar di daerah terdampak. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kepadatan pengungsi serta paparan debu dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama yang berkaitan dengan sistem pernapasan.
ISPA Jadi Penyakit Terbanyak
Berdasarkan laporan Health Emergency Operation Center (HEOC) untuk periode 15-25 Agustus 2026, ISPA atau batuk menempati urutan pertama dengan 9.668 kasus.
Di bawahnya terdapat hipertensi sebanyak 4.686 kasus, myalgia 1.017 kasus, trauma 662 kasus, serta diare atau gastroenteritis akut (GEA) sebanyak 627 kasus.
Selain itu, tercatat 571 kasus gastritis, 487 kasus dispepsia, 392 kasus diabetes, 347 kasus penyakit kulit, dan 283 kasus low back pain.
Petugas kesehatan juga menemukan 35 kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) di Kabupaten Nagekeo, Ngada, dan Manggarai Timur. Seluruh korban telah mendapatkan vaksin untuk mencegah rabies.
“Seluruh korban telah mendapatkan vaksinasi,” jelasnya.
Rumah Sakit Lapangan Dibangun
Kerusakan sejumlah fasilitas kesehatan akibat gempa turut menjadi tantangan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Di Kabupaten Nagekeo, rumah sakit yang mengalami keretakan dinilai tidak lagi aman digunakan untuk pasien maupun tenaga kesehatan.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Kemenkes mendirikan Rumah Sakit Lapangan di Aeronamo, Nagekeo. Fasilitas darurat berbasis tenda tersebut disiapkan untuk memastikan pelayanan medis tetap berjalan dengan aman.
Penguatan layanan juga dilakukan di RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai. Hingga 25 Agustus 2026 pukul 16.00 WITA, sebanyak delapan tindakan operasi telah dilakukan di Rumah Sakit Lapangan Aeronamo. Sementara lima operasi lainnya ditangani di Kabupaten Manggarai Timur.
Upaya tersebut dilakukan agar masyarakat yang membutuhkan pelayanan lanjutan dari puskesmas dapat segera memperoleh perawatan. Hal ini termasuk warga di wilayah terpencil yang menghadapi kendala akses akibat kondisi geografis.
Ratusan Relawan Dikerahkan
Selama masa tanggap dan pemulihan, Kemenkes menerapkan koordinasi berbasis pentahelix dengan melibatkan organisasi profesi, lembaga swadaya masyarakat, sektor swasta, pemerintah daerah, serta kalangan akademisi.
Koordinasi respons kesehatan dilakukan melalui HEOC yang beroperasi di tingkat Provinsi NTT di Kupang dan di tujuh kabupaten yang terdampak gempa. Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes turut memberikan pendampingan untuk memastikan respons kesehatan berjalan sesuai kebutuhan di lapangan.
Sebanyak 207 relawan medis telah dikirim ke wilayah terdampak. Dari jumlah tersebut, 122 orang diberangkatkan langsung dari Jakarta. Sebanyak 78 relawan tambahan juga dikerahkan untuk memperkuat pelayanan kesehatan di tujuh titik bencana.
“Ratusan tenaga kesehatan tersebut disiapkan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan di puskesmas hingga rumah sakit lapangan selama masa penanganan,” ungkapnya.

