Jakarta – Percepatan pemulihan pascabanjir di Sumatra menempatkan pembangunan hunian sebagai prioritas, dengan kebutuhan akan proses yang cepat, kuat, dan efisien. Secara bertahap, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) mengirimkan 36.000 bata interlock presisi untuk pembangunan hunian tetap (huntap) bagi warga terdampak bencana hidrometeorologi di Kampung Talang, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatra Barat.
Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, menyampaikan bahwa dalam kondisi pascabencana, masyarakat memerlukan tempat tinggal yang aman dan layak huni dalam waktu singkat. Bata interlock presisi dinilai sebagai solusi konstruksi yang akurat, kokoh, serta mampu mempercepat pembangunan huntap.
“Ini adalah bentuk nyata peran SIG dalam mendukung pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat yang terdampak,” ujar Vita Mahreyni dikutip dalam keterangan tertulis, Senin (23/2)
Pengiriman perdana dilepas langsung oleh Direktur Utama SIG, Indrieffouny Indra, bersama Komisaris Utama SIG, Sigit Widyawan, didampingi jajaran Dewan Komisaris dan Direksi SIG serta manajemen PT Semen Padang, di kawasan Pabrik Indarung PT Semen Padang, Sumatra Barat, Kamis (12/2).

Bata interlock presisi merupakan produk turunan yang dikembangkan SIG untuk kawasan permukiman berkelanjutan dan ramah lingkungan. Pembangunan huntap dengan teknologi ini telah dimulai melalui kolaborasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumatra Barat bersama Kadin Indonesia di Kampung Talang, Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang, sebagai lokasi awal penerapan bagi korban bencana.
SIG memastikan ketersediaan bata interlock presisi yang diproduksi PT Semen Padang dalam jumlah mencukupi untuk mendukung program tersebut. Untuk rumah tipe 36, kapasitas produksi mampu menopang pembangunan hingga 120 unit huntap per bulan, dengan potensi distribusi tak hanya di Sumatra Barat, tetapi juga menjangkau Sumatra Utara dan Aceh.
Sebelumnya, bata interlock presisi telah digunakan dalam sejumlah proyek percontohan, termasuk pembangunan rumah tipe 36 di kawasan strategis nasional Ibu Kota Nusantara (IKN), serta rumah tipe 36 dan tipe 57 di Bambu Apus, Jakarta Timur. Hasilnya menunjukkan efisiensi waktu konstruksi dan mutu bangunan yang optimal.
Vita Mahreyni menegaskan bahwa komitmen SIG tidak hanya pada aspek bisnis, tetapi juga sosial dan lingkungan sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
“Inovasi semen hijau SIG lebih rendah emisi karbon hingga 38% dibandingkan semen konvensional, serta memiliki tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) tinggi, lebih dari 90%. Sehingga dengan menggunakan semen hijau SIG, berarti ikut berpartisipasi dalam upaya menurunkan emisi untuk menjaga kelestarian lingkungan dan di sisi lain mendukung kemajuan industri dalam negeri,” kata Vita Mahreyni.

