Jakarta – Program pengiriman dai ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) terus menunjukkan peningkatan signifikan setiap tahunnya. Jika pada masa awal pelaksanaan jumlah dai yang diberangkatkan masih belasan orang, kini jumlahnya telah mencapai ribuan dai yang tersebar di berbagai daerah pelosok Indonesia.
Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, mengatakan realisasi pengiriman dai tahun ini bahkan melampaui target yang telah ditetapkan pemerintah.
“Tahun ini jumlah dai yang kita kirim melampaui target. Dari target 1.500 dai, alhamdulillah terealisasi sebanyak 2.199 dai yang dikirim ke wilayah 3T,” kata Muchlis saat memberikan sambutan dalam Apresiasi Mitra Program Dai Wilayah 3T yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam di Kemenag Jakarta, Rabu (13/5).
Menurut Muchlis, program pengiriman dai ke wilayah 3T merupakan langkah strategis untuk memperkuat pemahaman keagamaan masyarakat, menanamkan nilai toleransi, sekaligus mempererat kehidupan sosial di daerah terpencil.
Ia menegaskan dakwah tidak boleh hanya terpusat di kawasan perkotaan, tetapi harus mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat hingga pelosok negeri.

“Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan dakwah yang inklusif dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Ini bukan hanya tugas negara, tetapi tugas kita bersama sebagai umat,” lanjutnya.
Sebagian besar masyarakat di daerah terpencil yang belum mampu membaca Al-Qur’an maupun memahami praktik ibadah secara baik. Karena itu, program pengiriman dai akan terus diperkuat pada masa mendatang.
Selain memperkuat pemahaman keagamaan, ia menilai dakwah juga memiliki peran penting dalam menjawab berbagai persoalan sosial di masyarakat, mulai dari ketahanan keluarga, kemiskinan, hingga persoalan pemborosan makanan.
“Di satu sisi ada jutaan ton makanan terbuang setiap tahun, sementara di sisi lain masih banyak masyarakat yang kesulitan makan. Ini menjadi tugas dakwah kita untuk mengedukasi masyarakat tentang etika konsumsi dalam Islam,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Waryono, mengatakan sinergi antara pemerintah, BAZNAS, dan berbagai lembaga amil zakat (LAZ) terus diperkuat dalam program pemberdayaan umat, termasuk pengiriman dai ke wilayah 3T.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh lembaga yang telah mengirimkan dai dan mendukung program ini. Dukungan tersebut tidak hanya diberikan kepada Bimas Islam, tetapi juga kepada sektor pendidikan Islam melalui program beasiswa dan penguatan sumber daya manusia,” ujar Waryono.
Menurutnya, peran lembaga zakat dan filantropi kini semakin penting, terutama untuk membantu masyarakat di wilayah terpencil yang masih menghadapi keterbatasan akses layanan dasar, termasuk layanan kesehatan.

