Jakarta – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tengah mengembangkan sistem peringatan dini kualitas udara atau Early Warning System (EWS) guna membantu masyarakat mengantisipasi dampak pencemaran udara terhadap kesehatan.
Melalui sistem tersebut, warga Jakarta nantinya dapat mengetahui prakiraan kualitas udara hingga tiga hari ke depan. Informasi ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi masyarakat untuk mengambil langkah pencegahan lebih awal ketika kondisi udara diperkirakan memburuk.
Pengembangan sistem prakiraan kualitas udara itu dilakukan BMKG dengan memanfaatkan teknologi pemodelan spasial bernama SILAM Urban. Teknologi ini mampu memetakan tingkat polusi udara secara detail hingga radius satu kilometer dan mencakup seluruh 44 kecamatan di Jakarta.
Koordinator Sub Bidang Informatif Gas Rumah Kaca BMKG, Albert C Nahas, menjelaskan SILAM Urban dikembangkan menggunakan berbagai data inventarisasi emisi lokal, mulai dari sumber emisi sektoral hingga jenis polutan yang dihasilkan.
“Informasi yang dihasilkan mencakup enam jenis polutan utama, termasuk PM2.5. Melalui SILAM Urban, masyarakat dapat melihat peta kualitas udara per kecamatan di Jakarta, tren ISPU hingga tiga hari ke depan, kondisi meteorologi, peringkat kecamatan berdasarkan kualitas udara, hingga grafik konsentrasi polutan yang memudahkan pemantauan kualitas udara sehari-hari,” ujar Albert dikutip dari laman berita jakarta, Jumat (5/6).
Menurut Albert, dukungan data yang komprehensif tersebut memungkinkan sistem menghasilkan prakiraan kualitas udara yang lebih akurat dan spesifik sesuai kondisi di setiap wilayah Jakarta.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, mengatakan pengembangan EWS kualitas udara merupakan bagian dari strategi pemerintah daerah untuk memperkuat pengendalian pencemaran udara sekaligus meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat.
Ia menilai sistem ini akan menjadi instrumen penting dalam upaya mitigasi karena mampu memberikan gambaran kondisi kualitas udara beberapa hari sebelum terjadi.
“EWS kualitas udara ini kami siapkan sebagai instrumen pencegahan. Dengan mengetahui potensi kondisi kualitas udara beberapa hari ke depan, pemerintah dapat memperkuat langkah mitigasi yang diperlukan, sementara masyarakat memiliki waktu untuk menyesuaikan aktivitas dan melakukan langkah perlindungan diri sejak dini,” jelas Dudi.
Menurutnya, informasi prakiraan kualitas udara akan sangat membantu kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.
Dengan adanya informasi tersebut, masyarakat dapat mengambil langkah antisipatif lebih awal, misalnya menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan atau mengurangi aktivitas luar ruang ketika kualitas udara diperkirakan berada pada kondisi tidak sehat.
“Kolaborasi Pemprov DKI Jakarta dan BMKG ini diharapkan menghadirkan sistem informasi kualitas udara yang lebih akurat, prediktif, dan mudah diakses masyarakat, sehingga warga memiliki perlindungan yang lebih baik terhadap risiko pencemaran udara,” tandas Dudi.

