Jakarta – Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, memastikan beban keuangan yang masih ditanggung PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan PT Wijaya Karya (Persero) atau WIKA terkait proyek PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) akan diselesaikan secara bertahap. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya penataan dan perbaikan tata kelola badan usaha milik negara (BUMN).
Dony menjelaskan, persoalan yang dihadapi KAI dan WIKA merupakan masalah yang telah ada sebelum Danantara dibentuk. Karena itu, penyelesaiannya dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan banyaknya persoalan yang masih harus dibenahi di lingkungan BUMN.
“Kami yang sekarang ini sebenarnya sedang menyelesaikan problem-problem yang ada. Problem-problem ini kan sudah ada sebelumnya. Dengan dimensi yang luar biasa besarnya kan. Nah tentu energinya juga terbatas, satu-satu harus diberesin, ini belum selesai,” ujar Dony di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (31/7).
Ia menegaskan, Danantara tidak hanya berfokus menangani persoalan yang dihadapi KAI dan WIKA, tetapi juga berbagai masalah di sejumlah BUMN lain yang memerlukan penanganan secara bertahap.
Menurut Dony, berbagai persoalan tersebut merupakan warisan yang kini harus diselesaikan dengan mempertimbangkan keterbatasan waktu dan sumber daya.
“Satu-satu harus diberesin. Ini belum selesai, masih banyak. Tentu kemarin juga lihat Pos (PT Pos), masih punya problem. Kemarin problem Adhi Properti. Itu masih satu-satu diberesin. Itu kan peninggalan-peninggalan yang harus dibereskan pada saat ini,” katanya.
Menanggapi beban keuangan yang masih membebani WIKA akibat keterlibatannya dalam proyek KCIC, Dony mengakui kondisi tersebut masih menjadi tantangan bagi perusahaan konstruksi pelat merah tersebut.
Meski demikian, ia memastikan pemerintah tidak akan membiarkan persoalan itu berlarut-larut. Danantara, kata dia, berkomitmen menyelesaikan berbagai permasalahan secara bertahap agar kondisi keuangan dan tata kelola perusahaan menjadi lebih sehat.
“Ini menjadi beban buat mereka, tapi kan pada akhirnya harus kita selesaikan, enggak mungkin kita diamkan. Jadi saya hanya berupaya menyelesaikan satu per satu. Bagaimana kemudian ini semuanya menjadi proper dan benar,” pungkas Dony.

