30.4 C
Jakarta
Senin, Agustus 17, 2026
BerandaKATA EKBISEKONOMI dan KINERJASarjana Makin Sulit Cari Kerja? Lulusan 5 Jurusan Ini Sumbang Pengangguran Terbesar

Sarjana Makin Sulit Cari Kerja? Lulusan 5 Jurusan Ini Sumbang Pengangguran Terbesar

Jakarta – Lulusan perguruan tinggi kini menghadapi persaingan yang semakin ketat untuk memasuki pasar kerja. Tidak hanya angka pengangguran dari kelompok berpendidikan tinggi yang kembali meningkat, sejumlah bidang studi juga tercatat menyumbang porsi cukup besar terhadap jumlah pengangguran lulusan sarjana.

Temuan tersebut tercatat dalam Labor Market Brief Volume 7 Nomor 7 Juli 2026 yang diterbitkan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI).

Dalam laporan itu, lulusan Manajemen menjadi kelompok dengan proporsi terbesar di antara penganggur yang memiliki pendidikan minimal S1. Kontribusinya mencapai 10,3 persen dari total penganggur berpendidikan minimal S1.

Posisi berikutnya ditempati lulusan Hukum sebesar 9,0 persen, Ekonomi 8,7 persen, Pendidikan 7,1 persen, dan Akuntansi 5,1 persen.

Jika digabungkan, kelima bidang studi tersebut menyumbang sekitar 40 persen dari keseluruhan penganggur dengan pendidikan minimal S1.

Jurusan Populer Justru Hadapi Persaingan Ketat

Tingginya jumlah penganggur dari lima bidang studi tersebut menjadi perhatian. Sebab, jurusan-jurusan itu umumnya memiliki cakupan keahlian yang luas dan menawarkan pilihan pekerjaan yang beragam.

LPEM FEB UI menjelaskan, Manajemen mencakup berbagai kompetensi, mulai dari pengelolaan organisasi, keuangan, pemasaran, sumber daya manusia, hingga aset dan industri. Program studi tersebut juga tersedia di banyak perguruan tinggi dan memiliki jumlah mahasiswa yang relatif besar.

“Keberhasilan perluasan pendidikan tinggi tidak cukup diukur dari bertambahnya jumlah kampus atau lulusan, tetapi juga dari kemampuan pasar kerja menyediakan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi mereka,” tulis LPEM FEB UI dalam Labor Market Brief Juli 2026.

Besarnya jumlah lulusan Manajemen yang belum bekerja, menurut laporan tersebut, tidak otomatis berarti prospek pekerjaan jurusan itu buruk. Kondisi tersebut juga dapat dipengaruhi oleh banyaknya lulusan yang masuk ke pasar kerja sehingga persaingan untuk mendapatkan posisi yang tersedia semakin tinggi.

Lulusan dari rumpun bisnis juga tidak hanya bersaing dengan sesama sarjana Manajemen. Mereka harus berkompetisi dengan lulusan Ekonomi, Hukum, Komunikasi, hingga berbagai disiplin ilmu sosial lainnya untuk mendapatkan pekerjaan pada posisi awal yang bersifat umum.

Dengan pilihan karier yang luas, lulusan Manajemen memang memiliki banyak alternatif pekerjaan. Namun, kondisi itu tidak serta-merta membuat proses mendapatkan pekerjaan menjadi lebih mudah. Ketika semakin banyak pencari kerja membidik posisi yang sama, persaingan otomatis menjadi lebih ketat.

Lulusan Hukum dan Ekonomi Juga Hadapi Tantangan

Situasi serupa terjadi pada lulusan Hukum dan Ekonomi. Kedua bidang studi tersebut memiliki jalur karier yang cukup jelas, tetapi tidak seluruh lulusannya bekerja pada posisi yang secara langsung berkaitan dengan pendidikan yang ditempuh.

Sebagian lulusan akhirnya masuk ke sektor pekerjaan yang lebih umum. Pilihannya antara lain perusahaan, perbankan, pemerintahan, administrasi, konsultasi, hingga berbagai layanan profesional.

Persoalan ketenagakerjaan lulusan perguruan tinggi pun tidak hanya terlihat dari bidang studi yang memiliki jumlah penganggur terbesar. Secara keseluruhan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) masyarakat dengan pendidikan minimal S1 juga kembali menunjukkan tren kenaikan setelah 2022.

Berdasarkan catatan LPEM FEB UI, TPT kelompok berpendidikan minimal S1 sempat turun dari 5,98 persen pada 2021 menjadi 4,80 persen pada 2022.

Namun, angka tersebut kemudian kembali meningkat. Pada 2023, TPT tercatat 5,18 persen, naik menjadi 5,25 persen pada 2024, dan mencapai 5,39 persen pada 2025.

Dengan demikian, tingkat pengangguran kelompok berpendidikan tinggi mengalami peningkatan selama tiga tahun berturut-turut setelah 2022. Meski belum menunjukkan kondisi krisis pengangguran sarjana, tren tersebut dinilai perlu menjadi perhatian.

LPEM FEB UI menyebut peningkatan pengangguran lulusan perguruan tinggi dapat dipengaruhi sejumlah faktor. Di antaranya pertumbuhan jumlah lulusan, waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan, ekspektasi terhadap jenis pekerjaan dan tingkat upah, serta ketidaksesuaian antara bidang studi yang ditempuh dengan kebutuhan dan lowongan di pasar kerja.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan jumlah lulusan perguruan tinggi perlu diikuti dengan ketersediaan lapangan kerja yang sesuai dengan kompetensi. Dengan begitu, perluasan akses pendidikan tinggi dapat benar-benar diiringi peningkatan kesempatan kerja bagi para lulusannya.

Baca Juga

Victory Jump Kopassus Meriahkan HUT RI ke-81, 17 Penerjun Tampilkan Aksi Spektakuler

Jakarta - Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan...

Fadli Zon Siapkan Situs Bersejarah Bogor Jadi Cagar Budaya Nasional, Ini Daftarnya

Bogor - Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) menyiapkan sejumlah situs bersejarah...

Tak Perlu Keliling Indonesia, 40 Kuliner Legendaris Hadir di Mal Ciputra Jakarta

Jakarta - Mal Ciputra Jakarta kembali menghadirkan festival kuliner...

Perpres Ojol Hampir Rampung, Benarkah Setelah Itu Kena Pajak?

Jakarta - Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi memastikan aturan...

Prabowo Ungkap Kekurangan Dokter: 55.712 Spesialis dan 127.580 Dokter Gigi Masih Dibutuhkan

Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa kekurangan tenaga...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini