Jakarta – Kebakaran yang melanda Desa Adat Sade, Nusa Tenggara Barat (NTB), tidak hanya merusak bangunan dan fasilitas wisata, tetapi juga berdampak terhadap mata pencaharian masyarakat setempat. Total kerugian akibat peristiwa tersebut diperkirakan mencapai Rp33,84 miliar.
Pemerintah kini menyiapkan sejumlah langkah pemulihan untuk membantu mengembalikan aktivitas masyarakat sekaligus memulihkan kondisi Desa Sade sebagai salah satu destinasi wisata budaya di NTB.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, pemerintah telah menerima laporan mengenai nilai kerugian akibat kebakaran. Koordinasi dengan pemerintah daerah juga dilakukan untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.
“Kami telah mendapat laporan total kerugian ada Rp 33,84 miliar dan kami telah melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah,” kata Widiyanti, Senin (31/8).
Puluhan Rumah dan Bangunan Tradisional Rusak
Kebakaran mengakibatkan kerusakan pada puluhan bangunan di kawasan Desa Adat Sade. Berdasarkan laporan yang diterima Kementerian Pariwisata, sebanyak 75 unit hunian terdampak.
Kerusakan juga terjadi pada 20 bangunan di luar kawasan desa yang turut terdampak kobaran api.
Sejumlah bangunan tradisional khas masyarakat Suku Sasak juga tidak luput dari kebakaran. Sebanyak empat unit Berugak Sekenam, enam unit Berugak Sakepat, dan satu Bale Beleq mengalami dampak.
Berugak merupakan salah satu bangunan tradisional yang menjadi bagian dari kehidupan dan identitas budaya masyarakat Sasak di Lombok.
Selain bangunan hunian dan tradisional, sejumlah fasilitas pendukung aktivitas masyarakat serta wisatawan juga mengalami kerusakan.
Fasilitas yang terdampak meliputi delapan lumbung padi, satu toilet umum, satu gerbang, satu pelonggu, dan satu masjid adat.
Kerusakan paling banyak tercatat pada sektor usaha masyarakat. Sebanyak 69 toko kerajinan atau art shop milik pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat turut terdampak kebakaran.
320 Pelaku Pariwisata Kehilangan Mata Pencaharian
Dampak kebakaran tidak berhenti pada kerusakan fisik. Aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor pariwisata di Desa Sade juga ikut terganggu.
Sebanyak 320 pelaku pariwisata atau 189 kepala keluarga tercatat terdampak akibat kebakaran.
Mereka terdiri atas berbagai kelompok yang selama ini terlibat langsung dalam kegiatan wisata. Di antaranya 75 pemandu lokal, 120 perajin tenun, 60 penjual suvenir dan pelaku UMKM, serta 30 penari dan pemain gendang beleq.
Selain itu, terdapat 15 pengelola parkir dan keamanan serta 20 anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang turut merasakan dampak kebakaran.
“Sehingga total pelaku pariwisata ada 320 orang yang terdampak atau 189 kepala keluarga,” ujar Widiyanti.
Pemerintah bersama pemerintah daerah kini perlu memastikan proses pemulihan tidak hanya menyasar pembangunan kembali fasilitas yang rusak, tetapi juga membantu masyarakat kembali menjalankan aktivitas ekonomi dan pariwisata.
Pemulihan Desa Adat Sade menjadi penting mengingat kawasan tersebut tidak hanya memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga menyimpan kekayaan budaya dan tradisi masyarakat Sasak yang menjadi daya tarik wisata NTB.

