Jakarta – Takbir Idulfitri 1447 Hijriah yang melibatkan negara-negara anggota MABIMS—Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura—bergema dari Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (20/3). Kumandang takbir dilakukan secara bergantian melalui sambungan virtual, mencerminkan kebersamaan umat Islam di Asia Tenggara dalam menyambut hari raya.
Momen ini terasa semakin istimewa karena seluruh negara anggota MABIMS menetapkan 1 Syawal 1447 H secara serentak pada Sabtu, 21 Maret 2026. Kesamaan penetapan tersebut memperkuat semangat persatuan sekaligus menjadi simbol harmoni dalam merayakan Idulfitri di kawasan.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, menyampaikan bahwa Idulfitri menghadirkan perasaan yang mendalam bagi umat Islam, yakni antara rasa haru meninggalkan Ramadan dan kebahagiaan menyambut kemenangan.
“Pada malam ini kita memasuki 1 Syawal 1447 Hijriah dengan perasaan yang campur aduk. Ada kesedihan karena berpisah dengan Ramadan, namun juga kebahagiaan karena kita merayakan kemenangan setelah menjalankan ibadah,” ujar Abu Rokhad.
Ia menjelaskan, Ramadan menjadi momentum pembinaan spiritual yang sarat makna. Umat Islam tidak hanya menjalankan ibadah puasa, tetapi juga meningkatkan amalan sunah yang memperkuat nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, capaian selama Ramadan menjadi bekal penting untuk menjaga kualitas diri serta memperkuat ketahanan spiritual dan sosial setelah bulan suci berakhir.
“Alhamdulillah, selama Ramadan kita dapat melaksanakan ibadah puasa dan berbagai amalan lainnya dengan baik. Semoga seluruh amal ibadah kita diterima Allah dan mengantarkan kita pada kemenangan yang sejati,” katanya.
Abu Rokhmad juga menuturkan bahwa Direktorat Jenderal Bimas Islam telah melaksanakan berbagai kegiatan sepanjang Ramadan yang ditujukan untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ia menyebut, tingginya intensitas kegiatan merupakan wujud komitmen dalam pelayanan keagamaan sekaligus menghadirkan program yang berdampak luas.
“Kami merasakan betul bagaimana Ramadan diisi dengan berbagai kegiatan yang intens. Bahkan terasa seolah waktu 30 hari belum cukup untuk menampung seluruh program yang dirancang,” ungkapnya.
Dalam konteks itu, Gema Takbir lintas negara bersama MABIMS menjadi salah satu langkah untuk memperluas syiar Islam sekaligus mempererat kebersamaan regional.
Abu Rokhmad menilai, keserentakan penetapan Idulfitri di negara-negara MABIMS merupakan momentum penting dalam memperkuat persatuan umat Islam di kawasan Asia Tenggara.
Menurutnya, hal tersebut mencerminkan semakin kuatnya sinergi antarnegara dalam menentukan awal bulan Hijriah, sekaligus mempererat semangat kebersamaan dalam menyambut hari raya.
“Melalui kegiatan Takbir Akbar bersama negara-negara MABIMS ini, kita berharap ke depan dapat terus dilakukan penyempurnaan, sehingga syiar Islam dapat terasa lebih luas dan menyatukan umat di kawasan,” ujarnya.
Ia menambahkan, partisipasi negara-negara sahabat dalam Gema Takbir ini menjadi langkah awal yang positif dalam membangun tradisi bersama menyambut Idulfitri, termasuk melalui siaran lintas negara yang menjangkau masyarakat lebih luas.
“Semangat Ramadan yang telah kita jalani, disiplin dalam beribadah, kesabaran, dan kepedulian, hendaknya terus kita pelihara sebagai energi untuk memajukan bangsa menuju Indonesia Emas 2045,” tandasnya.

