Purbalingga – Di sebuah ruangan sederhana di Kantor Urusan Agama (KUA) Pengadegan, Purbalingga, Jawa Tengah, sebuah prosesi akad nikah berlangsung dengan nuansa berbeda. Ucapan ijab kabul tidak hanya disampaikan dalam satu bahasa, tetapi mengalir bergantian dalam tiga bahasa sekaligus: Indonesia, Inggris, dan Arab.
Pada Jumat (27/3), Gursewak Singh (29), pemuda asal Punjab, India, duduk berdampingan dengan Iin Ambarwati dari Desa Tegalpingen. Perbedaan jarak, bahasa, dan latar budaya yang sebelumnya memisahkan, kini dipersatukan oleh tujuan yang sama: membangun kehidupan bersama.
Agar setiap makna dalam akad dapat dipahami dengan baik, Kepala KUA Pengadegan, Saroyo, memandu ijab kabul menggunakan bahasa Inggris. Pilihan tersebut bukan sekadar teknis, melainkan menjadi jembatan pemahaman, karena dalam pernikahan, yang utama bukan hanya diucapkan, tetapi juga dimengerti.
Di sisi lain, khutbah nikah yang disampaikan oleh Faishal Nur Adam dibawakan dalam tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Arab. Hal ini dilakukan agar pesan tentang tanggung jawab, kesetiaan, serta makna pernikahan dapat diterima secara utuh oleh semua yang hadir.
Di tengah penerapan kebijakan work from anywhere (WFA), pelayanan di KUA tetap berjalan optimal. Bahkan, menurut Saroyo, hal tersebut menjadi bagian dari komitmen pelayanan kepada masyarakat.
“Kami memastikan layanan kepada masyarakat tetap berjalan optimal dan prima, termasuk dalam pelayanan pernikahan lintas negara seperti ini,” ujarnya dikutip dari laman kemenag.
Dalam berbagai perubahan sistem kerja, satu hal yang tetap dijaga adalah kehadiran negara dalam momen penting kehidupan warganya.
Bagi Gursewak, pengalaman tersebut memberikan kesan mendalam. Ia merasa terbantu sejak awal hingga akhir proses pernikahan.
“I had a very good experience. All the staff were very helpful… everything went smoothly,” katanya, singkat namun menggambarkan kepuasannya.
Bagi sebagian orang, penggunaan tiga bahasa dalam satu akad mungkin terlihat sebagai detail kecil. Namun di ruangan itu, bahasa menjadi lebih dari sekadar alat komunikasi—ia menjembatani dua individu, dua keluarga, bahkan dua budaya.

