27.5 C
Jakarta
Selasa, April 21, 2026
BerandaKATA GAYA HIDUPKULINERFestival Janda Reni, Kuliner Tradisional Ini Diserbu Pengunjung

Festival Janda Reni, Kuliner Tradisional Ini Diserbu Pengunjung

Banyuwangi – Selain dikenal dengan kekayaan alam dan budayanya, Banyuwangi juga memiliki ragam kuliner khas yang unik, di antaranya Sego Lemeng dan Kopi Uthek. Kedua hidangan ini merupakan warisan kuliner masyarakat Osing dari Desa Banjar, Kecamatan Licin, yang terus dijaga eksistensinya melalui festival bertajuk Janda Reni.

Festival tersebut masuk dalam agenda Banyuwangi Festival 2026. Dalam acara ini, warga setempat menyajikan sego lemeng dan kopi uthek di sepanjang jalan desa, sehingga masyarakat dan wisatawan dapat langsung mencicipi kuliner tradisional tersebut.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menegaskan bahwa tradisi kuliner menjadi bagian penting dari identitas daerah. “Masyarakat Banyuwangi memiliki akar yang kuat pada tradisi, tidak hanya seni dan budaya tapi juga kulinernya. Karena itu pemerintah daerah berkomitmen untuk terus melestarikannya dengan membalutnya menjadi sebuah event menarik yang sekaligus menjadi atraksi wisata,” ujar Bupati Ipuk, Minggu (19/4).

“Terima kasih pada seluruh warga yang terus menguri-uri tradisi lokal hingga bisa terus bisa dinikmati dan dirasakan oleh generasi sekarang dan yang akan datang,” imbuh Ipuk.

Pelaksanaan Festival Janda Reni pada Sabtu malam (18/4) di Desa Banjar dipadati pengunjung yang antusias mencicipi kuliner khas tersebut. Aroma nasi yang dimasak dalam bambu memenuhi udara, terutama di kawasan lereng Gunung Ijen.

Tokoh adat Desa Banjar, Lukman Hakim, menjelaskan asal-usul nama unik festival tersebut. Menurutnya, istilah “Janda Reni” atau “Rondo Reni” memiliki kaitan dengan tradisi pertanian masyarakat setempat.

“Reni yang dimaksud di sini adalah nama dari bunga aren. Lalu Janda atau Rondo tersebut merupakan proses megat atau pemisahan. Jadi Janda Reni atau Rondo Reni ini merupakan proses pemisahan bunga aren,” ungkap Lukman.

Kepala Desa Banjar, Sunandi, menambahkan bahwa sego lemeng dan kopi uthek bukan sekadar makanan dan minuman, tetapi juga sarat makna filosofi kehidupan masyarakat Osing.

“Kopi uthek yang bersanding dengan gula aren mengandung makna pahit manisnya kehidupan, sementara sego lemeng makanan yang menjaga perut tetap kenyang,” ungkap Sunandi menjelaskan makna mendalam di balik hidangan tersebut.

Proses pembuatan sego lemeng sendiri cukup unik dan memerlukan ketelatenan. Nasi yang telah dibumbui dicampur dengan daging ayam atau ikan tuna cincang, kemudian dibungkus daun pisang dan dimasukkan ke dalam bambu muda. Bambu tersebut lalu dibakar menggunakan kayu bakar selama sekitar empat jam hingga matang sempurna, menghasilkan aroma khas yang menggugah selera.

Sajian ini semakin lengkap dengan kehadiran kopi uthek. Cara menikmatinya pun khas: kopi pahit diseruput setelah menggigit gula aren. Saat gigi memecah gula tersebut, muncul bunyi “uthek” yang menjadi asal nama minuman ini.

“Perpaduan rasa gurih sego lemeng yang legit dan sensasi pahit-manis ini menciptakan sensasi yang tak terlupakan di lidah. Keduanya cocok dipadukan,” kata Edy, salah satu wisatawan asal Sidoarjo.

Baca Juga

Ikan Sapu-Sapu Jadi Ancaman Sungai Jakarta, Ini Penyebabnya

Jakarta - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan meningkatkan...

Tak Lagi Nol Persen, Ini Skema Pajak Baru untuk Mobil Listrik

Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri menetapkan aturan...

Saat Industri Melemah, SIG Malah Tumbuh! Ini Kuncinya

Jakarta - PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) mengambil...

Wisata Alam Naik Daun, Jateng Butuh Banyak Pemandu Gunung Profesional

Semarang - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus berupaya memperluas...

Tiba di Bojonegoro, Pemuda asal Baturaja Jalan Kaki Keliling Indonesia

Bojonegoro - Semangat pantang menyerah ditunjukkan oleh seorang pemuda...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini