Jakarta – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mengapresiasi langkah Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dalam memperluas penggunaan Bahasa Indonesia di lingkungan Vatikan melalui kanal pemberitaan Vatican News.
Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, bahkan berharap suatu saat pemimpin Gereja Katolik dunia dapat menyampaikan sapaan resmi menggunakan Bahasa Indonesia.
“Siapa tahu nanti Paus bicara sepatah dua patah kata Bahasa Indonesia. Apa kabar, selamat pagi, terima kasih, misalnya,” ujar Hafidz dikutip dalam keterangan tertulis via InfoPublik, Jumat (8/5).
Pernyataan tersebut disampaikan saat menerima kunjungan Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia(KWI) yang didampingi Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI). Pertemuan itu menjadi tindak lanjut dari penandatanganan nota kesepahaman antara Komisi Komsos KWI dan Dikasteri Komunikasi Vatikan di Vatikan pada 25 Maret 2026.
Hafidz menegaskan, kehadiran Bahasa Indonesia di Vatican News bukan sekadar hasil terjemahan otomatis berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), melainkan bagian dari penguatan posisi Bahasa Indonesia dalam komunikasi global.
“Ini bukan pakai AI, maka isinya dalam Bahasa Indonesia bisa kita baca,” katanya.
Menurut Hafidz, kualitas penerjemahan dan penyampaian informasi mengenai Indonesia kepada masyarakat internasional menjadi hal penting di tengah perkembangan era digital saat ini. Penyebaran Bahasa Indonesia di luar negeri selama ini turut didukung para misionaris dan pengajar yang membawa budaya Indonesia ke berbagai negara.
Namun di sisi lain, Badan Bahasa menyoroti masih rendahnya perhatian masyarakat terhadap penggunaan Bahasa Indonesia di dalam negeri.
“Tidak seperti lambang negara, misalnya bendera diinjak kita marah luar biasa. Tapi bahasa kok kita diam saja? Ini padahal kedaulatan kita,” tegas Hafidz.
Ia menilai penggunaan istilah asing sering kali dianggap lebih bernilai secara ekonomi maupun sosial dibandingkan Bahasa Indonesia.
“Kopi hitam menjadi black coffee atau americano sehingga terasa lebih mahal. Akhirnya kita lebih menghargai hal-hal berbau asing,” ujarnya.
Sementara itu, Iwa Lukmana menjelaskan Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam memperkenalkan identitas bahasa di tingkat internasional.
“Indonesia dikenal sebagai The Biggest Invisible Country, negara terbesar yang tidak terlihat dalam konteks bahasa,” jelasnya.
Menurut Iwa, masih banyak masyarakat dunia yang menganggap Bahasa Indonesia sama dengan Bahasa Melayu. Karena itu, diperlukan strategi diplomasi budaya untuk memperkuat identitas Bahasa Indonesia secara global.
Sebagai bagian dari diplomasi lunak atau soft diplomacy, Badan Bahasa terus memperluas pengajaran Bahasa Indonesia di berbagai negara, salah satunya melalui pembukaan program studi Bahasa Indonesia di Universitas Al Azhar.
“Kami masuk dulu ke Al Azhar supaya dunia Islam lainnya juga melihat,” kata Iwa.
Ia menambahkan, penguatan penggunaan Bahasa Indonesia di dunia internasional menjadi bagian penting dalam meningkatkan posisi Indonesia dalam percaturan global.
Pada kesempatan yang sama, Ganjar Harimansyah mengajak KWI dan komunitas wartawan Katolik untuk ikut memperkaya kosakata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), khususnya istilah yang berkaitan dengan tradisi Katolik. Menurutnya, dari lebih 200 ribu kosakata yang tercatat dalam KBBI, baru sekitar 268 kata yang berkaitan dengan tradisi Katolik.

