30.6 C
Jakarta
Rabu, Mei 13, 2026
BerandaKATA BERITADAERAHLahan Tambang 22 Hektare di Jateng Disulap Jadi Wisata Hijau dan Agroedukasi

Lahan Tambang 22 Hektare di Jateng Disulap Jadi Wisata Hijau dan Agroedukasi

Semarang – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memanfaatkan momentum peringatan Hari Bumi 2026 dengan melakukan reklamasi lahan bekas tambang menjadi kawasan agrowisata dan agroedukasi. Program tersebut dilakukan di area tambang milik CV Jati Kencana yang berada di Desa Kandangan, Kabupaten Semarang, sebagai bentuk komitmen menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan tema Hari Bumi tahun ini, “Planet Kita adalah Kekuatan Kita”, harus menjadi pengingat penting bagi seluruh elemen masyarakat agar tetap menjaga kelestarian alam di tengah laju pembangunan.

“Provinsi Jawa Tengah harus mempunyai nilai pertumbuhan ekonomi, tetapi tetap melihat aspek pelestarian alam yang harus kita jaga. Keseimbangan itulah yang harus kita lakukan, agar tidak terjadi bencana alam akibat buruknya pengelolaan lingkungan,” ujar Luthfi, Rabu (13/5).

Menurutnya, seluruh aktivitas pertambangan harus diawasi secara ketat, mulai dari proses perizinan hingga pengelolaan pascatambang. Ia menekankan, kegiatan eksploitasi sumber daya alam tidak boleh meninggalkan kerusakan lingkungan.

“Pada saat IUP dan IUPK itu terbit, pengusaha sudah dibebani jaminan reklamasi dan jaminan pascatambang. Jangan sampai selesai menambang lalu meninggalkan kerusakan lingkungan,” tegasnya.

Lahan Tambang 22 Hektare di Jateng Disulap Jadi Wisata Hijau dan Agroedukasi
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi memberikan penghargaan pada acara eringatan Hari Bumi 2026 di di Desa Kandangan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Rabu (13/5/2026). (katafoto/HO/Humas Pemprov Jateng)

Luthfi juga meminta pemerintah daerah, aparat penegak hukum, hingga masyarakat untuk aktif mengawasi aktivitas pertambangan guna mencegah praktik tambang ilegal maupun penyalahgunaan izin usaha.

Di sisi lain, Manager CV Jati Kencana, Dahwan, mengatakan reklamasi dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan sekitar. Ia mengakui aktivitas pertambangan tidak terlepas dari dampak terhadap alam sehingga perlu diimbangi dengan pemulihan kawasan.

“Karena kita merusak alam, kita harus mengembalikan alam menjadi lebih baik. Itu prinsip kami, terlepas ada aturan atau tidak,” katanya.

Area bekas tambang seluas 22 hektare tersebut kini mulai dikembangkan menjadi kawasan agrowisata dengan penanaman berbagai komoditas produktif, seperti mangga, durian, nangka, alpukat, hingga pohon jati. Selain penghijauan, lokasi itu juga dirancang dilengkapi sejumlah fasilitas pendukung seperti gazebo, gardu pandang, musala, area pertunjukan seni, restoran, glamping, hingga wahana offroad.

Dahwan menjelaskan, pembangunan kawasan masih dilakukan secara bertahap dan saat ini progresnya baru mencapai sekitar 30 persen. Meski demikian, keberadaan proyek tersebut mulai memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

“Tenaga kerja sekarang ada sekitar 15 orang dari warga sekitar. Ke depan kami ingin lebih banyak lagi masyarakat yang terlibat, mulai dari pekerja kebun, pedagang, penjaga wisata, sampai pelaku seni,” ujarnya.

Lahan Tambang 22 Hektare di Jateng Disulap Jadi Wisata Hijau dan Agroedukasi
ubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi menanam pohon di lahan bekas tambang yang akan menjadi kawasan agrowisata dan agroedukasi pada acara peringatan Hari Bumi 2026 di di Desa Kandangan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Rabu (13/5/2026). (katafoto/HO/Humas Pemprov Jateng)

Ia menargetkan kawasan agrowisata tersebut dapat rampung dalam tiga tahun ke depan dan menjadi destinasi wisata berbasis lingkungan sekaligus pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Kepala Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, Agus Sugiharto, menilai reklamasi bekas tambang menjadi kawasan agrowisata merupakan langkah positif yang memberi dampak jangka panjang bagi lingkungan maupun masyarakat.

“Ini menunjukkan bahwa setelah aktivitas pertambangan selesai, lahannya bisa direklamasi menjadi tempat yang memiliki nilai tambah ekonomi dan edukasi,” jelasnya.

Agus menambahkan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga terus mendorong pengembangan energi baru terbarukan bersama Indonesia Clean Energy Forum dan berbagai pihak lain guna mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

Baca Juga

Ini Perbedaan Emas Muda dan Emas Tua yang Jarang Diketahui

Istilah emas muda dan emas tua sudah sangat familiar...

Label Nutri-Level Resmi Diluncurkan, Langkah Baru Cegah Obesitas dan Diabetes

Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat edukasi pelabelan nutrisi...

Jangan Asal Klik Email, Phishing Bisa Bobol Data dan Rekening Perusahaan

Jakarta - Serangan phishing masih menjadi salah satu ancaman...

18 Bank Asal Indonesia Bersinar di Forbes 2026, Siapa Nomor Satu?

Majalah bisnis Forbes kembali merilis daftar World’s Best Banks...

Siswa Kurang Mampu Punya Peluang 90 Persen Masuk Sekolah Impian

Jakarta - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini