Bandung – Pengembangan teknologi pengolahan residu sampah berhasil dikembangkan sebagai solusi pengelolaan sampah modern yang lebih ramah lingkungan. Teknologi bernama Autothermix merupakan karya anak bangsa milik PT Tohaan Renewable Energy Engineering
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Moh. Jumhur Hidayat dalam kunjungannya, menyaksikan seluruh tahapan pengolahan sampah, mulai dari proses penghancuran material, pengolahan dengan temperatur tinggi, hingga sistem pengendalian emisi yang dipantau secara real time.
Menurut Jumhur, hadirnya teknologi seperti Autothermix membuktikan bahwa pengelolaan sampah tidak semata-mata bertujuan mengatasi persoalan lingkungan, tetapi juga mampu memberikan nilai tambah secara ekonomi.
“Teknologi seperti ini membuktikan bahwa sampah bisa diolah secara modern dan ramah lingkungan. Inovasi karya anak bangsa seperti ini perlu terus kita dorong agar bisa diterapkan di berbagai daerah,” ujar Menteri Jumhur.
Ia juga menekankan pentingnya pengembangan teknologi pengolahan sampah yang tetap memperhatikan aspek perlindungan lingkungan serta kesehatan masyarakat, khususnya terkait pengendalian emisi.

“Pengelolaan residu sampah harus memastikan pengendalian emisi berjalan baik. Ini penting agar tidak menimbulkan dampak baru bagi lingkungan maupun kesehatan,” tegas Menteri Jumhur.
Sementara Direktur Utama PT Tohaan Renewable Energy Engineering, Budi Permana, menjelaskan bahwa Autothermix merupakan teknologi pengolahan sampah berbasis proses termal dengan konsep minim oksigen.
Menurut Budi, teknologi tersebut berbeda dengan metode pembakaran konvensional karena lebih mengedepankan proses peluruhan material sampah melalui pengaturan suhu dan kadar oksigen secara terkontrol.
“Konsepnya menggunakan minim oksigen dengan proses termal tertentu sehingga sampah mengalami peluruhan,” ujar Budi.
Ia mengungkapkan, perangkat yang saat ini ditinjau masih berupa prototipe dengan kapasitas pengolahan sekitar satu ton sampah per hari. Meski demikian, teknologi tersebut telah dirancang agar dapat dikembangkan untuk kapasitas yang lebih besar sesuai kebutuhan.
“Versi pertama perangkat kami sudah beroperasi sejak Desember 2023 di Kabupaten Serang. Sekarang yang dilakukan adalah penyempurnaan,” katanya.
Budi menambahkan, teknologi Autothermix sepenuhnya dikembangkan oleh tenaga lokal. Ia berharap inovasi tersebut dapat menjadi salah satu alternatif solusi dalam penanganan persoalan sampah, khususnya di Bandung.
Autothermix bekerja menggunakan proses termal bersuhu tinggi untuk mengolah residu sampah. Teknologi tersebut dilengkapi sistem pengendalian pencemaran udara dan pemantauan emisi terintegrasi sehingga proses pengolahan dapat berjalan lebih aman bagi lingkungan.
Selain itu, teknologi ini dirancang fleksibel sehingga kapasitas pengolahannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan di berbagai daerah.
KLH/BPLH menilai inovasi teknologi dalam negeri seperti Autothermix penting untuk terus dikembangkan, tidak hanya guna membantu mengatasi persoalan sampah nasional, tetapi juga mendukung pertumbuhan industri hijau dan membuka peluang ekonomi baru.

