Jakarta – Meningkatnya tensi geopolitik global serta fluktuasi harga energi dunia, perekonomian Indonesia dinilai masih menunjukkan ketahanan yang kuat. Pada kuartal I 2026, ekonomi nasional tercatat tumbuh 5,6% secara tahunan (year-on-year/yoy), menjadi laju pertumbuhan tercepat sejak kuartal III 2022.
DBS Group Research menilai fundamental ekonomi Indonesia pada awal tahun tetap solid. Meski demikian, volatilitas global yang diperkirakan meningkat pada semester II 2026 tetap perlu diwaspadai.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal 2026 didorong oleh kuatnya konsumsi domestik, stimulus fiskal pemerintah, peningkatan belanja negara, serta momentum musiman selama periode hari besar keagamaan. Konsumsi rumah tangga dan pemerintah tercatat tumbuh sekitar 7% yoy, sementara investasi tetap berada di level positif sekitar 6% yoy.
Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao, mengatakan Indonesia memasuki 2026 dengan fondasi ekonomi yang cukup kuat. Namun, menurutnya, proyeksi pertumbuhan ekonomi tahunan tetap perlu disesuaikan untuk mengantisipasi tekanan eksternal.
“Indonesia memasuki 2026 dengan percaya diri didukung fundamental yang kuat. Namun, proyeksi pertumbuhan setahun penuh tetap perlu disesuaikan menjadi 5,1% (dari sebelumnya 5,3%) guna mengantisipasi risiko kenaikan harga energi global dan tekanan pada nilai tukar Rupiah,” ujar Radhika.

DBS Research memperkirakan kuartal pertama 2026 berpotensi menjadi titik tertinggi pertumbuhan ekonomi tahun ini. Pada periode berikutnya, aktivitas ekonomi diperkirakan menghadapi tekanan akibat tingginya harga energi global, volatilitas pasar keuangan, serta kebutuhan menjaga disiplin fiskal nasional.
Stabilitas makroekonomi akan menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Pengendalian inflasi, disiplin fiskal, serta komunikasi kebijakan yang konsisten dipandang menjadi kunci menjaga kepercayaan pasar.
Pemerintah juga diperkirakan tetap menjaga defisit fiskal di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB) melalui efisiensi belanja, pengendalian program prioritas, dan optimalisasi penerimaan negara.
Selain itu, implementasi kebijakan secara konsisten, termasuk pelaksanaan Undang-Undang Cipta Kerja dan harmonisasi regulasi pusat serta daerah, dinilai penting untuk meningkatkan kepastian usaha dan menjaga minat investor.
Hilirisasi dan Ekosistem EV Masih Menjadi Andalan
Beberapa sektor yang dipandang prospektif menjadi magnet investasi Indonesia antara lain ekosistem kendaraan listrik (EV), hilirisasi nikel, energi terbarukan, hingga pembangunan infrastruktur.
Head of Research Indonesia DBS Group Research, William Simadiputra, menegaskan konsistensi kebijakan pemerintah akan menjadi faktor penting dalam menjaga daya tarik investasi asing.
“Sektor EV ecosystem, pengolahan nikel, energi terbarukan, dan infrastruktur tetap menjadi pilar kekuatan pertumbuhan. Konsistensi kebijakan hilirisasi akan menjadi magnet utama bagi investor asing di tengah ketidakpastian yang terjadi,” ujar William.
DBS Research juga mencatat kredit investasi masih tumbuh positif, terutama di sektor konstruksi, pertambangan, dan agrikultur. Kondisi tersebut menunjukkan minat investasi domestik relatif tetap terjaga meski pasar keuangan global tengah bergejolak.
Harga Energi dan Geopolitik Jadi Ancaman Utama
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah disebut menjadi salah satu risiko utama bagi prospek ekonomi global maupun Indonesia. DBS Research menilai potensi gangguan distribusi energi global dapat memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan tekanan inflasi domestik.
Dalam skenario dasar, harga minyak diperkirakan berada di kisaran USD80 hingga USD85 per barel. Namun, dalam kondisi ekstrem, harga minyak berpotensi melonjak hingga USD100–150 per barel akibat terganggunya distribusi global.
Selain harga energi, tekanan terhadap nilai tukar Rupiah, kenaikan harga produsen (PPI), serta risiko cuaca akibat El Nino juga diperkirakan dapat meningkatkan tekanan inflasi dalam beberapa kuartal mendatang.

DBS Research menilai Bank Indonesia akan semakin fokus menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan likuiditas pasar di tengah tekanan eksternal. Meski suku bunga acuan diperkirakan tetap ditahan, arah kebijakan moneter dinilai cenderung lebih hawkish.
Reformasi Pasar Keuangan Perlu Dipercepat
Sementara eformasi pasar keuangan dan penguatan institusi menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang Indonesia. Reformasi pasar modal, kepastian hukum, serta peningkatan tata kelola menjadi perhatian utama investor global.
Indonesia juga dinilai perlu memperdalam pasar modal domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap aliran dana asing dengan memperkuat peran investor lokal, termasuk dana pensiun domestik, manajer investasi lokal, serta Danantara sebagai sumber pembiayaan jangka panjang.
Di sisi keberlanjutan, pengembangan energi terbarukan dan proyek waste-to-energy (WTE) disebut dapat memperkuat kredibilitas environmental, social, and governance (ESG) Indonesia di mata investor global.

