29.7 C
Jakarta
Sabtu, Juni 13, 2026
BerandaKATA TEKNOTEKNEWSAI Masuk ke Jaringan Seluler, Operator Bisa Hemat Investasi Triliunan Rupiah

AI Masuk ke Jaringan Seluler, Operator Bisa Hemat Investasi Triliunan Rupiah

Jakarta – Perkembangan layanan berbasis kecerdasan buatan (AI) mendorong kebutuhan akan jaringan seluler yang semakin cepat, efisien, dan mampu beroperasi secara otomatis. Menjawab tantangan tersebut, Ericsson memperkenalkan AI in RAN, sebuah solusi perangkat lunak yang mengintegrasikan model AI kelas telekomunikasi langsung ke dalam perangkat radio dan baseband jaringan.

Teknologi ini dirancang untuk meningkatkan performa jaringan, efisiensi operasional, serta penghematan energi tanpa memerlukan perangkat lunak tambahan. Solusi tersebut juga memungkinkan operator telekomunikasi memaksimalkan jaringan 5G yang telah ada sekaligus mempersiapkan transisi menuju Radio Access Network (RAN) berbasis AI.

AI in RAN menghadirkan sejumlah kemampuan baru, mulai dari model AI yang dapat bekerja secara real-time di dalam jaringan radio, sistem perangkat lunak yang terus belajar dan berkembang melalui pengolahan data dalam jumlah besar, hingga dukungan Agentic AI untuk meningkatkan otomasi dan operasional jaringan.

Bagi Indonesia, kehadiran AI in RAN dinilai dapat membantu operator mengoptimalkan investasi 5G yang telah dilakukan melalui pembaruan berbasis perangkat lunak. Berdasarkan data Global System for Mobile Association (GSMA), kebutuhan investasi pengembangan 5G di Indonesia diperkirakan mencapai 18 miliar dolar AS atau sekitar Rp324 triliun dan berpotensi meningkat hingga 50 miliar dolar AS atau sekitar Rp900 triliun pada 2030.

Dengan pendekatan berbasis AI, operator dapat meningkatkan kinerja jaringan tanpa harus melakukan investasi infrastruktur secara besar-besaran.

Di sisi lain, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menargetkan cakupan layanan 5G mencapai 32 persen pada 2030. Seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas berkecepatan tinggi dari pelanggan, industri, perusahaan, hingga sektor publik, optimalisasi jaringan berbasis AI dinilai mampu meningkatkan efisiensi spektrum, kualitas layanan, dan efisiensi energi.

Teknologi ini juga diharapkan mendukung agenda transformasi digital nasional serta perluasan layanan digital di berbagai wilayah Indonesia.

Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Nora Wahby, menilai AI kini menjadi faktor utama yang mendorong inovasi di berbagai sektor dan menciptakan kebutuhan baru terhadap konektivitas serta otomasi jaringan.

“AI menjadi pendorong utama inovasi di berbagai industri, dan menciptakan kebutuhan baru untuk konektivitas, kinerja, dan otomasi. Dengan AI in RAN, Ericsson membantu penyedia layanan memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi jaringan dan relevansi jangka panjang, serta membantu operator memenuhi permintaan data yang lebih besar di tengah tantangan investasi. Kemampuan ini juga diharapkan mampu mendukung visi Indonesia Digital 2045 dengan menguatkan fondasi jaringan yang cerdas, efisien, dan berkelanjutan,” ujar Nora Wahby.

Ericsson menjelaskan model AI yang dikembangkan mampu memproses dan mengambil keputusan dalam hitungan mikrodetik. Teknologi tersebut dirancang untuk bekerja secara stabil pada berbagai kondisi jaringan radio yang dinamis, sekaligus memanfaatkan data berkualitas tinggi untuk menghasilkan performa yang lebih optimal.

Sudah Diuji di Jaringan Komersial

AI in RAN dapat diterapkan pada solusi Ericsson 5G Advanced, baik pada jaringan berbasis perangkat keras khusus maupun Cloud RAN. Teknologi ini menjadi bagian dari visi AI for Networks yang memanfaatkan kecerdasan buatan untuk meningkatkan kinerja dan efisiensi jaringan secara langsung.

Kemampuan tersebut didukung oleh Ericsson Silicon, yakni chip khusus yang memungkinkan pemrosesan AI dilakukan langsung pada perangkat radio dengan konsumsi energi yang lebih rendah. Selain itu, teknologi ini juga memanfaatkan generasi terbaru RAN Compute yang menawarkan daya komputasi lebih tinggi serta software Cloud RAN yang fleksibel untuk berbagai platform jaringan.

Mulai kuartal kedua 2026, Ericsson akan menghadirkan sejumlah fitur awal AI in RAN, di antaranya:

  • AI-native Scheduler, untuk mengoptimalkan alokasi sumber daya jaringan secara otomatis.
  • AI-powered Positioning, guna meningkatkan akurasi penentuan lokasi pengguna.
  • AI-managed Beamforming, untuk mengoptimalkan kualitas sinyal secara dinamis.
  • AI-powered Multi-layer Coordination, yang meningkatkan koordinasi antar lapisan jaringan.
  • Performance Management, untuk analisis dan pemantauan performa jaringan secara lebih canggih.
  • Augmented Observability, yang memberikan transparansi lebih tinggi terhadap cara AI bekerja dan mengambil keputusan.

Ericsson mengungkapkan bahwa teknologi ini telah diuji melalui lebih dari 15 implementasi dan proyek uji coba di berbagai negara. Hasilnya menunjukkan peningkatan kecepatan downlink hingga 20 persen dan efisiensi spektrum hingga 10 persen.

Selain itu, AI in RAN mampu mendukung hingga dua kali lebih banyak pengguna dengan trafik data tinggi. Teknologi ini juga menawarkan akurasi prediksi cakupan jaringan mencapai 90 hingga 95 persen serta meningkatkan ketepatan penentuan lokasi pengguna hingga lima kali lipat.

Senior Vice President & CNO SoftBank Corp., Teruyuki Oya, mengatakan teknologi tersebut menjadi langkah penting dalam menghadirkan AI lebih jauh ke dalam jaringan radio.

“Software AI in RAN Ericsson menandai langkah penting dalam menghadirkan AI lebih dalam ke dalam radio access network. Dengan memungkinkan optimasi performa radio, efisiensi spektrum, dan pengalaman pengguna secara real-time, solusi ini membantu kami mengubah inovasi AI menjadi nilai nyata pada jaringan yang sudah beroperasi. Kami juga melihat potensi yang kuat dari fondasi ini dalam mendukung layanan berbasis AI yang sedang berkembang, termasuk skenario Physical AI yang bergantung pada konektivitas latensi rendah dan keandalan tinggi, serta koordinasi cerdas antara jaringan dan sumber daya komputasi,” katanya.

Hal senada disampaikan Senior Vice President Network Technology & Operations Bell, Bruce Dean.

“Di Bell, kami terus mengembangkan jaringan kami untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat terhadap layanan berbasis AI dengan performa tinggi. Mengintegrasikan AI secara langsung ke dalam RAN merupakan langkah penting untuk menjadikan jaringan lebih cerdas dan efisien. Dengan bekerja sama dengan mitra seperti Ericsson, kami menghadirkan kapabilitas ini ke dalam jaringan kami untuk meningkatkan performa, meningkatkan efisiensi energi, serta memberikan pengalaman yang lebih baik bagi pelanggan kami,” ujarnya.

Sementara itu, Head of Network Technology SK Telecom, Yu Takki, menilai kolaborasi dengan Ericsson akan mempercepat pengembangan jaringan berbasis AI menuju era 6G.

“Melalui kolaborasi dengan Ericsson, SK Telecom terus mengembangkan AI-RAN untuk meningkatkan performa jaringan dan efisiensi energi, sekaligus mendukung operasional yang lebih cerdas dan terotomatisasi. Dengan mengombinasikan riset, validasi di dunia nyata, serta inovasi software, kami bertujuan untuk memperkuat posisi kami dalam evolusi jaringan berbasis AI serta membantu membangun fondasi bagi jaringan AI-native 6G,” katanya.

Chief Technology Officer Rogers, Mark Kennedy, juga menilai AI in RAN dapat membantu operator mengoptimalkan performa jaringan secara real-time sekaligus menekan konsumsi energi.

“Sebagai jaringan 5G+ terbaik di Kanada, kami bangga dapat bekerja sama dengan Ericsson untuk menghadirkan teknologi 5G terbaru bagi masyarakat. AI in RAN akan membantu mengoptimalkan performa jaringan bagi pelanggan secara real-time sekaligus mengurangi konsumsi energi,” ujarnya.

Sementara itu, Principal Analyst Mobile Experts, Joe Madden, menyebut teknologi ini berpotensi menjadi salah satu investasi dengan tingkat pengembalian terbaik bagi operator seluler.

“Ini bisa menjadi ROI terbaik bagi operator seluler dalam beberapa tahun terakhir. Dengan hanya melakukan upgrade software, operator dapat memaksimalkan kapasitas, meningkatkan visibilitas jaringan, serta menghadirkan layanan berbasis lokasi yang lebih akurat dari jaringan 5G yang telah mereka miliki sebelumnya,” katanya.

Ericsson sendiri telah mengintegrasikan teknologi AI ke dalam berbagai produknya sejak era 4G. Pada 2021 perusahaan menambahkan akselerasi AI-ready pada RAN Compute, dan pada Februari 2026 memperkenalkan Neural Network Accelerators pada radio Massive MIMO yang diklaim mampu meningkatkan kemampuan inferensi AI hingga 10 kali lipat.

Baca Juga

Subaru Tarik 69 Ribu Forester, Sunroof Bisa Lepas Saat Mobil Melaju

Subaru mengumumkan penarikan kembali (recall) terhadap sejumlah SUV Forester...

Jakarta Lawan Parkir Liar, 456 Pelanggaran Langsung Ditindak

Jakarta - Dinas Perhubungan (Dishub), Satpol PP, TNI, dan...

Jakarta Tebar Peluang Investasi Rp271 Triliun, Investor Asing Mulai Melirik

Jakarta - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan puluhan proyek...

AceKid Hadir di Indonesia, Usung Susu Segar Tanpa Pemanis Tambahan

Jakarta  - Menjawab kebutuhan masyarakat akan informasi nutrisi yang...

China Bangun 35.000 Pabrik Pintar AI Pangkas Cacat Produk hingga 47 Persen

Tiongkok terus memperkuat transformasi sektor manufakturnya melalui pengembangan sistem...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini