28.9 C
Jakarta
Rabu, Juni 17, 2026
BerandaKATA GAYA HIDUPKESEHATANCuaca Panas Ekstrem Mengintai, Waspadai Tanda-Tanda Heat Stroke pada Anak

Cuaca Panas Ekstrem Mengintai, Waspadai Tanda-Tanda Heat Stroke pada Anak

Yogyakarta – Gelombang cuaca panas dan musim kemarau yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia berpotensi meningkatkan berbagai masalah kesehatan, terutama pada anak-anak. Kelompok usia ini dinilai lebih rentan karena kemampuan tubuh mereka dalam menyesuaikan diri terhadap suhu lingkungan yang tinggi belum sebaik orang dewasa.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sebelumnya mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kesehatan selama musim kemarau. Kemenkes menyebut dehidrasi berat dan heat stroke sebagai gangguan kesehatan yang berisiko meningkat saat cuaca panas berlangsung dalam waktu lama, khususnya pada kelompok rentan seperti anak-anak.

Dosen Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer (PPDS KKLP) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Siti Rizki Fauziah, mengatakan kondisi cuaca panas yang terjadi belakangan ini dapat memberikan dampak cukup besar terhadap kesehatan anak.

Menurutnya, sistem pengaturan suhu tubuh pada anak masih berkembang sehingga belum mampu bekerja seefektif orang dewasa dalam menghadapi perubahan suhu lingkungan.

“Anak-anak masih dalam masa pertumbuhan sehingga sistem regulasi tubuh mereka belum sesempurna orang dewasa. Karena itu mereka jauh lebih rentan terhadap perubahan lingkungan, termasuk cuaca ekstrem. Kondisi panas yang berlangsung terus-menerus dapat memberikan beban yang lebih besar bagi tubuh anak dibandingkan orang dewasa,” ujarnya dikutip dari laman umy, Senin (15/6).

Anak Lebih Rentan Mengalami Heat Stroke

Dr. Siti menjelaskan terdapat sejumlah faktor yang membuat anak lebih mudah mengalami heat stroke dibandingkan orang dewasa. Salah satunya adalah luas permukaan tubuh anak yang relatif lebih besar dibandingkan berat badannya sehingga tubuh lebih cepat menyerap panas dari lingkungan sekitar.

Selain itu, anak-anak cenderung menghasilkan panas tubuh lebih tinggi saat melakukan aktivitas fisik seperti bermain, berlari, atau berolahraga. Di sisi lain, kemampuan tubuh untuk membuang panas melalui keringat belum berkembang secara optimal.

“Tubuh anak memiliki mekanisme yang berbeda dalam merespons paparan panas. Mereka menyerap panas lebih cepat, sementara produksi panas tubuh saat bergerak juga lebih tinggi. Di sisi lain, sistem kelenjar keringat mereka belum bekerja seefektif orang dewasa sehingga proses pembuangan panas menjadi lebih sulit,” ungkap dr. Siti.

Tidak hanya faktor fisiologis, perilaku anak juga menjadi salah satu penyebab meningkatnya risiko gangguan akibat panas. Saat asyik bermain, anak sering kali tidak menyadari tanda-tanda awal tubuh mengalami kelelahan atau kekurangan cairan.

Menurut dr. Siti, anak umumnya belum mampu mengenali sinyal tubuh seperti rasa haus, pusing, maupun lemas yang muncul akibat paparan suhu tinggi.

Kenali Gejala Awal Sebelum Menjadi Heat Stroke

Dr. Siti menegaskan bahwa heat stroke merupakan kondisi darurat medis yang tidak boleh dianggap sepele. Kondisi ini terjadi ketika sistem pengaturan suhu tubuh gagal bekerja dengan baik akibat paparan panas berlebihan.

“Heat stroke harus dipandang sebagai kondisi kegawatdaruratan medis yang serius. Ini bukan hanya rasa panas biasa, tetapi kegagalan sistem pengaturan suhu tubuh. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan gangguan pada otak, jantung, ginjal, hingga organ-organ vital lainnya,” pungkasnya.

Sebelum berkembang menjadi heat stroke, anak biasanya terlebih dahulu mengalami heat exhaustion atau kelelahan akibat panas. Gejalanya antara lain berkeringat berlebihan, sakit kepala, pusing, tubuh terasa lemah, mual, muntah, serta kram otot.

Apabila kondisi tersebut tidak segera ditangani, gejala dapat berkembang menjadi lebih serius. Anak dapat mengalami perubahan perilaku dan penurunan kesadaran, seperti kebingungan, sulit diajak berkomunikasi, mengantuk berlebihan, hingga pingsan.

Dr. Siti menambahkan bahwa semua anak memiliki risiko mengalami gangguan akibat cuaca panas. Namun, bayi dan balita merupakan kelompok yang paling rentan sehingga membutuhkan perhatian lebih dari orang tua.

“Semua anak berisiko, tetapi bayi dan balita merupakan kelompok yang paling rentan. Karena itu, kewaspadaan orang tua menjadi sangat penting agar tanda-tanda awal gangguan akibat panas dapat dikenali sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih berbahaya,” tegas dr. Siti.

Baca Juga

Urus Dokumen Makin Mudah, Pemerintah Tambah 8 Mal Pelayanan Publik Baru

Jakarta - Pemerintah terus memperluas akses layanan publik melalui...

Tak Ada Ampun, Pelaku Perundungan Terancam Kehilangan KJP

Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan komitmennya...

Pertamax Naik Tajam, Ekonom Sebut Konsumen Sangat Mungkin Pindah ke Pertalite

Jakarta - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE),...

Pemprov DKI Gandeng Swasta Garap Jakarta International Cultural Hub

Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau aset...

Kepadatan Penduduk Jakarta Jadi Tantangan Besar Pengendalian Dengue

Jakarta - Tingginya kepadatan penduduk di DKI Jakarta masih...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini