Jakarta – Lima pesepeda yang tergabung dalam Komunitas Sepeda Chemonk bersama organisasi lingkungan Satya Bumi memulai perjalanan sejauh 1.700 kilometer dari Jakarta menuju Batang Toru, Sumatera Utara. Aksi bertajuk Ekspedisi Hutan Merdeka ini menjadi bagian dari kampanye penyelamatan hutan sekaligus perlindungan Orangutan Tapanuli yang kini berada di ambang kepunahan.
Perjalanan dimulai dari Taman Pandang Monas, Jakarta, dan ditargetkan tiba di Batang Toru pada 19 Agustus 2026. Tanggal tersebut dipilih karena bertepatan dengan peringatan Hari Orangutan Internasional. Selama perjalanan yang diperkirakan berlangsung selama 18 hari, para pesepeda membawa pesan kampanye “No Second Home, Restore Their Forest” sebagai ajakan menjaga hutan yang menjadi habitat satwa endemik tersebut.
Ekspedisi Hutan Merdeka tidak hanya mengangkat isu perlindungan Orangutan Tapanuli, tetapi juga menyuarakan pentingnya membebaskan hutan dari ancaman deforestasi, eksploitasi, dan berbagai aktivitas yang merusak ekosistem.
Communications Manager Satya Bumi sekaligus penanggung jawab ekspedisi, Restu Diantina, mengatakan hutan Indonesia hingga kini masih menghadapi tekanan besar akibat deforestasi dan aktivitas industri ekstraktif.

“Satya Bumi melihat bahwa hutan Indonesia hingga saat ini belum merdeka dari ancaman deforestasi, kooptasi wilayah oleh industri dan aktivitas ekstraktif yang merusak hutan. Terlebih di ekosistem Batang Toru, satu-satunya habitat Orangutan Tapanuli yang statusnya saat ini critically endangered species menurut IUCN dengan populasi kurang dari 800 individu saat pertama teridentifikasi pada 2017. Survei terbaru bahkan menunjukkan, jumlahnya semakin merosot hingga 7 persen pascabencana Aceh Sumatra November 2025 lalu atau tersisa sekitar 716 individu. Ini wake up call yang harus kita sadari bersama bahwa ancaman kepunahan ini sudah di depan mata,” jelas Restu.
Data yang dihimpun Satya Bumi menunjukkan pembukaan hutan di kawasan Ekosistem Batang Toru masih terus berlangsung dan diduga melibatkan sejumlah perusahaan besar yang beroperasi di wilayah tersebut.
Berdasarkan catatan organisasi itu, PT Agincourt Resources telah membuka lahan seluas 603,2 hektare sejak mulai beroperasi hingga 2025. Sementara itu, perusahaan yang mengelola Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru tercatat melakukan deforestasi seluas 535,25 hektare hingga 2024. Sebagian kawasan yang terdampak merupakan habitat Orangutan Tapanuli.
Selain mengampanyekan penyelamatan hutan, lima pesepeda juga akan mendokumentasikan kondisi bentang alam Pulau Sumatra sepanjang perjalanan. Dokumentasi tersebut diharapkan dapat menggambarkan wilayah yang masih terjaga maupun kawasan yang membutuhkan pemulihan agar bencana ekologis seperti yang terjadi pada akhir 2025 tidak kembali terulang. Mengingat, sebagian besar wilayah Sumatra memiliki kerentanan terhadap bencana ekologis.
Kampanye Perlindungan Orangutan Tapanuli
Satya Bumi bersama Komunitas Sepeda Chemonk dan Kamerawan Jurnalis Indonesia (KJI) telah menjalankan kampanye perlindungan orangutan selama tiga tahun terakhir. Upaya ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga keberlangsungan hidup tiga spesies orangutan di Indonesia.
Mengacu pada data IUCN, Orangutan Kalimantan, Orangutan Sumatera, dan Orangutan Tapanuli sama-sama berstatus critically endangered atau kritis dan terancam punah.
Di antara ketiganya, Orangutan Tapanuli merupakan spesies paling langka dengan populasi kurang dari 800 individu. Populasinya terus mengalami penurunan, terutama setelah bencana ekologis yang melanda Sumatera Utara pada akhir tahun lalu.

Peneliti memperkirakan sekitar 58 individu Orangutan Tapanuli mati akibat banjir dan longsor, atau sekitar tujuh persen dari total populasi yang ada. Para ahli juga mengingatkan bahwa penurunan populasi sebesar satu persen setiap tahun akan semakin mempercepat risiko kepunahan spesies tersebut.
Juru Kampanye Satya Bumi, Riezcy Cecilia Dewi, menilai hilangnya puluhan Orangutan Tapanuli akibat satu bencana ekologis harus menjadi perhatian serius seluruh pihak.
“Hilangnya puluhan individu Orangutan Tapanuli akibat satu bencana ekologis harus menjadi peringatan serius bagi semua pihak. Habitat mereka sudah terfragmentasi menjadi tiga meta-populasi kecil, sehingga ketika bencana ekologis ini terjadi kekhawatirannya adalah habitat mereka akan semakin terisolasi menjadi meta-populasi yang lebih kecil lagi. Dan ini juga yang akan meningkatkan perkawinan kerabat. Jika kerusakan ini terus dibiarkan dan tidak segera dilakukan upaya pemulihan lingkungan, risiko kepunahan Orangutan Tapanuli akan semakin besar, dan bencana serupa akan terus terjadi secara berulang,” ujar Riezcy.
Restu pun mendesak pemerintah dan perusahaan yang aktivitasnya berdampak terhadap lingkungan agar segera melakukan pemulihan ekosistem.
“Baik pemerintah maupun perusahaan yang terlibat, wajib memulihkan ekosistem yang kadung hancur akibat kegiatan destruktif terhadap lingkungan dan berujung memperparah dampak bencana kemarin. No Second Home, Restore Their Forest! Jaga Hutan Jaga Orangutan!” tutup Restu.

