Jakarta – Ambisi perusahaan di Indonesia untuk mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terus meningkat. Namun, langkah tersebut masih menghadapi tantangan besar karena kesiapan organisasi dan pengalaman digital karyawan dinilai belum sejalan.
Temuan tersebut terungkap dalam laporan The Paradox of Progress – Why a Broken Employee Experience is Sabotaging Adoption of AI in the Workplace yang diprakarsai Lark. Laporan ini disusun berdasarkan survei double-blind yang dilakukan lembaga independen terhadap 900 perusahaan dan lebih dari 5.000 karyawan di enam negara Asia Tenggara, yakni Singapura, Malaysia, Indonesia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.
Hasil survei menunjukkan hanya 19% perusahaan yang menganggap organisasinya telah mencapai tingkat kematangan digital, meski investasi terhadap teknologi terus meningkat.
Di Indonesia sendiri, sekitar sembilan dari sepuluh perusahaan mengaku aktif membangun budaya kerja yang lebih terbuka terhadap perubahan teknologi. Meski demikian, lebih dari separuh organisasi masih berada pada tahap awal dalam menguji penerapan AI.
Kondisi tersebut mencerminkan adanya kesenjangan antara keinginan manajemen untuk mempercepat transformasi digital dengan kesiapan karyawan yang masih menghadapi berbagai hambatan dalam bekerja secara digital.
Digitalisasi Belum Menyentuh Pengalaman Karyawan
Laporan tersebut menilai transformasi digital selama ini lebih banyak difokuskan pada peningkatan efisiensi sistem dibandingkan pengalaman kerja karyawan. Dampaknya, lingkungan kerja menjadi semakin terfragmentasi, koordinasi antartim kurang optimal, dan beban kerja digital justru meningkat.
Sebanyak 63% karyawan di Indonesia menilai pimpinan perusahaan belum benar-benar memahami kebutuhan digital mereka. Prioritas digitalisasi pun masih lebih banyak diarahkan pada fungsi-fungsi yang dianggap mampu meningkatkan efisiensi operasional.
Departemen teknologi informasi (IT) menjadi unit yang paling banyak terdigitalisasi dengan tingkat implementasi mencapai 79%, disusul departemen keuangan 77% dan pemasaran 70%. Sebaliknya, fungsi yang berkaitan langsung dengan pengalaman karyawan dan sumber daya manusia baru mencapai 54%.
Terlalu Banyak Aplikasi Hambat Produktivitas
Kompleksitas penggunaan berbagai perangkat kerja juga menjadi tantangan tersendiri.
Sebanyak 58% karyawan mengaku kehilangan waktu sedikitnya tiga jam setiap pekan akibat inefisiensi kolaborasi digital. Selain itu, 49% responden merasa kewalahan karena harus menggunakan terlalu banyak aplikasi dalam bekerja.
Sementara itu, 48% karyawan mengatakan mereka harus membuka beberapa platform berbeda setiap jam hanya untuk mengikuti perkembangan pekerjaan.
Dukungan Inovasi Dinilai Belum Maksimal
Meski 89% perusahaan mengklaim mendukung pemberdayaan karyawan, kenyataannya hanya 31% karyawan yang merasa memiliki keleluasaan untuk mengusulkan dan menerapkan ide baru.
Tidak hanya itu, hanya 42% responden yang merasa mempunyai kendali terhadap perangkat kerja yang mereka gunakan setiap hari.
Akibatnya, 77% karyawan menilai inovasi di lingkungan kerja masih berlangsung secara sporadis dan belum menjadi budaya yang berjalan konsisten. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dukungan terhadap inovasi belum diimbangi dengan pelatihan, ruang bereksperimen, maupun perangkat kerja yang memadai.
Kesenjangan Kesiapan AI Masih Terlihat
Perbedaan persepsi antara manajemen dan karyawan juga terlihat dalam kesiapan memanfaatkan AI.
Pemberi kerja tercatat 13 poin persentase lebih mungkin merasa sangat nyaman menggunakan teknologi AI dibandingkan karyawan. Mereka juga 8 poin persentase lebih banyak memperoleh pelatihan formal mengenai AI.
Di sisi lain, 86% karyawan mengaku membutuhkan dukungan lebih besar dalam bidang keamanan siber dan pemanfaatan AI untuk meningkatkan produktivitas. Namun, hanya 36% yang merasa telah menerima pelatihan yang memadai untuk berinovasi menggunakan teknologi tersebut.
General Manager Asia Pacific Lark, Olivier Adam, mengatakan hasil survei tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan transformasi digital tidak hanya bergantung pada kesiapan teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia.
“Kita berada pada momen penting bagi adopsi AI di Asia Tenggara, tetapi riset ini menunjukkan bahwa fondasinya belum sekuat yang diyakini banyak pemimpin. Karyawan merasa kewalahan, belum cukup dibekali, dan semakin jauh dari keputusan yang memengaruhi cara mereka bekerja,” kata Olivier.
Ia menilai perusahaan justru berpotensi memperbesar persoalan apabila terus menambah teknologi AI tanpa terlebih dahulu memperbaiki pengalaman kerja karyawan.
“Teknologinya sudah siap. Pertanyaannya, apakah orang-orang yang diharapkan menggunakannya juga merasa siap?” imbuhnya.
Transparansi AI Masih Menjadi Tantangan
Laporan tersebut juga menyoroti persoalan transparansi dalam penerapan AI di lingkungan kerja.
Hanya 30% karyawan yang menilai organisasinya sangat terbuka dalam menjelaskan cara AI dan otomatisasi digunakan. Sementara 45% responden mengaku belum memahami secara jelas ekspektasi pimpinan terhadap penggunaan AI.
Kurangnya keterbukaan tersebut memicu kekhawatiran di kalangan pekerja. Sebanyak 46% karyawan percaya AI pada akhirnya dapat membuat peran mereka menjadi tidak relevan.
Selain itu, 90% responden juga mengaku memiliki kekhawatiran serius terkait aspek keamanan seiring semakin luasnya penggunaan AI.
Meski demikian, mayoritas karyawan sebenarnya menyambut positif kehadiran teknologi tersebut. Sebanyak 90% responden menyatakan antusias apabila AI dapat mengambil alih pekerjaan rutin sehingga mereka memiliki lebih banyak waktu untuk menyelesaikan pekerjaan kreatif yang bernilai lebih tinggi.
AI juga dinilai mampu mengurangi hambatan kerja sekaligus meningkatkan kolaborasi lintas bahasa secara real-time.
Pelatihan Dinilai Menjadi Kunci
Untuk memaksimalkan pemanfaatan AI, para responden menilai perusahaan perlu memperkuat program pelatihan dan pendampingan.
Kebutuhan pelatihan yang paling banyak disebut meliputi:
- Kesadaran keamanan siber (88%)
- Kolaborasi lintas tim (86%)
- Disiplin dokumentasi dan standar operasional prosedur (85%)
- Produktivitas berbasis otomatisasi dan AI (84%)
Laporan tersebut juga menemukan bahwa perusahaan yang mulai beralih dari penggunaan berbagai aplikasi terpisah menuju platform kerja terpadu memperoleh hasil yang lebih baik.
Sebanyak 92% organisasi melaporkan peningkatan efisiensi operasional, 90% mencatat hambatan komunikasi berkurang, sementara 83% berhasil menghemat biaya secara signifikan.
Menurut Olivier, keberhasilan transformasi digital tidak ditentukan oleh siapa yang paling cepat mengadopsi AI, melainkan oleh kemampuan organisasi membawa seluruh karyawan beradaptasi bersama.
“Potensi AI sangat besar, tetapi hanya akan sepenuhnya terwujud ketika karyawan merasa dipersiapkan, dilibatkan, dan percaya diri terhadap cara AI diterapkan,” katanya.

