27 C
Jakarta
Rabu, Agustus 19, 2026
BerandaKATA EKBISEKONOMI dan KINERJAEkonomi Indonesia Tumbuh 5,45 Persen, Tapi Lapangan Kerja Justru Jadi Sorotan

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,45 Persen, Tapi Lapangan Kerja Justru Jadi Sorotan

Jakarta – Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai sekitar 5,45 persen pada semester I 2026 dinilai belum sepenuhnya mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ekonom senior sekaligus Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri menilai masih ada sejumlah persoalan yang perlu mendapat perhatian.

Menurut Yose, tantangan tersebut terutama berkaitan dengan penciptaan lapangan kerja serta kemampuan investasi dalam menghasilkan pekerjaan yang berkualitas.

Ia mengatakan, pertumbuhan ekonomi memang menjadi salah satu tolok ukur penting untuk menilai kondisi perekonomian. Namun, capaian tersebut seharusnya tidak berhenti pada angka, melainkan turut memberikan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

Salah satu persoalan yang disoroti Yose adalah kondisi pasar kerja. Meskipun tingkat pengangguran berada pada level relatif rendah, lapangan kerja baru yang tercipta masih didominasi sektor informal. Porsinya bahkan disebut mencapai sekitar 80 persen.

Di saat yang sama, pengangguran dari kalangan berpendidikan atau pengangguran terdidik justru menunjukkan tren peningkatan.

“Pengangguran itu rendah tetapi kebanyakan lapangan pekerjaan yang tercipta adanya di sektor informal, bahkan 80 persen. Kemudian juga pengangguran yang terdidiknya makin hari makin besar,” ungkap Yose dalam acara “The Forum” di HQ B-Universe, PIK2, Tangerang, Selasa (18/8).

Investasi Makin Besar, Serapan Tenaga Kerja Menurun

Yose juga menyoroti hubungan antara pertumbuhan investasi dan penciptaan lapangan kerja. Menurut dia, kenaikan nilai investasi belum diikuti dengan penyerapan tenaga kerja dalam jumlah yang sebanding.

Ia memberikan perbandingan kondisi investasi dalam satu dekade terakhir. Pada 2014, setiap investasi senilai Rp1 triliun disebut mampu menciptakan sekitar 3.500 lapangan pekerjaan. Kini, kemampuan tersebut diperkirakan turun menjadi hanya sekitar 1.200 pekerjaan.

Penurunan itu, kata Yose, tetap tergolong besar meskipun perhitungannya telah mempertimbangkan faktor inflasi.

Kondisi tersebut mengindikasikan adanya perubahan karakter investasi di Indonesia. Investasi dinilai semakin mengarah pada sektor yang padat modal dibandingkan padat karya.

Padahal, industri padat karya masih memiliki peran penting dalam menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Hal ini menjadi relevan mengingat struktur pasar kerja Indonesia masih membutuhkan sektor-sektor yang mampu menyediakan banyak lapangan pekerjaan.

Karena itu, Yose menilai keberhasilan pertumbuhan ekonomi tidak semestinya hanya diukur berdasarkan persentase kenaikan produk domestik bruto (PDB). Pemerintah juga perlu memastikan pertumbuhan tersebut mampu menghasilkan pekerjaan yang berkualitas sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Kalau pertumbuhannya tersebut hanya dalam angka, tidak terlihat hasilnya, itu bukan yang kita tuju,” pungkas Yose.

Baca Juga

Victory Jump Kopassus Meriahkan HUT RI ke-81, 17 Penerjun Tampilkan Aksi Spektakuler

Jakarta - Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan...

Ada Intimidasi di TPS Ilegal, Pramono Janji Beri Perlindungan bagi Wartawan

Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan wartawan...

LRT Jakarta Tambah Rute Baru, Kelapa Gading–Manggarai Ditargetkan Angkut 80.000 Penumpang

Jakarta - PT Jakarta Propertindo (Perseroda) atau Jakpro memperkuat...

Pasca Gempa NTT, Telkomsat Kerahkan Teknologi Satelit untuk Pulihkan Komunikasi

Jakarta - Pasca gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT),...

GOTO dan CPIN Keluar dari Indeks MSCI, 9 Saham Lain Bernasib Sama

Jakarta - MSCI Inc kembali mengumumkan hasil tinjauan indeks...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini