Jakarta – PT Bank DBS Indonesia memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi mencapai level 8.000 hingga akhir 2026. Proyeksi tersebut merupakan base case atau skenario yang dinilai paling realistis berdasarkan kajian Chief Investment Office (CIO) DBS Group di Singapura dengan mempertimbangkan berbagai faktor global maupun domestik.
Head of Investment & Insurance Product PT Bank DBS Indonesia, Djoko Soelistyo, mengatakan target tersebut disusun setelah memperhitungkan sejumlah tantangan yang memengaruhi pasar sepanjang tahun. Beberapa di antaranya adalah isu terkait MSCI, pelemahan nilai tukar rupiah, serta valuasi saham di pasar domestik.
“Sebenarnya ada tiga skenario yang disiapkan oleh CIO kami, yaitu bull case, base case, sama bear case. Tapi yang saya akan bicarakan lebih kepada kira-kira skenario yang kemungkinan terjadi. Yang dilihat oleh CIO kami adalah di indeks di level 8.000,” ujar Djoko dalam acara Media Briefing DBS Insights Forum 2026: A New Lens on a Multipolar World, Rabu (15/7).
Menurut Djoko, proyeksi tersebut tidak lagi bertumpu pada perkembangan status Indonesia dalam indeks MSCI. Fokus investor kini mulai bergeser ke kinerja fundamental emiten yang tercermin dari laporan keuangan semester I-2026.
Ia menjelaskan, kekhawatiran pasar terhadap potensi perubahan status Indonesia di MSCI sebelumnya telah banyak tercermin dalam pergerakan IHSG. Saat isu tersebut mencuat, indeks sempat terkoreksi hingga turun ke bawah level 6.000.

“Market sudah priced in terhadap kemungkinan terjadinya, seandainya pun sampai itu terjadi, market sudah banyak priced in. Jadi tekanannya ke bawah seharusnya sudah tidak lebih besar,” katanya.
Meski demikian, Djoko mengingatkan masih terdapat sejumlah risiko eksternal yang perlu diwaspadai. Di antaranya adalah kenaikan harga minyak dunia yang bertahan di atas US$100 per barel serta potensi penurunan laba perusahaan akibat meningkatnya biaya energi.
Di sisi lain, kebijakan pemerintah dinilai menjadi salah satu faktor yang menopang optimisme pasar. Menurutnya, berbagai langkah transformasi yang dilakukan pemerintah mulai mendapat pengakuan dari lembaga pemeringkat internasional.
“Paling tidak kami melihat bahwa semua yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia sudah menuju ke arah yang benar atau on track. Hal itu juga terbukti dengan S&P yang mempertahankan kredit Indonesia di BBB dengan outlook stabil,” ujar Djoko.
Dengan dukungan fundamental perusahaan yang dinilai semakin kuat, stabilitas kebijakan pemerintah, serta penilaian positif dari lembaga pemeringkat global, DBS tetap optimistis IHSG memiliki peluang mencapai target 8.000 pada penghujung tahun, meski risiko eksternal masih perlu terus diantisipasi.

