31.8 C
Jakarta
Sabtu, Agustus 22, 2026
BerandaKATA EKBISCSR dan ESGLimbah Jadi Material Masa Depan, Parongpong RAW Lab dan MYCL Buka Peluang...

Limbah Jadi Material Masa Depan, Parongpong RAW Lab dan MYCL Buka Peluang Ekonomi Baru

Bandung – Persoalan lingkungan dan kesenjangan ekonomi semakin membutuhkan model bisnis yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan menjaga keberlanjutan lingkungan.

Melalui DBS Foundation Grant, Bank DBS Indonesia melalui DBS Foundation terus mendorong pertumbuhan social enterprises yang mengembangkan solusi berbasis ekonomi sirkular. Program tersebut memberikan dukungan berupa pendanaan, pendampingan, akses jejaring, hingga kesempatan kolaborasi agar bisnis berdampak dapat berkembang dan memperluas manfaatnya.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah pengelolaan limbah, terutama karena isu tersebut berkaitan erat dengan keberlanjutan ekonomi masyarakat agraris dan pesisir.

Data Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup menunjukkan, sekitar 21,85 persen dari 56,63 juta ton sampah yang dihasilkan Indonesia setiap tahun belum terkelola secara optimal. Di sisi lain, Sensus Pertanian BPS mencatat terdapat 17,25 juta petani gurem. Sementara itu, lebih dari 90 persen nelayan Indonesia merupakan nelayan skala kecil yang berada dalam kondisi ekonomi rentan.

Di tengah tantangan tersebut, dua penerima DBS Foundation Grant, yakni Parongpong RAW Lab dan MYCL, menghadirkan pendekatan bisnis yang menggabungkan penyelesaian masalah lingkungan dengan penciptaan peluang ekonomi.

Keduanya mengolah limbah menjadi produk bernilai tambah sekaligus membuka kesempatan ekonomi bagi masyarakat yang berada di sekitar rantai pasok.

“Kami percaya bahwa bisnis dapat menjadi kekuatan untuk kebaikan. Melalui DBS Foundation Grant Program, kami ingin membantu social enterprises memperkuat fondasi bisnisnya, mengakses jejaring yang relevan, serta memperbesar dampak bagi komunitas yang membutuhkan. Parongpong RAW Lab dan MYCL menunjukkan bagaimana inovasi lokal dapat menjawab isu lingkungan, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi nelayan, petani, dan masyarakat yang selama ini berada di rantai nilai yang rentan,” ujar Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika.

Limbah Jadi Material Masa Depan, Parongpong RAW Lab dan MYCL Buka Peluang Ekonomi Baru
Co-founder & Chief Business Development Officer Mycotech Lab (MYCL) Ronaldiaz Hartantyo, Co-founder & Chief Operation Officer Mycotech Lab (MYCL) Robbi Zidna Ilman, Head of DBS Foundation Karen Ngui, dan Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika hadir pada kegiatan site visit MYCL Eco Factory, DBS Foundation Grantee 2016 dan 2018 di Bandung, Kamis (20/08/2026). (katafoto/HO/Bank DBS Indonesia)

Parongpong RAW Lab Olah Jaring Bekas Jadi Produk Bernilai

Sebagai penerima DBS Foundation Grant 2025, Parongpong RAW Lab memperoleh dukungan untuk mengembangkan Ghost Net Circular Economy & Coastal Community Empowerment Program di Cilincing, Jakarta, dan Muncar, Banyuwangi.

Program tersebut berfokus pada pengumpulan dan pengolahan jaring ikan bekas atau ghost net menjadi material yang memiliki nilai ekonomi. Selain mengurangi limbah laut, program ini dirancang untuk memberikan tambahan pendapatan, pelatihan, serta peluang keterlibatan ekonomi bagi masyarakat pesisir.

Dalam dua tahun pelaksanaan, program tersebut menargetkan pengumpulan 20 ton ghost net. Program juga ditujukan untuk mendukung lebih dari 600 nelayan, melibatkan 1.000 anggota komunitas pesisir, serta membangun dua microfactory untuk memperkuat kemampuan produksi di tingkat lokal.

Hingga Agustus 2026, Parongpong RAW Lab telah menyelesaikan studi kelayakan di dua lokasi dengan melibatkan 105 responden. Perusahaan juga telah mengumpulkan lebih dari 4.500 kilogram ghost net, atau sekitar 46 persen dari target 2026, dengan melibatkan 179 nelayan.

Upaya edukasi turut dilakukan dengan menjangkau 150 siswa di Muncar. Di sisi teknologi, sistem digital traceabilitySISA telah dimanfaatkan untuk mencatat proses pengumpulan jaring.

Kapasitas pengolahan juga meningkat hingga mencapai unit operasional 100 liter di Bandung. Sementara itu, pengembangan material dari ghost net telah menghasilkan Circulites, seri lampu meja yang menggunakan diffuserPrototiles® berbahan jaring ikan bekas.

“Dukungan DBS Foundation membantu kami membangun sistem yang lebih menyeluruh, mulai dari pengumpulan material, edukasi komunitas, peningkatan kapasitas teknologi, hingga pengembangan produk yang dapat diterima pasar. Bagi kami, dampak tidak berhenti pada pengurangan limbah, tetapi juga bagaimana komunitas pesisir dapat mengambil peran aktif dalam rantai ekonomi sirkular dan memperoleh manfaat ekonomi yang lebih baik,” ungkap CEO & Founder Parongpong RAW Lab Rendy Aditya Wachid.

MYCL Kembangkan Biomaterial dari Jamur dan Rumput Laut

Selain Parongpong RAW Lab, MYCL menjadi contoh lain pengembangan bisnis berdampak melalui inovasi material. MYCL tercatat sebagai DBS Foundation Grantee pada 2016 dan 2018.

Perusahaan tersebut pada awalnya mengembangkan material berbasis mycelium untuk memanfaatkan limbah pertanian. Kini, portofolionya telah berkembang mencakup mycelium composite, mycelium leather, hingga seaweed biopolymer.

Inovasi itu diarahkan untuk membantu industri beralih ke material dengan dampak lingkungan yang lebih rendah. Pada saat yang sama, pengembangan biomaterial menciptakan peluang nilai tambah bagi petani dan pekerja yang terlibat dalam rantai pasok.

Dukungan DBS Foundation turut membantu MYCL memperkuat aspek bisnis dan inovasi. Perusahaan telah mendaftarkan dua paten yang kemudian dikabulkan pada 2019 dan 2023, memiliki tiga merek dagang, serta memperoleh sertifikasi B Corp sebagai bagian dari penguatan tata kelola dampak.

Hingga 2026, MYCL telah melayani 968 pelanggan dari 56 negara. Produk dan teknologi material yang dikembangkan juga telah digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari industri fesyen hingga insulasi bangunan dan aplikasi mycelium untuk teknologi bernilai tambah tinggi.

MYCL juga telah menjalin kerja sama dengan Vivobarefoot dan pemasok tingkat pertama Adidas. Kolaborasi tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya penerimaan pasar global terhadap pengembangan biomaterial dari Asia Tenggara.

Dari sisi lingkungan, MYCL pada 2025 memanfaatkan 61,72 ton limbah biomassa. Langkah tersebut diperkirakan menghindari sekitar 148,75 ton CO2e dari biomassa yang berpotensi dibakar atau dimulsa.

Perusahaan juga melakukan upcycling terhadap 1,70 ton limbah substrat untuk kembali masuk ke rantai nilai. Jika dibandingkan dengan kulit hewan, produksi biomaterial MYCL mencatat penghematan sekitar 39.887 liter air dan mengurangi emisi sekitar 27,5 ton CO2.

Model bisnis tersebut turut memberikan manfaat kepada lebih dari 200 petani dan lebih dari 600 penerima manfaat tidak langsung dari keluarga petani. MYCL juga telah menciptakan lebih dari 60 lapangan kerja hijau di MYCL Eco Factory.

“Bagi MYCL, dukungan DBS Foundation tidak hanya membantu kami mengembangkan teknologi, tetapi juga memperkuat fondasi agar inovasi dapat tumbuh menjadi bisnis berdampak. Dengan mengolah limbah pertanian menjadi biomaterial, kami ingin menciptakan material alternatif yang lebih rendah dampak, sekaligus membangun rantai nilai yang memberikan manfaat bagi petani, pekerja, dan industri yang ingin bergerak menuju masa depan yang lebih sirkular,” jelas Co-founder Mycotech Lab Ronaldiaz Hartantyo.

DBS Foundation Perkuat Dukungan untuk Bisnis Berdampak

Dukungan terhadap social enterprises tersebut menjadi bagian dari komitmen jangka panjang DBS Foundation. Sejak 2015, DBS Foundation telah menyalurkan hibah lebih dari SGD21,5 juta kepada lebih dari 160 social enterprises di Asia.

Khusus di Indonesia, DBS Foundation telah memberikan hibah lebih dari SGD4 juta kepada lebih dari 20 social enterprises dan bisnis berdampak yang mengembangkan berbagai inovasi.

Dukungan tersebut diarahkan untuk membantu meningkatkan kualitas hidup dan penghidupan masyarakat rentan. Fokusnya mencakup pemenuhan kebutuhan dasar, perluasan inklusi keuangan dan digital, serta pengembangan usaha berdampak yang menawarkan solusi berkelanjutan.

Limbah Jadi Material Masa Depan, Parongpong RAW Lab dan MYCL Buka Peluang Ekonomi Baru
Executive Director of DBS Foundation Claire Wong, Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika, Head of DBS Foundation Karen Ngui, COO Parongpong RAW Lab Amiroh Husna Utami, dan CTO Parongpong RAW Lab Benjamin Paul Dobbs mengunjungi fasilitas produksi DBS Foundation Grantee 2025 Parongpong RAW Lab di Bandung, Kamis (20/08/2026). (katafoto/HO/Bank DBS Indonesia)

Head of DBS Foundation Karen Ngui mengatakan dukungan kepada Parongpong RAW Lab dan MYCL merupakan bagian dari upaya mendorong pertumbuhan bisnis yang memiliki tujuan sosial dan lingkungan.

“Mendukung social enterprises seperti Parongpong RAW Lab dan MYCL merupakan bagian dari upaya berkelanjutan kami untuk mendorong pertumbuhan purpose driven businesses dan memungkinkan mereka memperbesar skala bisnis sekaligus memperluas dampaknya. Keduanya menunjukkan bagaimana business-led solutions dapat berperan penting dalam membangun ketahanan sosial dan ekonomi di komunitas mereka. Saya sangat senang melihat bagaimana para social enterprises muda di Indonesia berkomitmen membawa perubahan, menjalankan bisnis dengan memberikan dampak positif,” ujar Karen saat mengunjungi fasilitas Parongpong RAW Lab dan Mycotech Lab di Bandung pada Kamis (20/08).

Pengalaman Parongpong RAW Lab dan MYCL memperlihatkan bagaimana pendekatan bisnis dapat digunakan untuk menjawab persoalan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

Melalui konsep Impact Beyond Banking, DBS Foundation berupaya memperluas dukungan bagi social enterprises melalui pendanaan, pendampingan, serta jejaring. Dengan dukungan tersebut, inovasi dari pelaku usaha berdampak diharapkan dapat berkembang lebih besar dan memberikan manfaat bagi masyarakat pesisir, petani, serta industri yang mulai beralih menuju praktik bisnis berkelanjutan.

Baca Juga

Sarjana Makin Sulit Cari Kerja? Lulusan 5 Jurusan Ini Sumbang Pengangguran Terbesar

Jakarta - Lulusan perguruan tinggi kini menghadapi persaingan yang...

Jakarta Barat Mulai Perangi DBD dengan Wolbachia, Ribuan Orang Tua Asuh Disiapkan

Jakarta - Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat mulai menerapkan...

Libur HUT RI Bikin Whoosh Penuh, 45 Ribu Penumpang Tembus dalam Dua Hari

Jakarta - Jumlah penumpang kereta cepat Whoosh mencapai 45.889...

AS Pasang Tarif Udang, Indonesia Justru Punya Keunggulan Dibanding India dan Vietnam

Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melihat peluang...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini