katafoto, Jakarta – Sebanyak 105.000 bibit mangrove akan ditanam di lima pulau di wilayah Kepulauan Seribu pada November 2026. Program yang disiapkan Suku Dinas Sumber Daya Air (Sudin SDA) Kepulauan Seribu ini bertujuan menekan abrasi, melindungi kawasan pesisir, dan menjaga keseimbangan ekosistem laut.
Sebagai langkah awal, Sudin SDA Kepulauan Seribu telah menggelar sosialisasi di Kelurahan Pulau Panggang dan Kelurahan Pulau Kelapa, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara.
Kepala Seksi Pengamanan dan Pengembangan Pesisir Pantai Sudin SDA Kepulauan Seribu, Wahyu Maulana, mengatakan program tersebut merupakan tindak lanjut kerja sama dengan Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Kehutanan RI.
Menurut Wahyu, kerja sama itu tidak hanya berfokus pada penanaman mangrove, tetapi juga mencakup perlindungan pantai melalui pembangunan struktur pengaman pantai dan penahan ombak. Selain itu, terdapat pembangunan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik (SPALD) untuk menjaga kebersihan laut dan kualitas air tanah.
“Penanaman mangrove menjadi salah satu upaya alami untuk mengurangi abrasi, melindungi daratan pulau, dan menjaga ekosistem pesisir agar tetap sehat,” ujarnya, Senin (26/10).
Wahyu menjelaskan, penanaman akan dilaksanakan di Pulau Harapan, Pulau Kelapa, Pulau Kelapa Dua, Pulau Panggang, dan Pulau Pramuka. Setiap pulau memperoleh alokasi sekitar 21.000 bibit, sehingga total bibit yang disiapkan mencapai 105.000 batang.
Pelaksanaan program ini juga melibatkan berbagai unsur masyarakat. Keterlibatan warga diharapkan tidak berhenti pada proses penanaman, tetapi berlanjut hingga pemeliharaan mangrove.
“Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan berbagai unsur masyarakat agar warga turut berperan dalam penanaman sekaligus pemeliharaan mangrove,” terangnya.
Ia menerangkan, mangrove mempunyai fungsi penting dalam menjaga kestabilan garis pantai. Akar mangrove membantu menahan sedimen dan meredam dampak gelombang laut sehingga dapat mengurangi risiko pengikisan daratan akibat abrasi.
Di sisi lain, kawasan mangrove menjadi habitat bagi berbagai biota laut, termasuk ikan, udang, dan kepiting. Tanaman ini juga mampu menyerap karbon yang berkontribusi terhadap upaya menjaga keseimbangan lingkungan.
“Keberadaan mangrove diharapkan dapat menjaga lingkungan pesisir, mendukung keberlangsungan sumber daya ikan, dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat pulau,” ungkapnya.
Untuk mendukung keberhasilan program, Sudin SDA Kepulauan Seribu melibatkan tiga kelompok Sentra Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) dalam kegiatan pengawasan dan pendampingan.
Ketiga kelompok tersebut terdiri dari SPKP Bintang Laut yang mencakup Pulau Kelapa dan Pulau Kelapa Dua, SPKP Elang Bondol di Pulau Harapan, serta SPKP Samo Samo yang meliputi Pulau Pramuka, Pulau Panggang, dan Pulau Karya.
Wahyu menambahkan, pemantauan dan evaluasi akan dilakukan secara berkala setelah penanaman. Langkah ini diperlukan untuk memastikan bibit tumbuh dengan baik sekaligus mengganti tanaman yang rusak atau tidak berkembang secara optimal.
“Melalui pemantauan berkala, kami berharap jumlah bibit sesuai target dan pertumbuhannya optimal sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” ucapnya.
Sementara itu, Lurah Pulau Panggang, Jamaluddin, menyatakan dukungannya terhadap rencana penanaman mangrove tersebut. Menurutnya, partisipasi masyarakat menjadi salah satu faktor penting agar bibit yang ditanam dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat bagi kawasan pesisir.
Ia berharap program ini tidak sekadar menjadi kegiatan penghijauan, tetapi juga mendorong tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan pulau.
“Kami mengajak warga bersama-sama merawat tanaman mangrove untuk mencegah abrasi serta mendukung keberlanjutan mata pencaharian nelayan di Kepulauan Seribu,” tandasnya.

