Jakarta – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mengalami tekanan signifikan pada sesi I perdagangan Senin (4/5), seiring meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap kebijakan baru pemerintah.
Hingga sekitar pukul 11.12 WIB, saham GOTO tercatat melemah 5,56% ke level Rp51. Penurunan ini terjadi di tengah dominasi aksi jual yang mewarnai pergerakan saham sejak awal sesi perdagangan.
Sentimen negatif dipicu oleh rencana pembatasan potongan komisi bagi pengemudi ojek online menjadi maksimal 8%, turun dari kisaran sebelumnya sekitar 20%. Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026yang diumumkan oleh Prabowo Subianto dalam peringatan Hari Buruh Internasional.
Sementara dari sisi analis, Mandiri Sekuritas menilai kebijakan ini berpotensi menekan kinerja segmen on-demand services (ODS). Dengan pembatasan komisi menjadi 8%, porsi pendapatan untuk mitra pengemudi diperkirakan meningkat hingga 92%, yang berarti margin platform akan tergerus signifikan.
Penurunan komisi sekitar 12 poin persentase tersebut bahkan dinilai berpotensi menghapus kontribusi EBITDA yang disesuaikan dari segmen ODS, yang selama ini menyumbang sekitar 48% terhadap kinerja grup pada kuartal I 2026.
“Pertumbuhan fintech dan opsi konsolidasi adalah penyeimbang utama,” tulis analis Mandiri Sekuritas dalam laporannya.
Menanggapi kebijakan tersebut, Direktur Utama GOTO, Hans Patuwo, mengatakan bahwa perusahaan akan mematuhi regulasi yang berlaku sambil melakukan kajian lebih lanjut.
“Saat ini kami akan melakukan pengkajian untuk memahami detail, implikasi dan penyesuaian yang diperlukan sesuai dengan peraturan tersebut,” ujarnya dikutip dari laman berita satu.
Ia menambahkan, perusahaan terus berkoordinasi dengan pemerintah dan para pemangku kepentingan guna menjaga keberlanjutan layanan.
“Sehingga GoTo/Gojek dapat terus memberi manfaat berkelanjutan kepada seluruh masyarakat terutama mitra driver dan pelanggan Gojek,” kata Hans.
Di sisi lain, tekanan terhadap saham GOTO muncul di tengah kinerja keuangan yang menunjukkan perbaikan. Perusahaan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp171 miliar pada kuartal I 2026, berbalik dari rugi Rp367 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Capaian tersebut sebelumnya menjadi sinyal awal bahwa model bisnis GOTO mulai memasuki fase profitabilitas. Namun, sentimen regulasi kini kembali menjadi tantangan utama bagi prospek saham perseroan ke depan.

