31.9 C
Jakarta
Minggu, Mei 17, 2026
BerandaKATA GAYA HIDUPKESEHATANKesulitan Ekonomi Ternyata Bisa Mempercepat Penuaan Hingga 30 Tahun

Kesulitan Ekonomi Ternyata Bisa Mempercepat Penuaan Hingga 30 Tahun

Kerapuhan fisik pada usia lanjut selama ini kerap dianggap sebagai bagian alami dari proses penuaan. Penurunan kekuatan tubuh, penyakit kronis, gangguan ingatan, hingga lambatnya pemulihan dari stres sering dikaitkan langsung dengan bertambahnya usia.

Namun, penelitian terbaru terhadap lebih dari 15.000 lansia di Inggris menemukan faktor lain yang dinilai memiliki pengaruh besar terhadap penurunan kondisi fisik dan mental tersebut. Tekanan finansial, kondisi perumahan yang buruk, kerawanan pangan, hingga ketidakstabilan hidup disebut berkontribusi besar terhadap proses penuaan.

Penelitian yang dilakukan ilmuwan dari Universitas Edinburgh itu memperkenalkan metode baru untuk mengukur tekanan sosial pada lansia. Hasilnya menunjukkan bahwa kesulitan hidup sehari-hari dapat memengaruhi penuaan sama kuatnya dengan faktor biologis tubuh.

Tim peneliti memantau orang dewasa berusia di atas 50 tahun selama 14 tahun. Dalam studi tersebut, mereka mengembangkan sistem pengukuran baru berupa skor kuantitatif tunggal untuk menilai tingkat kerentanan sosial pada usia lanjut.

Dilansir dari laman earth, penelitian yang dipimpin Laurence Rowley-Abel dari Sekolah Ilmu Sosial dan Politik Universitas Edinburgh bersama sejumlah kolaborator dari Amerika Serikat dan Skotlandia.

Para peneliti ingin mengetahui apakah tekanan hidup di usia senja, seperti kesulitan membayar sewa, memenuhi kebutuhan makanan, hingga menjaga rumah tetap hangat, meninggalkan dampak nyata terhadap kondisi tubuh lansia.

Dalam studi ini, kerapuhan dipahami sebagai hilangnya daya tahan tubuh secara perlahan seiring bertambahnya usia. Kondisi tersebut membuat tubuh semakin rentan menghadapi tekanan maupun gangguan kesehatan.

Sebelumnya, pendekatan standar untuk mengukur kerapuhan dilakukan dengan menghitung berbagai defisit kecil, mulai dari gangguan keseimbangan, penurunan daya ingat, hingga penyakit kronis. Seluruh faktor itu kemudian digabungkan menjadi satu skor yang mampu memprediksi risiko rawat inap maupun kematian lebih baik dibanding faktor usia semata.

Melalui penelitian terbaru ini, tim ilmuwan mengembangkan Indeks Prekaritas Usia Senja yang menilai aspek sosial dari penuaan. Mereka mengidentifikasi 21 faktor risiko dalam enam kategori, yakni kondisi keuangan, pensiun, pekerjaan, perumahan, hubungan sosial, dan tanggung jawab perawatan tanpa bayaran.

Masalah keuangan menjadi faktor yang paling dominan. Pendapatan rendah, keterbatasan tabungan, hingga ketergantungan pada bantuan sosial berkaitan erat dengan tingginya skor kerapuhan.

Tidak hanya itu, kekhawatiran terhadap kondisi finansial di masa depan juga memiliki dampak tersendiri terhadap kesehatan lansia, bahkan ketika kondisi keuangan mereka sebenarnya masih tergolong stabil.

Penelitian juga menemukan bahwa kerawanan pangan, seperti terpaksa melewatkan waktu makan karena keterbatasan biaya, berkorelasi kuat dengan penurunan kondisi fisik dan mental. Hal serupa terjadi pada kemiskinan energi, yaitu ketidakmampuan memenuhi kebutuhan pemanas rumah.

Menariknya, faktor-faktor tersebut tetap berpengaruh meskipun tingkat pendapatan dan kekayaan secara keseluruhan telah diperhitungkan. Artinya, rasa lapar dan hidup dalam kondisi dingin memiliki dampak tersendiri terhadap proses penuaan.

Masalah perumahan juga menjadi perhatian dalam studi ini. Lansia yang masih menyewa rumah diketahui memiliki skor kerapuhan lebih tinggi dibanding mereka yang memiliki rumah sendiri. Tinggal di lingkungan dengan kelembapan, jamur, atau kondisi hunian yang buruk turut memperburuk kondisi kesehatan.

Bahkan, pengalaman tunawisma pada masa lalu disebut meninggalkan dampak jangka panjang yang masih terlihat hingga puluhan tahun kemudian.

Peneliti menilai pengaruh kondisi perumahan tidak semata terkait kemampuan ekonomi, melainkan juga kualitas tempat tinggal itu sendiri yang memengaruhi kesehatan.

Selama ini, penelitian mengenai ketimpangan dalam penuaan lebih banyak menggunakan indikator umum seperti tingkat kekayaan dan pendidikan. Namun, menurut tim peneliti, pendekatan tersebut belum cukup menggambarkan kondisi nyata yang dialami lansia sehari-hari.

Indeks kerentanan sosial yang dikembangkan dalam penelitian ini disebut mampu menjelaskan hampir empat kali lebih banyak variasi kondisi kerapuhan dibanding gabungan indikator kekayaan dan pendidikan.

Penelitian juga menemukan kesenjangan besar antara lansia dengan kehidupan stabil dan mereka yang hidup dalam tekanan sosial berat. Perbedaan tersebut bahkan disebut setara dengan sekitar 30 tahun penuaan biologis.

Lansia dengan tingkat kerentanan sosial tertinggi memiliki kondisi fisik yang setara dengan orang lain yang berusia 30 tahun lebih tua tetapi hidup dalam kondisi stabil.

Sementara itu, faktor hubungan sosial menunjukkan hasil yang lebih beragam. Menjadi janda atau duda hanya memberi pengaruh kecil terhadap risiko kerapuhan. Hidup sendiri juga tidak menunjukkan dampak signifikan, begitu pula perceraian.

Dalam aspek pengasuhan, lansia yang sesekali memberikan perawatan tanpa bayaran justru memiliki skor kerapuhan sedikit lebih rendah. Namun, mereka yang sampai meninggalkan pekerjaan demi merawat anggota keluarga diketahui mengalami kondisi kesehatan lebih buruk.

Temuan tersebut memperkuat penelitian sebelumnya mengenai dampak kebijakan penghematan di Inggris terhadap percepatan penuaan dan memburuknya kesehatan masyarakat.

“Penelitian ini menunjukkan dampak kesehatan yang substansial dari keadaan sosial yang genting yang dihadapi banyak orang seiring bertambahnya usia,” kata Rowley-Abel.

Ia mengingatkan bahwa pemangkasan dukungan sosial berpotensi menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang karena meningkatkan paparan terhadap kondisi hidup yang menghambat proses penuaan sehat dan kemandirian lansia.

Bagi tenaga medis, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertanyaan mengenai kemampuan membayar tagihan pemanas rumah atau kestabilan tempat tinggal bisa sama pentingnya dengan pemeriksaan kesehatan rutin.

Sementara bagi pembuat kebijakan, indeks tersebut dinilai dapat membantu memantau dampak pemotongan bantuan sosial terhadap kesehatan masyarakat dalam jangka panjang, termasuk peningkatan angka rawat inap.

Baca Juga

Dijuluki Rolls-Royce China, Huawei Luncurkan MPV Mewah Maextro V800

Tiongkok - Huawei melalui merek premium Maextro resmi memperkenalkan...

Dari Museum Marsinah, Prabowo Serukan Negara Harus Hadir Lindungi Kaum Buruh

Nganjuk - Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia dibangun di...

Pengusaha Lokal Jadi Kunci Ekonomi Bangkitnya UMKM Jaktim

Jakarta - Pemerintah Kota Jakarta Timur mengapresiasi atas kontribusi...

Libur Panjang, 6.252 Wisatawan Serbu Kepulauan Seribu

Jakarta - Sebanyak 6.252 wisatawan domestik dan mancanegara memadati...

Honda Tambah Fasilitas Bodi Cat dan Dealer Mobil Bekas di Dua Kota

Jakarta - PT Honda Prospect Motor (HPM) menghadirkan layanan...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini