26.2 C
Jakarta
Sabtu, Juli 11, 2026
BerandaKATA EKBISINDUSTRIUmrah Makin Mahal, Kenaikan Avtur dan Dolar Picu Lonjakan Biaya Perjalanan

Umrah Makin Mahal, Kenaikan Avtur dan Dolar Picu Lonjakan Biaya Perjalanan

Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) serta kenaikan harga avtur mulai memberikan dampak signifikan terhadap industri perjalanan umrah dan haji. Kondisi tersebut memaksa sejumlah biro perjalanan melakukan penyesuaian harga paket karena biaya operasional yang terus meningkat.

Wakil Bendahara Umum Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri), Rizky Amelia, mengatakan bahwa penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan biaya perjalanan ibadah ke Tanah Suci.

Menurutnya, perubahan kurs dolar dari sekitar Rp16.800 menjadi Rp18.100 per dolar AS berdampak langsung pada biaya yang harus ditanggung setiap jemaah.

“Dari kenaikan kurs ini saja, selisih biaya per jemaah (per pax) sudah berkisar Rp 2,8 juta hingga Rp 3 juta,” ungkap Amelia, Sabtu (6/6).

Direktur Utama Elaf Indonesia itu menjelaskan, tekanan terhadap biaya perjalanan semakin besar setelah maskapai penerbangan melakukan penyesuaian tarif menyusul kenaikan harga avtur di berbagai daerah.

Ia menjelaskan bahwa penerbangan umrah dari Surabaya umumnya menggunakan rute langsung menuju Jeddah atau Madinah tanpa transit. Kondisi tersebut membuat biaya operasional penerbangan lebih tinggi dibandingkan keberangkatan dari Jakarta yang memiliki lebih banyak pilihan rute.

“Kenaikan avtur ini sifatnya nasional. Untuk maskapai Lion berkisar Rp 5 juta, Garuda Rp 7 juta, dan Saudi Airlines bisa mencapai Rp 7,5 hingga Rp 8 juta. Akibatnya, penyesuaian harga tidak bisa dihindari,” terangnya dikutip dari laman berita satu. 

Meski biaya perjalanan mengalami kenaikan, minat masyarakat untuk menjalankan ibadah umrah masih terbilang tinggi. Amelia mengungkapkan jumlah pendaftar untuk keberangkatan Juli 2026 tetap menunjukkan tren yang stabil.

Berdasarkan data manifest keberangkatan, penurunan jumlah calon jemaah hanya berada di kisaran 10 persen. Bahkan hingga saat ini belum ditemukan adanya pembatalan keberangkatan yang disebabkan oleh kenaikan biaya perjalanan.

“Alhamdulillah, jemaah yang mendaftar untuk keberangkatan Juli nanti tetap stabil dan tidak ada yang mengundurkan diri. Mereka memahami situasi ekonomi global ini,” katanya.

Amelia menambahkan, mayoritas jemaah lebih memilih menerima penyesuaian biaya dibandingkan harus mengurangi kualitas layanan maupun fasilitas yang akan mereka peroleh selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.

“Semua kembali ke kualitas. Jemaah tetap menghendaki fasilitas yang prima dan mereka siap dengan penyesuaian tersebut karena nilainya dirasa masih cukup rasional dan terjangkau,” pungkasnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meski tekanan ekonomi global berdampak pada biaya perjalanan umrah dan haji, keinginan masyarakat Indonesia untuk beribadah ke Tanah Suci masih tetap tinggi. Faktor kualitas layanan dan kenyamanan perjalanan tetap menjadi pertimbangan utama bagi para calon jemaah.

Baca Juga

Shelter Grab Thamrin-Bundaran HI Resmi Beroperasi 24 Jam

Jakarta - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, meresmikan Shelter...

Kenali Tanda Skincare yang Tidak Cocok di Wajah, Nomor 7 Sering Diabaikan

Jakarta - Memilih produk skincare yang sesuai dengan jenis...

Harga Ayam dan Telur Tertekan, Pemerintah Tetapkan Harga Acuan Mulai 15 Juli

Jakarta - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menegaskan pemerintah...

Tips ABCDE Jadi Senjata Baru Lumajang Cegah Stunting

Lumajang - Pencegahan stunting dapat dimulai dari kebiasaan sederhana...

Mengapa Ekonomi Tumbuh tetapi Pengangguran Masih Mengintai? Ini Analisis Ekonom

Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang konsisten berada di...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini