Sulawesi Utara – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), Sulawesi Utara, mencatat sebanyak 36 kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) dalam kurun lima tahun terakhir.
Dari total kasus tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia. Sementara itu, 33 pasien lainnya masih menjalani pengobatan dan pemantauan oleh tenaga kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Bolmut, Sofian Mokoginta, mengatakan kasus HIV/AIDS ditemukan pada berbagai kelompok masyarakat, mulai dari warga yang bekerja di luar daerah, pekerja seks, hingga lebih dari satu aparatur sipil negara (ASN).
“Dalam lima tahun ini kasus HIV/AIDS di Bolmut sebanyak 36 orang,” kata Sofian saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (9/7).
Berdasarkan data Dinkes Bolmut, kasus HIV/AIDS tersebar di enam kecamatan. Kecamatan Bolangitang Timur menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak, yakni 13 orang.
Adapun rincian penyebaran kasus meliputi Bolangitang Timur sebanyak 13 kasus, Bintauna tujuh kasus, Bolangitang Barat lima kasus, Pinogaluman empat kasus, Kaidipang tiga kasus, dan Sangkub satu kasus.
Dilihat dari jenis kelamin, penderita didominasi laki-laki dengan 23 kasus, sedangkan perempuan tercatat sebanyak 10 kasus.
Mobilitas Warga Dinilai Meningkatkan Risiko
Sofian menjelaskan sebagian besar pasien merupakan warga Bolmut yang bekerja di luar daerah dan terinfeksi sebelum kembali ke kampung halaman. Tingginya mobilitas penduduk, ditambah perilaku berisiko, menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penyebaran HIV/AIDS di wilayah tersebut.
Karena itu, Dinas Kesehatan mengajak masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat, meningkatkan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi, menghindari perilaku berisiko, serta rutin melakukan pemeriksaan kesehatan.
“Pemeriksaan kesehatan rutin penting dilakukan agar penanganan bisa lebih cepat dan risiko penularan dapat ditekan,” ujar Sofian.
Dinkes Bolmut menegaskan bahwa deteksi dini serta kepatuhan menjalani terapi merupakan langkah penting untuk menjaga kualitas hidup orang dengan HIV (ODHIV). Upaya tersebut juga dinilai efektif dalam menekan risiko penularan HIV di lingkungan masyarakat.

