Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat terhadap meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia pada 20–26 Agustus 2026.
Kondisi atmosfer yang cenderung kering, ditambah tingginya jumlah titik panas, membuat risiko kebakaran perlu mendapat perhatian, terutama di wilayah Sumatra, Jawa, dan Kalimantan.
Dalam keterangannya, Kamis (20/8/2026), BMKG menyebut fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif masih bertahan. Pada Dasarian I Agustus 2026, indeks IOD berada di level +0,457, naik dari +0,242 pada Juli.
IOD positif ditandai dengan suhu muka laut yang lebih tinggi dari normal di Samudra Hindia bagian barat, sementara suhu di sekitar perairan Sumatra dan Jawa bagian barat relatif lebih rendah. Kondisi ini secara umum dapat mengurangi pasokan uap air ke Indonesia sehingga mendukung terbentuknya cuaca lebih kering.
Faktor lainnya adalah kondisi El Niño yang semakin menguat. Nilai anomali suhu muka laut (SSTA) di wilayah Nino3.4 tercatat +2,77, meningkat dibandingkan +2,20 pada Juli.
Angka tersebut menunjukkan El Niño berada pada kategori sangat kuat. Kondisi atmosfer yang terpantau BMKG juga secara umum kurang mendukung pertumbuhan awan hujan.
Meski demikian, peluang hujan masih ada karena aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO). Fenomena tersebut berpotensi mendukung pertumbuhan awan hujan di sejumlah daerah, khususnya Sumatra, Kalimantan Timur bagian utara, dan Kalimantan Utara.
Selain MJO, gelombang Kelvin diprediksi aktif di Aceh? Wait.
Gelombang Kelvin juga diperkirakan aktif di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, hingga Kalimantan Barat.
Dalam sepekan mendatang, peluang pertumbuhan awan hujan dengan kategori tinggi atau lebih dari 70 persen terdapat di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Lampung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, dan sejumlah wilayah Papua.
Namun, kondisi cuaca secara umum diperkirakan berada pada kisaran cerah berawan hingga hujan ringan. Hujan dengan intensitas sedang berpeluang terjadi di sebagian Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Kalimantan Utara, dan Papua Pegunungan.
Dalam 24 jam terakhir, hujan sedang hingga lebat masih tercatat di sejumlah daerah, antara lain Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, Lampung, Banten, dan Kalimantan Utara.
Di sisi lain, BMKG mendeteksi adanya asap di Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Pergerakan asap terpantau dari barat menuju timur laut.
Sementara itu, pola angin di sebagian besar wilayah Indonesia umumnya bergerak dari arah tenggara menuju barat laut hingga utara.
Ribuan Titik Panas Terdeteksi
Potensi karhutla juga terlihat dari tingginya jumlah titik panas yang terpantau pada 19 Agustus 2026. Berdasarkan pemantauan pukul 00.00–23.00 WIB, BMKG mencatat ribuan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Sumatra, Kalimantan, dan Papua.
Total titik panas mencapai 34 titik di Sumatra, 1.106 titik di Kalimantan, dan 179 titik di Papua.
Di Sumatra, titik panas terdeteksi di Riau sebanyak tujuh titik, Jambi dua titik, Sumatra Selatan lima titik, Kepulauan Riau satu titik, Kepulauan Bangka Belitung 15 titik, dan Lampung empat titik.
Jumlah titik panas di Kalimantan jauh lebih tinggi. Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 521 titik, disusul Kalimantan Tengah 424 titik, Kalimantan Timur 103 titik, Kalimantan Selatan 40 titik, dan Kalimantan Utara 18 titik.
Sementara di Papua, titik panas terdeteksi di Papua sebanyak dua titik, Papua Barat 14 titik, Papua Barat Daya satu titik, Papua Pegunungan delapan titik, Papua Selatan 144 titik, dan Papua Tengah 10 titik.
BMKG secara khusus memantau tujuh provinsi yang menjadi prioritas dalam penanganan karhutla. Ketujuh wilayah tersebut adalah Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Dalam pemantauan selama 10 hari terakhir, jumlah titik panas di tujuh provinsi tersebut menunjukkan pola yang masih fluktuatif.
Risiko Karhutla Meluas
Berdasarkan indikator Fire Weather Index (FWI), potensi karhutla pada 20–26 Agustus 2026 berada pada kategori rendah hingga sangat tinggi di sejumlah wilayah Sumatra, Jawa, dan Kalimantan.
Di Sumatra, kewaspadaan perlu ditingkatkan di Aceh bagian utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu bagian barat, Sumatra Selatan, Lampung, serta Kepulauan Bangka Belitung.
Di Pulau Jawa, potensi karhutla terdeteksi di sebagian besar wilayah. Sementara di Kalimantan, wilayah yang perlu mendapat perhatian terutama Kalimantan Barat bagian tengah dan selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, serta Kalimantan Timur.
Sebagai bagian dari upaya pengendalian karhutla, operasi modifikasi cuaca (OMC) di Provinsi Riau masih dilakukan. Operasi tersebut berlangsung sejak 30 Juli dan dijadwalkan hingga 22 Agustus 2026.
BMKG meminta perhatian lebih terhadap wilayah yang memiliki jumlah titik panas tinggi dan kondisi atmosfer yang relatif kering. Daerah yang menjadi perhatian meliputi Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.

