katafoto, Sleman – Usia lanjut bukan menjadi alasan untuk berhenti belajar dan mengembangkan diri. Semangat tersebut terlihat dari 40 perempuan paruh baya yang mengikuti pembukaan Sekolah Lansia Wredha Mulya (SALWA) Angkatan ke-2 di Kapanewon Mlati, Sleman, Kamis (24/9).
Mengangkat tema “Belajar Tiada Batas, Bahagia di Usia Emas”, SALWA hadir sebagai sekolah nonformal yang memberikan ruang bagi para lansia untuk belajar sekaligus berinteraksi. Program ini diarahkan untuk membantu peserta tetap sehat, mandiri, aktif, dan memiliki kualitas hidup yang baik.
SALWA merupakan unit pelayanan sosial yang berada di bawah binaan Yayasan Wredha Mulya. Kurikulum yang digunakan disusun khusus agar sesuai dengan kebutuhan dan kehidupan sehari-hari masyarakat lanjut usia.
Peserta SALWA Disebut “Mahawredha”
Ada istilah khusus yang digunakan untuk menyebut peserta didik SALWA. Koordinator SALWA, Suripto, mengatakan para peserta tidak dipanggil siswa maupun mahasiswa, melainkan “mahawredha”.
Istilah tersebut menjadi bentuk penghargaan terhadap para peserta yang berada pada fase kehidupan senior.
Program SALWA juga mendapat sambutan positif sejak angkatan pertama. Dari 35 peserta angkatan sebelumnya, sebanyak 27 mahawredha berhasil menyelesaikan pendidikan hingga mengikuti wisuda.
Pada angkatan kedua, jumlah peserta meningkat menjadi 40 orang. Seluruh peserta merupakan perempuan dengan usia termuda 62 tahun, sedangkan peserta tertua berusia 79 tahun.
Belajar Dua Kali Sebulan
Kepala Sekolah SALWA, Sugiyanto, menjelaskan pendidikan berlangsung selama dua semester dengan total 24 kali pertemuan. Kegiatan belajar dilaksanakan dua kali setiap bulan, tepatnya pada Kamis di minggu kedua dan keempat. Pembelajaran berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 11.00 WIB.
Setelah menyelesaikan 24 pertemuan, peserta akan mengikuti prosesi wisuda pada pertemuan ke-25. Materi pembelajaran tidak hanya berfokus pada teori kesehatan. Kurikulum SALWA juga dirancang agar dekat dengan persoalan yang dihadapi lansia dalam kehidupan sehari-hari.
Sebanyak 19 pengajar disiapkan untuk memberikan berbagai materi kepada para mahawredha. Topiknya antara lain cara menghadapi dinamika hubungan dengan cucu dan menantu, pengelolaan tidur dan gizi, psikologi, religi, hukum keluarga dan waris, terapi spiritual, hingga olahraga berupa senam lansia.
Lansia Juga Dibekali Literasi Digital
SALWA turut menyesuaikan materi pembelajaran dengan perkembangan teknologi. Para peserta mendapatkan pengetahuan mengenai literasi digital, pemasaran daring, pengenalan media sosial, hingga penggunaan layanan mobile banking.
Materi tersebut diharapkan membantu para lansia lebih percaya diri dalam menggunakan teknologi yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Selain materi modern, SALWA tetap mempertahankan unsur budaya lokal. Peserta juga diperkenalkan dengan pemaknaan tembang Jawa serta filosofi Dadi Wong Jowo.
Dengan berbagai materi tersebut, SALWA tidak hanya menjadi tempat bagi lansia untuk memperoleh pengetahuan baru. Sekolah ini juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, membangun interaksi sosial, menjaga kesehatan mental, serta menumbuhkan semangat menjalani kehidupan.

