katafoto, Yogyakarta – Kebiasaan merokok di tengah keterbatasan ekonomi keluarga berpotensi menggeser pemenuhan kebutuhan pangan bergizi. Pengeluaran untuk membeli rokok bahkan kerap lebih besar dibandingkan belanja sumber protein seperti telur, susu, dan daging. Kondisi ini menjadi perhatian karena dapat memengaruhi kecukupan gizi anak dan meningkatkan risiko stunting.
Fenomena tersebut tercermin dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Data itu menunjukkan pengeluaran rumah tangga miskin untuk konsumsi rokok sering kali melampaui anggaran yang dialokasikan untuk sejumlah bahan pangan bergizi.
Pakar Promosi Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Yayi Suryo Prabandari mengatakan kebiasaan tersebut dapat berdampak langsung terhadap pemenuhan gizi anggota keluarga, terutama anak-anak.
“Jelas memberikan dampak besar pada pemenuhan gizi keluarga. Sayangnya, di tingkat rumah tangga, tidak semua ibu memiliki daya tawar untuk mengatur alokasi anggaran belanja jika suami menjadi satu-satunya pencari nafkah,” ujar Yayi, Senin (2/11).
Ia menjelaskan, hasil kajian menunjukkan kebiasaan merokok dalam keluarga paling banyak ditemukan pada kelompok masyarakat miskin dan sangat miskin. Dalam kondisi ekonomi yang sulit, rokok sering dijadikan sarana hiburan atau mekanisme untuk menghadapi tekanan hidup (coping mechanism).
Namun, pengeluaran untuk rokok berisiko mengurangi anggaran yang seharusnya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan bergizi bagi anak.
Dilansir dari laman ugm, menurut Yayi, mengurangi ketergantungan terhadap rokok tidak cukup dilakukan melalui imbauan tenaga kesehatan. Dibutuhkan pendekatan pemberdayaan masyarakat dari tingkat bawah dengan melibatkan tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh dan dipercaya warga, seperti lurah, pengurus RT/RW, hingga tokoh agama.
“Pesan edukasi mengenai pentingnya masa depan dan gizi anak harus disampaikan oleh pihak yang dipercaya masyarakat. Kami dari bidang promosi kesehatan dapat memfasilitasi materi edukasinya, namun tokoh masyarakatlah yang menjadi penggeraknya di lapangan,” jelasnya.
Cukai Rokok Naik, Konsumen Beralih ke Produk Murah
Selain persoalan pengelolaan keuangan keluarga, Yayi menyoroti tantangan kebijakan pengendalian konsumsi rokok di tingkat nasional maupun daerah.
Menurutnya, kenaikan cukai rokok tidak selalu diikuti penurunan jumlah perokok. Sebagian konsumen justru beralih ke produk dengan harga lebih murah atau rokok ilegal yang tidak dilengkapi pita cukai. Perilaku tersebut dikenal dengan istilah downtrading.
Di sisi lain, upaya melindungi anak dan remaja dari paparan rokok dinilai masih menghadapi kendala dalam penerapannya.
Yayi menyebut ketentuan pembatasan penjualan rokok berdasarkan usia minimal 21 tahun telah tercantum dalam regulasi pemerintah. Namun, pengawasan di lapangan dinilai masih terbatas pada gerai ritel modern dan belum menjangkau secara optimal warung-warung kelontong.
“Kami terus mendorong lahirnya gerakan desa atau rumah bebas asap rokok. Di beberapa daerah seperti di DIY, beberapa pengelola warung bahkan sudah berani membuat kesepakatan untuk menolak menjual rokok kepada anak-anak,” tambah Yayi.
UGM Kembangkan Program Pencegahan Merokok di Sekolah
Untuk mencegah kebiasaan merokok sejak usia dini, FK-KMK UGM juga mengembangkan program peer supportermelalui penelitian kolaboratif di lingkungan sekolah.
Program tersebut melibatkan teman sebaya sebagai pendukung edukasi untuk mencegah remaja mencoba merokok. Pendekatan ini diharapkan dapat membangun kesadaran di kalangan pelajar mengenai risiko kebiasaan merokok.
Menutup keterangannya, Yayi mengingatkan para kepala keluarga yang masih merokok agar lebih memperhatikan kesehatan dan kebutuhan gizi anak serta pasangan mereka.
Ia mengajak para perokok aktif mulai mengurangi kebiasaan tersebut, setidaknya dengan tidak merokok di dalam rumah. Anggaran yang sebelumnya digunakan untuk membeli rokok juga dapat dialihkan secara bertahap untuk memenuhi kebutuhan pangan bergizi keluarga.
“Sayangilah anak dan istri. Langkah paling minimal yang bisa dilakukan adalah tidak merokok di dalam rumah. Pikirkanlah untuk memberikan makanan yang terbaik bagi keluarga, dan pelan-pelan sisihkan anggaran hobi merokok itu untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak kita,” pungkasnya.

