33 C
Jakarta
Kamis, Juni 11, 2026
BerandaKATA EKBISENERGIPakar Bongkar Fakta, BBM Pertamina dengan Etanol 3,5 Persen Aman untuk Mesin

Pakar Bongkar Fakta, BBM Pertamina dengan Etanol 3,5 Persen Aman untuk Mesin

Jakarta – Sejumlah pakar energi menilai kekhawatiran sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta terhadap kandungan etanol dalam bahan bakar minyak (BBM) dasar yang diimpor PT Pertamina (Persero) tidak memiliki dasar teknis yang kuat.

Guru Besar Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Tri Yuswidjajanto, menjelaskan bahwa pencampuran etanol dalam BBM merupakan praktik umum di banyak negara. Bahkan, kadar etanol di luar negeri jauh lebih tinggi dibandingkan milik Pertamina yang hanya 3,5 persen.

“Di Amerika Serikat, bensin dengan campuran etanol 10 persen dijual bebas dan tidak menimbulkan masalah pada mesin kendaraan. Di Brasil, kandungan etanolnya bahkan mencapai 85 persen, dan di Australia juga sudah diterapkan,” ujar Tri saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin (6/10).

Menurutnya, kadar etanol sebesar 3,5 persen tidak memengaruhi performa mesin maupun konsumsi bahan bakar secara signifikan. Meski kandungan energi etanol lebih rendah dibanding bensin—yakni sekitar 26,8–29,7 megajoule per kilogram versus 40 megajoule per kilogram—perbedaan tersebut sangat kecil.

“Jika etanolnya hanya 3,5 persen, penurunan energi hanya sekitar satu persen. Artinya, daya mesin nyaris tak berubah dan konsumsi BBM tetap efisien. Secara internasional, dampak baru terasa kalau kadar etanol mencapai dua kali lipat dari itu,” jelasnya dikutip dari laman infopublik.

Tri menilai keberatan SPBU swasta terhadap penggunaan BBM dasar dari Pertamina lebih disebabkan oleh kepentingan bisnis ketimbang faktor teknis.

“Ini lebih ke upaya menekan pemerintah agar memberikan kembali kuota impor kepada mereka,” tegasnya.

Pandangan serupa disampaikan Muhammad Rifqi Dwi Septian, dosen Rekayasa Minyak dan Gas Institut Teknologi Sumatera (Itera). Ia menilai kekhawatiran soal risiko kerusakan mesin akibat etanol terlalu dibesar-besarkan.

“Selama produksi dan penyimpanan sesuai standar, risikonya sangat kecil. Kendaraan modern saat ini juga sudah kompatibel dengan bahan bakar campuran etanol,” ujarnya.

Rifqi menambahkan, penggunaan etanol dalam BBM justru memberi manfaat lingkungan karena membantu menekan emisi gas buang.

“Etanol memiliki kandungan oksigen tinggi yang membuat pembakaran lebih sempurna. Akibatnya, emisi karbon monoksida dan hidrokarbon bisa berkurang, sehingga lebih ramah lingkungan,” tambahnya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyampaikan bahwa kendaraan di Indonesia sebenarnya sudah kompatibel dengan kadar etanol hingga 20 persen.

Namun, penerapan di Indonesia masih dibatasi maksimal lima persen karena menyesuaikan dengan ketersediaan bahan baku etanol lokal, seperti tebu dan jagung.

“Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga belum mengizinkan impor bahan baku etanol, sehingga kadar etanol dalam BBM nasional belum bisa dinaikkan hingga 20 persen,” jelas Eniya.

Baca Juga

Gudang Satwa Ilegal Digerebek, 11 Sanca Hijau Dilindungi Disita

Jakarta - Tim gabungan yang terdiri dari Direktorat Jenderal...

Mercedes-Benz GLC EV Mengaspal, Teknologi AI hingga Dolby Atmos Jadi Andalan

Mercedes-Benz resmi membuka pemesanan awal untuk SUV listrik terbarunya,...

BPJS Kesehatan Tegaskan Tak Ada Kenaikan Iuran JKN, Simak Rinciannya

Jakarta - BPJS Kesehatan menegaskan bahwa tarif iuran Program...

Prabowo Beri Peringatan Tegas, Semua Pejabat Diminta Segera Benahi Diri

Jakarta - Presiden Prabowo Subianto terus mengingatkan seluruh pejabat...

Benarkah Pemilik Tabungan Rp3 Miliar Dipaksa Beli Patriot Bond? Ini Faktanya

Jakarta - Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria,...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini