28.9 C
Jakarta
Selasa, Juli 21, 2026
BerandaKATA GAYA HIDUPKESEHATANHobi Scrolling HP Berjam-jam? Bahaya Sebenarnya Ada pada Kebiasaan Ini

Hobi Scrolling HP Berjam-jam? Bahaya Sebenarnya Ada pada Kebiasaan Ini

Yogyakarta – Maraknya tren olahraga di kalangan anak muda dinilai menjadi langkah positif untuk mengimbangi gaya hidup sedentari yang semakin meningkat akibat kebiasaan menggunakan gawai dan berselancar di media sosial. Namun, menjaga kesehatan otak tidak cukup hanya dengan rutin berolahraga. Sirkulasi darah dan pasokan oksigen ke otak juga memegang peran penting.

Dosen Fisiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KKM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Zaenal Muttaqien Sofro, menjelaskan bahwa penurunan fungsi otak lebih banyak dipicu oleh kebiasaan duduk terlalu lama dibandingkan aktivitas scrolling itu sendiri.

“Otak manusia membutuhkan sekitar 20 persen dari total oksigen yang digunakan tubuh. Karena itu, faktor paling penting dalam menjaga kesehatan otak adalah memastikan pasokan oksigen tetap optimal,” ujarnya dikutip dari laman ugm, Kamis (16/7).

Zaenal menjelaskan, sebagai makhluk yang berjalan dengan dua kaki, manusia harus menghadapi pengaruh gravitasi terhadap aliran darah. Saat seseorang bangun dari posisi berbaring dan langsung berdiri, suplai darah ke otak dapat menurun sementara sehingga tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.

Untuk mengurangi risiko tersebut, ia menyarankan agar tidak terburu-buru berdiri setelah bangun tidur. Langkah yang dianjurkan adalah berbaring menyamping selama sekitar 30 detik, kemudian duduk sambil berdoa selama 30 detik, sebelum berdiri secara perlahan dan melakukan gerakan jinjit sebanyak delapan kali guna membantu memperlancar aliran darah menuju otak.

Selain itu, Zaenal mengingatkan bahwa duduk dalam waktu lama dapat menghambat sirkulasi darah karena gravitasi menyebabkan darah lebih banyak terkumpul di bagian bawah tubuh.

“Masalah utamanya bukan semata-mata aktivitas scrolling, tetapi posisi duduk yang terlalu lama membuat aliran darah ke otak menjadi kurang optimal,” jelasnya.

Karena itu, ia menyarankan masyarakat tidak duduk terus-menerus lebih dari satu jam. Setelahnya, luangkan waktu sekitar dua menit untuk berdiri, berjalan, atau melakukan peregangan ringan sebelum kembali beraktivitas.

Berdasarkan penelitian menggunakan orthostatic test, Zaenal menjelaskan kemampuan tubuh menyesuaikan diri terhadap perubahan posisi dipengaruhi oleh kondisi jantung, paru-paru, dan sistem peredaran darah.

“Jika organ-organ tersebut bekerja dengan baik, fungsi otak juga akan tetap optimal. Sebaliknya, gangguan pada sistem dasar tubuh dapat berdampak langsung terhadap kesehatan otak,” katanya.

Ia menambahkan, olahraga kini dipandang sebagai bagian dari terapi kesehatan melalui konsep Exercise is Medicine. Oleh karena itu, aktivitas fisik juga harus dilakukan dengan memperhatikan jenis, intensitas, frekuensi, durasi, dan dosis yang sesuai agar manfaatnya maksimal.

Selain meningkatkan kebugaran, olahraga juga membantu merangsang produksi hormon endorfin yang berperan meningkatkan suasana hati sekaligus mengurangi rasa nyeri.

Meski demikian, Zaenal mengingatkan bahwa tidak semua jenis olahraga memiliki dampak yang sama terhadap kesehatan tubuh dan otak. Olahraga kompetitif seperti futsal, tenis, maupun bulu tangkis memerlukan kesiapan fisik lebih baik karena pola gerak yang berubah-ubah dan intensitas yang tinggi.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan olahraga berat sesaat setelah makan. Pada kondisi tersebut, tubuh lebih banyak mengalirkan darah ke sistem pencernaan sehingga kerja jantung dapat terganggu dan meningkatkan risiko gangguan jantung hingga kematian mendadak.

“Apabila pusat yang mengatur sistem pencernaan terlalu dominan, misalnya karena seseorang berolahraga setelah makan, maka kerja jantung menjadi kurang optimal sehingga meningkatkan risiko gangguan jantung,” jelasnya.

Zaenal menambahkan, aktivitas seperti berenang juga sebaiknya tidak dilakukan segera setelah makan karena dapat meningkatkan risiko kram maupun gangguan kesehatan lainnya.

Agar olahraga benar-benar memberikan manfaat optimal, ia menyarankan tiga prinsip utama yang perlu diterapkan. Pertama, aktivitas fisik harus melibatkan kelompok otot besar seperti lengan dan tungkai. Kedua, gerakan dilakukan secara ritmis, misalnya berjalan cepat, jogging, atau bersepeda. Ketiga, olahraga dilakukan secara berkelanjutan selama 30 hingga 40 menit tanpa banyak jeda maupun perubahan intensitas yang drastis.

“Dengan prinsip tersebut, olahraga tidak hanya meningkatkan kebugaran tubuh, tetapi juga membantu menjaga fungsi otak tetap optimal,” pungkasnya.

Baca Juga

Mulai 1 Agustus Jakarta Tinggalkan Open Dumping di Bantargebang

Jakarta - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mulai melakukan...

Google Sebut Pengguna AI Indonesia Paling Kreatif, Hasilkan Jutaan Gambar Setiap Hari

Jakarta - Cara masyarakat Indonesia menggunakan kecerdasan buatan (Artificial...

Kemenkes Beberkan Kondisi Terkini Kasus Mpox di Indonesia

Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat total kasus Mpox...

Prabowo: Indonesia Harus Bisa E20, Pembangunan 50 Pabrik Etanol Segera Dimulai

Malang - Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan sedikitnya 30...

Kemenag Catat 725 Ribu Titik Ikut Gerakan Indonesia Berkiblat

Jakarta - Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Ditjen Bimas...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini