29.4 C
Jakarta
Selasa, Juli 21, 2026
BerandaKATA EKBISEKONOMI dan KINERJAIndonesia Bisa Untung dari Persaingan AS-Tiongkok, Sektor Ini Jadi Kuncinya

Indonesia Bisa Untung dari Persaingan AS-Tiongkok, Sektor Ini Jadi Kuncinya

Jakarta – Persaingan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok kini semakin memengaruhi arah ekonomi global. Rivalitas yang semula berfokus pada aspek militer kini meluas ke sektor perdagangan, teknologi, hingga diplomasi sehingga memicu dinamika baru di berbagai kawasan, mulai dari Timur Tengah hingga Indo-Pasifik.

Kondisi tersebut tercermin dalam Economic Surprise Index Bloomberg per pertengahan Juli 2026. Amerika Serikat mencatat indeks 55,0 yang menunjukkan kinerja ekonomi melampaui ekspektasi pasar. Sebaliknya, Tiongkok berada di level minus 20,8 yang menandakan data ekonominya masih di bawah perkiraan. Sementara kawasan Asia Pasifik justru mencatatkan optimisme dengan indeks 51,5.

Di tengah perubahan peta geopolitik tersebut, negara-negara dengan kekuatan ekonomi menengah atau middle powersdiperkirakan akan memiliki pengaruh yang semakin besar dalam beberapa dekade ke depan. Indonesia dinilai termasuk negara yang memiliki peluang besar untuk memperkuat perannya berkat pertumbuhan ekonomi, posisi geografis yang strategis, serta stabilitas politik yang relatif terjaga.

Founder dan Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, menilai posisi geopolitik Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan beberapa dekade lalu. Menurutnya, status Indonesia sebagai anggota G20 dan negara berpendapatan menengah atas menjadi modal penting untuk meningkatkan peran di tingkat global.

“Kita bukan lagi negara dunia ketiga, kita adalah negara G20 dengan pendapatan ekonomi menengah ke atas. Geopolitik kita relatif aman karena rivalitas global saat ini tidak secara langsung mengarah ke Indonesia. Ini merupakan modal penting untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis berbagai negara sekaligus menjaga stabilitas kawasan. Namun, modal geopolitik saja tidak cukup, kita tetap membutuhkan langkah-langkah konkret untuk memenangkan kepercayaan pasar dunia,” ujar Dino.

Indonesia Bisa Untung dari Persaingan AS-Tiongkok, Sektor Ini Jadi Kuncinya
(Ki-ka) Founder and Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal, Head of Equity PT. BNP Paribas Asset Management Laurentia Amica Darmawan, Chief Economist & Investment Strategist PT. Manulife Aset Manajemen Indonesia Dr. Katarina Setiawan, dan Head of Investment & Insurance Product Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia Djoko Soelistyo dalam sesi Navigating US-Asia Market Regime sebagai rangkaian DBS Insights Forum 2026: A New Lens on a Multipolar World  di Jakarta, Rabu (15/07/2026). (katafoto/HO/Bank DBS Indonesia)

Ia menambahkan, di tengah tingginya arus modal internasional, investor akan lebih memilih negara yang mampu menawarkan kepastian regulasi, stabilitas ekonomi, dan prospek pertumbuhan jangka panjang. Karena itu, Indonesia perlu terus memperkuat kepercayaan pasar melalui kebijakan yang konsisten.

Senada dengan itu, PT Bank DBS Indonesia menilai perubahan lanskap ekonomi global menghadirkan berbagai peluang investasi baru. Head of Investment & Insurance Products Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Djoko Sulistyo, mengatakan keputusan investasi sebaiknya didasarkan pada tren jangka panjang, bukan sekadar mengikuti sentimen pasar sesaat.

Menurut Djoko, saat ini terdapat tiga kawasan yang layak menjadi perhatian investor, yakni Amerika Serikat, Tiongkok, serta Asia termasuk Indonesia.

“Di tengah perubahan lanskap global, investor perlu melihat peluang secara lebih luas dengan mempertimbangkan kekuatan fundamental setiap kawasan. Amerika Serikat masih menjadi pemimpin inovasi, khususnya di bidang Artificial Intelligence (AI). Tiongkok mampu mempercepat pemanfaatan AI di berbagai sektor industri, sedangkan Asia, termasuk Indonesia, mendapatkan manfaat dari pergeseran rantai pasok global dan pertumbuhan ekonomi kawasan,” jelasnya.

Ia menambahkan, Bank DBS Indonesia terus menghadirkan analisis regional dan panduan investasi guna membantu nasabah mengambil keputusan investasi yang lebih tepat.

Selain menjadi motor pertumbuhan ekonomi dunia, Asia juga memegang peranan penting dalam rantai pasok industri masa depan. Taiwan dan Korea Selatan menjadi pusat produksi semikonduktor, sementara Indonesia memiliki posisi strategis sebagai pemasok berbagai mineral penting seperti nikel, tembaga, dan bauksit.

Didukung konsumsi domestik yang kuat serta ketergantungan terhadap ekspor yang relatif lebih rendah dibandingkan sejumlah negara lain, Indonesia dinilai memiliki daya tahan ekonomi yang cukup baik dalam menghadapi tekanan global.

Fundamental Ekonomi Jadi Penentu Daya Saing

Di sisi lain, penguatan fundamental ekonomi dalam negeri dinilai menjadi faktor utama agar Indonesia mampu memanfaatkan peluang di tengah dinamika geopolitik global.

Executive Director Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya, mengatakan meningkatnya rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok, ditambah kecenderungan sejumlah negara menerapkan kebijakan ekonomi yang lebih proteksionis, menuntut Indonesia untuk semakin adaptif dalam menyusun strategi ekonomi maupun diplomasi.

Menurut Yunarto, langkah Indonesia mempererat hubungan dengan berbagai mitra strategis, termasuk bergabung dengan BRICS dan memperkuat kerja sama dengan Amerika Serikat, merupakan bagian dari upaya menjaga kepentingan nasional. Namun, daya saing Indonesia tetap bergantung pada kekuatan ekonomi domestik.

“Posisi tawar suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kemampuan diplomasi, tetapi juga oleh kekuatan fundamental ekonominya. Ketika regulasi memberikan kepastian, birokrasi semakin efektif, iklim investasi kondusif, serta pembangunan infrastruktur terus diperkuat, Indonesia memiliki daya saing yang semakin tinggi di tengah dinamika geopolitik global,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya kebijakan yang didukung perencanaan berbasis data, tata kelola pemerintahan yang baik, serta kondisi fiskal yang sehat agar mampu menjaga kepercayaan investor sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Indonesia Bisa Untung dari Persaingan AS-Tiongkok, Sektor Ini Jadi Kuncinya
Head of Market Intelligence PT Bank DBS Indonesia Boy Suhendri s memberikan paparan dalam sesi Indonesia: Built on Strong Fundamentals sebagai rangkaian DBS Insights Forum 2026: A News Lens on Multipolar World di Jakarta, Rabu (15/07/2026). (katafoto/HO/Bank DBS Indonesia)

Pandangan tersebut sejalan dengan analisis Head of Market Intelligence PT Bank DBS Indonesia, Boy Suhendry. Menurutnya, meski ekonomi global masih dibayangi berbagai tantangan, fundamental ekonomi Indonesia tetap solid sehingga prospek pertumbuhan jangka menengah masih menjanjikan.

Boy menjelaskan, Amerika Serikat masih menunjukkan ketahanan ekonomi yang baik, sedangkan Asia mempertahankan tren pertumbuhan positif. Di sisi lain, Tiongkok tetap menjadi mitra dagang utama Indonesia dengan neraca perdagangan yang masih mencatat surplus.

Ia menilai Indonesia memiliki sejumlah keunggulan struktural yang menjadi penopang pertumbuhan ekonomi, mulai dari kekayaan sumber daya alam, konsumsi domestik yang kuat, bonus demografi, hingga kebijakan hilirisasi yang terus meningkatkan nilai tambah industri nasional.

Selain itu, meningkatnya investasi global pada sektor Artificial Intelligence (AI) juga diperkirakan membuka peluang baru bagi Indonesia. Sebagai salah satu produsen utama nikel dan mineral strategis dunia, Indonesia berpotensi memperoleh manfaat dari meningkatnya kebutuhan bahan baku industri teknologi, yang pada akhirnya dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka menengah.

Baca Juga

OJK Bongkar 6 Hambatan Besar Berantas Judi Online, Nomor 2 Paling Sulit Dilacak

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai upaya memberantas...

Wacana Pembatasan Penerima MBG Belum Diputuskan, Tunggu Hasil Evaluasi

Jakarta - Pemerintah belum memutuskan untuk membatasi penerima manfaat...

Indonesia Resmi Jadi Negara Pendiri Organisasi AI Dunia WAICO

Indonesia resmi bergabung sebagai salah satu dari 29 negara...

Harga Sayuran Naik Akibat Kekeringan, Pemprov DKI Siapkan Langkah Penanganan

Jakarta - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bergerak cepat...

Progres LRT Jakarta Capai 95 Persen, Bakal Layani 80 Ribu Penumpang per Hari

Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan pembangunan...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini