30.4 C
Jakarta
Minggu, April 19, 2026
BerandaKATA BERITADAERAHGletser Puncak Jaya Menyusut, Dunia Masuk Krisis Iklim?

Gletser Puncak Jaya Menyusut, Dunia Masuk Krisis Iklim?

Yogyakarta – Lapisan es abadi yang selama ribuan tahun menyelimuti Puncak Jaya di Papua kini berada dalam ancaman serius akibat kenaikan suhu global. Pada akhir 2024, BMKG melakukan pemantauan gletser di kawasan Puncak Sudirman, Pegunungan Jayawijaya, dan menemukan bahwa luas tutupan es berkurang sekitar 0,11–0,16 kilometer persegi dibandingkan luas 0,23 kilometer persegi pada 2022. Temuan ini sejalan dengan laporan “Climate Chronicles” dari Nature Reviews Earth & Environment edisi April 2026, yang mencatat bahwa gletser dunia kehilangan sekitar 408 gigaton massa es sepanjang 2025. Angka tersebut menempatkan tahun 2025 sebagai periode terburuk keenam sejak pencatatan dimulai pada 1975.

Pakar Hidrometeorologi, Iklim Perkotaan, dan Klimatologi Lingkungan dari Fakultas Geografi UGM, Emilya Nurjani menjelaskan bahwa penyusutan gletser terjadi baik di belahan bumi utara maupun selatan, mencakup penurunan luas dan ketebalan. Ia menyoroti dua wilayah tropis yang mengalami degradasi signifikan, yakni puncak Gunung Kilimanjaro di Afrika dan Puncak Jaya di Indonesia.

“Mencairnya lapisan es berkaitan erat dengan radiasi matahari gelombang pendek yang menjadi sumber energi utama dalam sistem cuaca dan iklim bumi. Berbagai bentuk penggunaan dan penutupan lahan—mulai dari pertanian, permukiman, waduk, hingga infrastruktur beton—berperan dalam menyerap dan melepaskan energi tersebut. Bahkan, es dan salju di wilayah kutub juga termasuk dalam sistem ini,” ujar Emilya Nurjani dikutip dari laman ugm.   

Ia menambahkan, perbandingan antara energi matahari yang diserap dan dipantulkan oleh permukaan bumi dikenal sebagai albedo. Gletser memiliki nilai albedo tinggi karena mampu memantulkan sebagian besar radiasi matahari kembali ke atmosfer, sehingga membantu menjaga kestabilan bentuknya.

“Penggunaan atau penutupan lahan di permukaan bumi yang masif membuat nilai albedo yang dikembalikan ke atmosfer menurun, sehingga terjadi penumpukan energi radiasi di atmosfer, kemudian terjadi pemanasan global, dan menyebabkan mencairnya gletser,” terangnya, Jumat (17/4).

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pencairan gletser telah terjadi di berbagai wilayah, termasuk kawasan kutub dan pegunungan di Eropa. Dampaknya adalah meningkatnya volume air laut yang berujung pada kenaikan permukaan laut dan berkurangnya daratan rendah akibat terendam.

“Dampak yang dapat dirasakan oleh masyarakat Indonesia adalah fenomena abrasi dan kenaikan muka air laut di daerah Semarang atau pesisir utara Jawa. Banyak pakar yang telah meneliti fenomena tersebut, meskipun kenaikan muka air tidak hanya disebabkan oleh peningkatan volume air laut,” jelasnya.

Emilya menekankan pentingnya upaya lintas sektor untuk menekan kenaikan suhu permukaan bumi guna memperlambat penyusutan gletser. Salah satu langkah utama adalah mendorong dekarbonisasi serta memperkuat regulasi pemanfaatan lahan agar lebih berkelanjutan.

“Di tingkat rumah tangga, kita bisa membantu dengan melakukan penghematan listrik, mengurangi pemakaian bahan bakar fosil, dan apabila mungkin, berpartisipasi dalam usaha pohon untuk membantu menurunkan suhu udara dalam jangka panjang,” tuturnya.

Baca Juga

Bogor Bakal Punya Sport Center Nasional, Ribuan Lapangan Kerja Menanti

Bogor - Bupati Bogor, Rudy Susmanto, mengungkapkan bahwa Kecamatan...

Tanpa Antre Imigrasi, Layanan Mecca Route Bikin Jemaah Haji Lebih Nyaman

Jakarta - Direktur Jenderal Pelayanan Haji, Ian Heriyawan, menyampaikan...

Jakarta Makin Aman, Transportasi Publik dan Ruang Sosial Jadi Kunci

Jakarta berhasil meraih posisi kedua sebagai kota paling aman...

Saat Industri Melemah, SIG Malah Tumbuh! Ini Kuncinya

Jakarta - PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) mengambil...

Terungkap, Ini Alasan Para Profesional Mau Datang ke Event Offline

Jakarta - Acara tatap muka seperti konser, festival kuliner,...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini