31.6 C
Jakarta
Rabu, Juli 15, 2026
BerandaKATA EKBISAGRIBISNISLumajang Dipilih Jadi Lokasi Pertama Stasiun GIES di Indonesia

Lumajang Dipilih Jadi Lokasi Pertama Stasiun GIES di Indonesia

Lumajang – Kabupaten Lumajang kembali mencatatkan prestasi sebagai daerah percontohan dalam pengembangan pertanian berkelanjutan. Daerah ini menjadi lokasi pertama pemasangan stasiun Geographical Indications for Environmental Sustainability (GIES) di Indonesia, sebuah teknologi yang mendukung perlindungan indikasi geografis sekaligus memperkuat daya saing komoditas unggulan daerah, Pisang Mas Kirana.

Pemasangan stasiun GIES di Desa Wonocepokoayu, Kecamatan Senduro merupakan hasil kolaborasi antara Food and Agriculture Organization (FAO), Kementerian Pertanian, Chinese Academy of Sciences (CAS), dan Universitas Jember dalam pelaksanaan program One Country One Priority Product (OCOP) yang berfokus pada pengembangan Pisang Mas Kirana.

Kepala Perwakilan FAO Indonesia, Rajendra Aryal, mengatakan teknologi GIES dikembangkan untuk mengintegrasikan data lingkungan, kondisi geografis, serta karakteristik produk sehingga asal-usul dan kualitas suatu komoditas dapat ditelusuri secara lebih akurat.

“Teknologi ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pertanian sekaligus memperkuat identitas produk unggulan daerah,” ujar Rajendra Aryal, Kamis (28/05)

Rajendra menambahkan, penguatan indikasi geografis bukan hanya berfungsi sebagai perlindungan terhadap kekayaan intelektual suatu produk tapi strategi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian lokal agar mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.

Melalui penerapan teknologi GIES, berbagai data terkait kondisi lingkungan dan proses budidaya dapat terdokumentasi dengan lebih baik. Ketersediaan data tersebut diharapkan mampu mendukung penerapan praktik pertanian yang lebih efisien, terukur, dan berkelanjutan.

Dipilihnya Kabupaten Lumajang sebagai lokasi pertama pemasangan stasiun GIES di Indonesia juga menjadi bentuk pengakuan terhadap potensi Pisang Mas Kirana. Komoditas ini dinilai memiliki karakteristik khas yang membedakannya dari produk sejenis, sekaligus memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan bagi masyarakat setempat.

Program tersebut merupakan bagian dari inisiatif global OCOP yang digagas FAO untuk mendorong pengembangan produk pertanian unggulan di berbagai daerah. Melalui program ini, produk lokal diharapkan mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi petani tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan sumber daya alam.

Dukungan teknologi modern dan pendampingan berbasis ilmiah, pengembangan Pisang Mas Kirana tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi. Upaya tersebut juga mencakup peningkatan kualitas produk, penguatan sistem keterlacakan, perlindungan indikasi geografis, serta peningkatan kepercayaan pasar.

Baca Juga

Momen Prabowo Dampingi PM Modi Menikmati Kemegahan Candi Prambanan

Yogyakarta - Presiden Prabowo Subianto bersama Perdana Menteri (PM)...

Keren, Puluhan Ton Sampah di Menteng Atas Jadi Bahan Bakar Alternatif

Jakarta - Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS...

Produksi Ikan RI Nomor 2 Dunia, Tapi Warganya Masih Jarang Makan Ikan

Yogyakarta - Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan produksi...

Keramik Klampok dan Ritual Ujungan Jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Banjarnegara - Dua kekayaan budaya asal Kabupaten Banjarnegara, Jawa...

Produk Halal RI Tumbuh 6,21 Persen, BI Dorong Kolaborasi

Jakarta - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini