32.9 C
Jakarta
Minggu, Agustus 23, 2026
BerandaKATA BERITASENI BUDAYASetelah 35 Tahun, Teater Koma Bawa Kembali Lakon Legendaris Rumah Sakit Jiwa

Setelah 35 Tahun, Teater Koma Bawa Kembali Lakon Legendaris Rumah Sakit Jiwa

Jakarta – Teater Koma kembali menghadirkan salah satu karya ikoniknya, Rumah Sakit Jiwa, setelah 35 tahun sejak pertama kali dipentaskan. Berkolaborasi dengan Bakti Budaya Djarum Foundation, pementasan produksi ke-237 ini akan berlangsung pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

Kembalinya lakon karya N. Riantiarno tersebut tidak hanya menjadi ajang nostalgia, tetapi juga mengajak penonton menelaah berbagai persoalan kemanusiaan, relasi kekuasaan, serta dinamika sosial yang dinilai masih relevan dengan kondisi saat ini.

Program Manager Bakti Budaya Djarum Foundation, Billy Gamaliel, mengatakan teater tetap memiliki daya tarik tersendiri di tengah maraknya pilihan hiburan modern. Menurutnya, interaksi langsung antara pemain dan penonton menjadi pengalaman yang tidak dapat digantikan oleh media hiburan lainnya.

“Di tengah begitu banyak pilihan hiburan saat ini, seni pertunjukan teater tetap memiliki tempat yang istimewa karena menghadirkan pengalaman yang hanya dapat dirasakan ketika penonton dan pemain berbagi ruang dan waktu yang sama. Kedekatan itulah yang membuat teater terus relevan. Karena itu, Bakti Budaya Djarum Foundation terus mendukung karya-karya seperti Rumah Sakit Jiwa yang tidak hanya menawarkan kualitas artistik, tetapi juga mengajak penonton merefleksikan berbagai persoalan yang masih dekat dengan kehidupan kita. Harapannya, semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, mengenal teater sebagai pengalaman budaya yang bermakna dan layak dinikmati,” ujar Billy.

Lakon Rumah Sakit Jiwa mengisahkan perjalanan dr. Rogusta, dokter baru yang bekerja di sebuah rumah sakit jiwa yang dipimpin Profesor Sidarita. Dengan pendekatan yang lebih humanis dan penuh empati terhadap pasien, Rogusta mencoba menghadirkan perubahan dalam sistem yang telah lama berjalan.

Namun, upaya tersebut justru memunculkan berbagai konflik karena dianggap mengancam kepentingan pihak-pihak tertentu yang telah nyaman dengan sistem lama. Melalui cerita itu, Teater Koma mengajak penonton merenungkan bagaimana perubahan sering kali berhadapan dengan resistensi, sekaligus mempertanyakan apakah kehidupan modern saat ini telah menyerupai sebuah “rumah sakit jiwa”.

Sutradara Rumah Sakit Jiwa, Rangga Riantiarno, menilai pesan yang terkandung dalam naskah tersebut masih relevan meski telah berlalu lebih dari tiga dekade sejak pertama kali dipentaskan.

“Sejak pertama kali dipentaskan pada tahun 1991, Rumah Sakit Jiwa bukan semata-mata bercerita tentang sebuah institusi, tetapi tentang manusia dan berbagai persoalan yang mengitarinya. Itulah sebabnya kami merasa lakon ini masih relevan hari ini. Dari segi proses, hal yang sama dengan 35 tahun lalu adalah para pemain tidak hanya membaca naskah dan berlatih di ruang latihan, tetapi juga melakukan observasi ke rumah sakit jiwa serta berdiskusi dengan psikolog klinis dan psikiater. Proses tersebut menjadi bagian penting agar para pemain memahami setiap karakter, sehingga apa yang disaksikan penonton lahir dari empati dan pemahaman yang utuh,” ujar Rangga.

Untuk memperkuat karakterisasi para tokoh, Teater Koma juga memberikan perhatian khusus pada rancangan kostum. Perancang busana Samuel Wattimena bersama Rima Ananda merancang busana yang tidak hanya mencerminkan profesi para tokoh, tetapi juga menggambarkan kondisi psikologis dan perkembangan karakter sepanjang cerita.

“Kami tidak ingin kostum hanya menjadi pelengkap visual. Setiap rancangan dibuat untuk membantu penonton mengenali karakter, latar belakang, hingga perubahan yang dialami masing-masing tokoh sepanjang cerita. Karena itu, prosesnya melibatkan diskusi yang cukup panjang dengan sutradara agar setiap detail kostum benar-benar mendukung penceritaan,” kata Samuel Wattimena.

Pementasan ini turut melibatkan tim kreatif lintas disiplin yang menangani tata artistik, tata cahaya, tata suara, multimedia, hingga musik pengiring. Musik garapan Fero A. Stefanus dirancang secara khusus untuk mengikuti perkembangan emosi di setiap adegan sehingga mampu memperkuat atmosfer pertunjukan.

Sementara itu, pendiri Teater Koma sekaligus produser pementasan, Ratna Riantiarno, mengaku memiliki ikatan emosional yang kuat dengan lakon tersebut. Dalam pementasan kali ini, ia kembali memerankan tokoh Ibu dr. Rogusta yang pernah dimainkan puluhan tahun lalu.

“Kembali menjadi Ibu dr. Rogusta setelah 35 tahun rasanya seperti bertemu kembali dengan seorang sahabat lama. Naskahnya tetap sama, namun pengalaman hidup selama puluhan tahun membuat saya melihat Rogusta dengan sudut pandang yang berbeda dan menemukan banyak lapisan baru dalam karakternya. Di saat yang sama, sebagai produser saya juga melihat bagaimana seluruh tim bekerja dengan dedikasi yang luar biasa untuk menghadirkan kembali lakon ini. Semua proses itu membuat Rumah Sakit Jiwa menjadi pertunjukan yang istimewa bagi saya, baik secara pribadi maupun sebagai bagian dari perjalanan Teater Koma,” ujar Ratna.

Setelah 35 Tahun, Teater Koma Bawa Kembali Lakon Legendaris Rumah Sakit Jiwa
Program Manager Bakti Budaya Djarum Foundation, Billy Gamaliel (kiri), Sutradara pementasan Rumah Sakit Jiwa, Rangga Riantiarno, Perancang Kostum pementasan Rumah Sakit Jiwa, Samuel Wattimena & Rima Ananda dan Pengarah Musik pementasan Rumah Sakit Jiwa, Fero A. Stefanus saat konfrensi pers jelang pementasan Rumah Sakit Jiwa di Jakarta, Jumat (10/07/2026) (katafoto/Fery Pradolo)
Setelah 35 Tahun, Teater Koma Bawa Kembali Lakon Legendaris Rumah Sakit Jiwa
Setelah 35 Tahun, Teater Koma Bawa Kembali Lakon Legendaris Rumah Sakit Jiwa
Sutradara pementasan Rumah Sakit Jiwa, Rangga Riantiarno (kedua kiri), Program Manager Bakti Budaya Djarum Foundation, Billy Gamaliel, Perancang Kostum pementasan Rumah Sakit Jiwa, Samuel Wattimena & Rima Ananda dan Pengarah Musik pementasan Rumah Sakit Jiwa, Fero A. Stefanus saat konfrensi pers jelang pementasan Rumah Sakit Jiwa di Jakarta, Jumat (10/07/2026) (katafoto/Fery Pradolo)
Setelah 35 Tahun, Teater Koma Bawa Kembali Lakon Legendaris Rumah Sakit Jiwa
Setelah 35 Tahun, Teater Koma Bawa Kembali Lakon Legendaris Rumah Sakit Jiwa
Sutradara pementasan Rumah Sakit Jiwa, Rangga Riantiarno (kedua kiri), Program Manager Bakti Budaya Djarum Foundation, Billy Gamaliel, Perancang Kostum pementasan Rumah Sakit Jiwa, Samuel Wattimena & Rima Ananda dan Pengarah Musik pementasan Rumah Sakit Jiwa, Fero A. Stefanus saat konfrensi pers jelang pementasan Rumah Sakit Jiwa di Jakarta, Jumat (10/07/2026) (katafoto/Fery Pradolo)
Setelah 35 Tahun, Teater Koma Bawa Kembali Lakon Legendaris Rumah Sakit Jiwa
Setelah 35 Tahun, Teater Koma Bawa Kembali Lakon Legendaris Rumah Sakit Jiwa
Cuplikan adegan Rumah Sakit Jiwa oleh Teater Koma yang berkolaborasi dengan Bakti Budaya Djarum Foundation saat konfrensi pers di Jakarta, Jumat (10/07/2026) (katafoto/Fery Pradolo)
Setelah 35 Tahun, Teater Koma Bawa Kembali Lakon Legendaris Rumah Sakit Jiwa
Setelah 35 Tahun, Teater Koma Bawa Kembali Lakon Legendaris Rumah Sakit Jiwa
Cuplikan adegan Rumah Sakit Jiwa oleh Teater Koma yang berkolaborasi dengan Bakti Budaya Djarum Foundation saat konfrensi pers di Jakarta, Jumat (10/07/2026) (katafoto/Fery Pradolo)
Setelah 35 Tahun, Teater Koma Bawa Kembali Lakon Legendaris Rumah Sakit Jiwa
Setelah 35 Tahun, Teater Koma Bawa Kembali Lakon Legendaris Rumah Sakit Jiwa
Cuplikan adegan Rumah Sakit Jiwa oleh Teater Koma yang berkolaborasi dengan Bakti Budaya Djarum Foundation saat konfrensi pers di Jakarta, Jumat (10/07/2026) (katafoto/Fery Pradolo)
Setelah 35 Tahun, Teater Koma Bawa Kembali Lakon Legendaris Rumah Sakit Jiwa
Setelah 35 Tahun, Teater Koma Bawa Kembali Lakon Legendaris Rumah Sakit Jiwa
Cuplikan adegan Rumah Sakit Jiwa oleh Teater Koma yang berkolaborasi dengan Bakti Budaya Djarum Foundation saat konfrensi pers di Jakarta, Jumat (10/07/2026) (katafoto/Fery Pradolo)
Setelah 35 Tahun, Teater Koma Bawa Kembali Lakon Legendaris Rumah Sakit Jiwa

Baca Juga

Jakarta Kirim Bantuan Rp5,85 Miliar untuk Korban Gempa NTT, Ini Isinya

Jakarta - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta mengirimkan bantuan kemanusiaan...

Dokumen Hilang Akibat Gempa NTT? Kemendagri Pastikan Penggantian Gratis

Jakarta - Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) memastikan warga terdampak...

HUT RI ke-81, Pramono Ungkap Strategi Besar Membangun Kota Jakarta

Jakarta - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menggelar upacara...

Sarjana Makin Sulit Cari Kerja? Lulusan 5 Jurusan Ini Sumbang Pengangguran Terbesar

Jakarta - Lulusan perguruan tinggi kini menghadapi persaingan yang...

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,45 Persen, Tapi Lapangan Kerja Justru Jadi Sorotan

Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai sekitar 5,45...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini