Jakarta – Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, Suherman, mempresentasikan hasil penelitiannya mengenai pengembangan instrumen untuk mengukur kesiapan calon guru dalam memanfaatkan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) pada Junior Researchers of EARLI (JURE) Conference 2026 di University of Tartu, Estonia.
Instrumen tersebut dirancang untuk membantu Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) memetakan tingkat kesiapan mahasiswa calon guru dalam menggunakan teknologi AI secara efektif, bertanggung jawab, dan sesuai dengan prinsip etika dalam proses pembelajaran.
Riset berjudul “AI Readiness Assessment for Pre-Service Teacher Education: Development and Validation”dipaparkan Suherman dalam sesi parallel paper. Penelitian ini berfokus pada penyusunan alat ukur yang mampu menilai pengetahuan, keterampilan, serta kepercayaan diri calon guru dalam mengintegrasikan AI ke dalam kegiatan belajar mengajar.
Penelitian melibatkan 297 mahasiswa calon guru dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Analisis data dilakukan menggunakan metode Rasch Modeling untuk menguji validitas, reliabilitas, kesesuaian setiap butir instrumen, potensi bias, serta efektivitas penggunaan skala Likert.
Suherman menjelaskan hasil analisis menunjukkan instrumen yang dikembangkan memenuhi standar kualitas psikometrik. Selain memiliki tingkat validitas dan reliabilitas yang baik, instrumen juga memenuhi aspek unidimensionalitas sehingga layak digunakan untuk mengukur kesiapan AI pada responden yang menjadi sasaran penelitian.
Penelitian tersebut juga memberikan gambaran mengenai tingkat kesiapan AI para mahasiswa calon guru. Mayoritas responden berada pada kategori kesiapan tinggi hingga sangat tinggi dalam memanfaatkan teknologi AI untuk mendukung pembelajaran. Sementara itu, perbedaan tingkat kesiapan berdasarkan gender dinilai relatif kecil.
Menurut Suherman, instrumen ini dapat dimanfaatkan oleh LPTK sebagai bahan evaluasi untuk mengetahui aspek kompetensi mahasiswa yang masih perlu diperkuat. Hasil pemetaan tersebut dapat menjadi dasar dalam menyusun program pengembangan yang lebih tepat sasaran, baik dari sisi pengetahuan, keterampilan, maupun kepercayaan diri calon guru dalam menggunakan AI.
Ia menambahkan, penguatan kompetensi tersebut tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis memanfaatkan AI, tetapi juga mencakup pemahaman mengenai tanggung jawab serta etika penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan.
JURE Conference 2026 yang telah diselenggarakan pada 6–10 Juli 2026 di University of Tartu, Estonia, dengan mengangkat tema “Learning in Transition: Science, Society and the Challenges of Tomorrow”. Konferensi tahunan yang digelar European Association for Research on Learning and Instruction (EARLI) ini mempertemukan peneliti muda, akademisi, dan mahasiswa doktoral dari berbagai negara yang menaruh perhatian pada bidang pendidikan dan pembelajaran.
Konferensi yang diikuti ratusan peserta dari lebih dari 40 negara mengangkat isu strategis mulai dari pemanfaatan AI dalam pendidikan, asesmen pembelajaran, teknologi pendidikan, pengembangan profesional guru, hingga tantangan transformasi dunia pendidikan di masa depan.
Melalui pengembangan instrumen kesiapan AI ini, lembaga pendidikan diharapkan memiliki acuan yang lebih terukur dalam menilai kesiapan calon guru menghadapi perkembangan teknologi. Hasil pengukuran tersebut juga dapat menjadi dasar penyusunan strategi penguatan kompetensi agar calon pendidik mampu memanfaatkan AI secara optimal, bertanggung jawab, dan beretika dalam kegiatan pembelajaran.

