32.3 C
Jakarta
Kamis, Juli 23, 2026
BerandaKATA BERITANASIONALPemerintah Bangun 500 Sekolah Nasional Terintegrasi di 37 lokasi

Pemerintah Bangun 500 Sekolah Nasional Terintegrasi di 37 lokasi

Jakarta – Pemerintah mempercepat pemerataan akses pendidikan berkualitas melalui Program Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT). Program yang menjadi amanat Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 10 Tahun 2026 ini tidak hanya menghadirkan sekolah berstandar nasional, tetapi juga dirancang sebagai pusat peningkatan mutu bagi sekolah-sekolah di sekitarnya.

Melalui program tersebut, pemerintah menargetkan pembangunan 500 layanan Sekolah Nasional Terintegrasi secara bertahap hingga 2029 sebagai bagian dari transformasi sistem pendidikan nasional.

Pada tahap awal tahun 2026, pembangunan SNT dimulai di 37 lokasi. Sebanyak 17 sekolah ditargetkan mulai menerima peserta didik pada Tahun Ajaran 2026/2027, sedangkan 20 lokasi lainnya masih dalam tahap pembangunan dan dijadwalkan beroperasi mulai 2027.

Pemilihan lokasi dilakukan melalui proses yang meliputi pengusulan daerah, telaah dokumen, verifikasi dan validasi lapangan, hingga konfirmasi kesiapan lahan bersama pemerintah daerah. Langkah tersebut dilakukan agar pembangunan sekolah sesuai dengan kebutuhan pendidikan di masing-masing wilayah.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa SNT bukan sekadar pembangunan sekolah baru, melainkan bagian dari strategi pemerintah untuk memperluas akses pendidikan bermutu sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan di daerah.

“SNT merupakan ikhtiar negara untuk menghadirkan layanan pendidikan berkualitas yang mampu mengembangkan potensi, minat, bakat, karakter, dan talenta peserta didik, sekaligus menjadi pusat pertumbuhan mutu bagi sekolah-sekolah di wilayah sekitarnya,” ujar Abdul Mu’ti dalam keterangan tertulis, Kamis (23/7).

Berbeda dengan sekolah pada umumnya, SNT mengintegrasikan jenjang SMP dan SMA dalam satu ekosistem pendidikan yang berkesinambungan. Integrasi tersebut mencakup sistem pembelajaran, pengembangan kompetensi guru, pembinaan karakter, pengembangan bakat peserta didik, pemanfaatan fasilitas bersama, hingga sistem penjaminan mutu.

Kemendikdasmen membangun SNT melalui tiga pilar utama, yakni transformasi infrastruktur, penguatan sumber daya manusia, serta transformasi karakter dan pembelajaran.

Menurut Abdul Mu’ti, keberadaan SNT juga diharapkan menjadi pusat kolaborasi antarsekolah di daerah melalui berbagi praktik baik, pendampingan sekolah, peningkatan kompetensi guru, hingga pemanfaatan laboratorium dan fasilitas pendidikan secara bersama.

“Keberhasilan SNT tidak hanya diukur dari prestasi peserta didik, tetapi juga dari meningkatnya profesionalisme guru, semakin kuatnya kolaborasi antarsekolah, serta meningkatnya mutu pendidikan di daerah,” katanya.

Untuk mendukung operasional 17 SNT yang mulai berjalan pada tahun ajaran 2026/2027, pemerintah menyiapkan kelas transisi di sejumlah lokasi. Fasilitas tersebut memanfaatkan bangunan milik Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kemendikdasmen, maupun sarana pendidikan yang disediakan pemerintah daerah.

Seluruh peserta didik yang diterima berasal dari wilayah tempat SNT berdiri. Kebijakan ini diharapkan dapat memperluas akses pendidikan berkualitas tanpa harus mendorong perpindahan siswa ke daerah lain.

Kemendikdasmen memastikan proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) dilaksanakan secara objektif, transparan, inklusif, adil, dan akuntabel. Tahapan seleksi berlangsung pada 21–24 Juli 2026, hasil seleksi diumumkan pada 3 Agustus 2026, sementara Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dimulai pada 10 Agustus 2026.

Pemerintah juga mengimbau masyarakat memperoleh informasi hanya melalui kanal resmi Kemendikdasmen, pemerintah daerah, dinas pendidikan, maupun portal resmi SNT. Selain itu, pemerintah menegaskan tidak ada pihak yang dapat menjanjikan kelulusan atau memungut biaya di luar ketentuan.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, Pendidikan Nonformal dan Informal, Gogot Suharwoto, menjelaskan setiap SNT akan dilengkapi berbagai fasilitas modern, seperti smart classroom, green school, laboratorium berstandar tinggi, future library and learning commons, studio seni kreatif, pusat pengembangan guru, pusat olahraga, hingga layanan transportasi antarjemput di tingkat kabupaten.

Selain itu, SNT akan menerapkan tiga lapis kurikulum, yakni kurikulum nasional sebagai dasar pembelajaran, kurikulum khas sekolah, serta kurikulum berbasis potensi lokal. Dengan pendekatan tersebut, setiap sekolah dapat mengembangkan keunggulan sesuai karakteristik daerah, seperti pertanian, perikanan, coding, kecerdasan artifisial (AI), maupun sektor unggulan lainnya.

“Setiap SNT akan memiliki kekhasan sesuai potensi daerahnya. Pembelajaran berbasis STEAMS dipadukan dengan metode pembelajaran mendalam serta didukung digitalisasi dan pengayaan berstandar global,” ujar Gogot.

Baca Juga

Mulai 1 Agustus Jakarta Tinggalkan Open Dumping di Bantargebang

Jakarta - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mulai melakukan...

Harga Sayuran Naik Akibat Kekeringan, Pemprov DKI Siapkan Langkah Penanganan

Jakarta - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bergerak cepat...

Prabowo: Indonesia Harus Bisa E20, Pembangunan 50 Pabrik Etanol Segera Dimulai

Malang - Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan sedikitnya 30...

AI Picu Gelombang PHK, Pakar Sebut Pekerja Harus Cepat Beradaptasi

Jakarta - PHK akibat adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI)...

Dana Darurat Jadi Kunci Bertahan Saat Krisis, Berapa Nominal yang Harus Disiapkan?

Jakarta - Di tengah ketidakpastian ekonomi global, memiliki dana...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini