Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat puluhan ribu kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang berkaitan dengan paparan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan data kumulatif Kemenkes selama periode Juni hingga Agustus 2026, terdapat 50.891 kasus ISPA yang tercatat di sejumlah wilayah terdampak. Dari jumlah tersebut, sebanyak 12.600 kasus dialami anak berusia di bawah lima tahun.
Sementara itu, 38.291 kasus lainnya terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun. Data tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI Andi Saguni.
Menurut Andi, peningkatan kasus ISPA tidak selalu berbanding lurus dengan keberadaan titik kebakaran di suatu daerah. Sejumlah wilayah yang hanya memiliki sedikit titik karhutla atau bahkan hampir tidak memiliki kebakaran juga mengalami kenaikan kasus.
Salah satunya Kalimantan Utara. Meski aktivitas kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut nyaris tidak ditemukan, data surveilans tetap menunjukkan adanya peningkatan kasus ISPA.
“Kalimantan Utara kan data kebakaran hutan dan lahan di sana itu nyaris belum ada. Tetapi peningkatan kasus itu kalau kita lihat data surveilans tadi itu meningkat,” ujar Andi.
Asap Karhutla Bisa Menyebar Antarprovinsi
Andi menjelaskan, kondisi tersebut tidak terlepas dari karakteristik asap karhutla yang dapat terbawa angin. Pergerakan asap memungkinkan polutan mencapai daerah yang lokasinya cukup jauh dari sumber kebakaran.
“Kenapa Kalimantan Utara itu juga bisa ada peningkatan kasus ya karena memang asap ini kan bertiup ke provinsi sebelahnya begitu, sehingga menimbulkan risiko atau kejadian daripada penyakit ISPA ini,” katanya.
Hingga awal September 2026, hasil pemantauan surveilans Kemenkes mencatat 63 kabupaten/kota mengalami peningkatan kasus ISPA.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa dampak kesehatan akibat karhutla dapat meluas mengikuti arah pergerakan asap. Artinya, risiko gangguan kesehatan tidak hanya mengancam masyarakat yang tinggal di wilayah dengan titik api.
ISPA Tidak Selalu Berarti Penyakit Berat
Andi juga menjelaskan istilah “akut” yang terdapat dalam ISPA. Menurutnya, istilah tersebut berkaitan dengan lamanya penyakit, bukan tingkat keparahan yang dialami pasien.
ISPA disebut akut karena umumnya berlangsung dalam waktu relatif singkat, yakni hingga sekitar dua minggu. Dengan demikian, istilah tersebut tidak secara otomatis menunjukkan bahwa penyakit yang dialami seseorang berada dalam kondisi berat.
Asap Karhutla Picu Gangguan Kesehatan
Selain meningkatkan risiko ISPA, paparan kabut asap juga dapat memperburuk kondisi orang yang sebelumnya memiliki penyakit paru kronis. Kelompok penderita asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) termasuk yang perlu lebih waspada terhadap paparan asap.
Kabut asap juga berpotensi menimbulkan gangguan lain, seperti iritasi pada mata dan kulit.
Asap hasil pembakaran hutan dan lahan mengandung berbagai jenis polutan yang berbahaya bagi tubuh. Salah satu yang paling perlu diperhatikan adalah partikulat halus PM2,5, selain karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta sejumlah senyawa organik beracun.
Paparan polutan tersebut dapat mengganggu sistem pernapasan dan meningkatkan risiko memburuknya kondisi kesehatan, terutama pada anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan sebelumnya.

