Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan belum menemukan tanda-tanda anomali kenaikan muka air laut maupun perubahan signifikan pada pola arus yang dapat mengindikasikan potensi tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK).
Pemantauan tersebut dilakukan hingga Selasa (8/9) pagi dengan memanfaatkan 20 tsunami gauge dan HF Radar Array yang ditempatkan di Carita serta Tanjung Lesung.
Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan hasil pemantauan belum menunjukkan adanya perubahan kondisi laut yang mengarah pada ancaman tsunami.
“Hingga pagi ini, tidak terdeteksi anomali kenaikan tinggi muka air laut ataupun perubahan pola arus permukaan secara signifikan yang mengindikasikan akan terjadinya tsunami,” ujar Ardhasena di Jakarta, Selasa (8/9).
Dari hasil pemantauan tersebut, BMKG menilai probabilitas terjadinya tsunami masih berada pada kategori rendah, yakni kurang dari 50 persen. Sementara tinggi gelombang di kawasan Selat Sunda selama periode 8-13 September 2026 diperkirakan berada di kisaran 0,5 hingga 3 meter.
Meski risiko tsunami dinilai rendah, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih terjadi. Informasi terbaru PVMBG pada pukul 07.49 WIB menunjukkan adanya erupsi dengan amplitudo maksimum 48 milimeter dan berlangsung selama 19 detik.
Erupsi tersebut dikategorikan sebagai erupsi strombolien atau letusan berskala kecil.
Selain aktivitas erupsi, BMKG mencatat gangguan geomagnetik ringan serta sambaran petir vulkanik yang berkaitan dengan aktivitas GAK pada pukul 21.00 hingga 23.00 WIB. Namun, intensitas fenomena tersebut disebut telah menurun dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
OMC Dilanjutkan untuk Bersihkan Abu Vulkanik
Di tengah aktivitas Gunung Anak Krakatau, upaya mempercepat pembersihan atmosfer dari material abu vulkanik juga terus dilakukan.
BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Perhubungan, dan sejumlah pihak terkait kembali menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sejak 7 September 2026.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto mengatakan operasi tersebut melibatkan dua pesawat Cessna Caravan. Pesawat beroperasi dari Posko Bandara Pondok Cabe dan Halim Perdanakusuma.
“Hingga saat ini, OMC telah melaksanakan lima sorti penerbangan, satu sorti menggunakan bahan semai powder NaCl, satu sorti liquid CaCl2, dan tiga sorti menggunakan spraying atau watermist,” jelas Seto.
Pelaksanaan OMC akan disesuaikan dengan perkembangan kondisi atmosfer dan pola sebaran abu vulkanik. Upaya tersebut ditujukan untuk menekan konsentrasi abu di udara sehingga kualitas atmosfer secara bertahap dapat membaik.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap tenang, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan kondisi atmosfer akibat erupsi GAK.
Warga yang berada di wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik juga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan sebagai langkah antisipasi.

