28.4 C
Jakarta
Jumat, April 24, 2026
BerandaKATA BERITASENI BUDAYARepatriasi Warisan Budaya: Indonesia Pulangkan 828 Artefak dari Belanda

Repatriasi Warisan Budaya: Indonesia Pulangkan 828 Artefak dari Belanda

Jakarta – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, mengadakan pertemuan dengan Marc Gerritsen, Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, di Museum Nasional pada Senin (17/12). Pertemuan ini menandai proses repatriasi sejumlah objek warisan budaya Indonesia yang selama ini berada di Belanda.

Sebanyak 204 artefak budaya dari Koleksi Puputan Badung, ditambah 68 artefak dari Museum Rotterdam, secara resmi diserahkan kepada Indonesia. Total, 272 objek budaya berhasil direpatriasi pada tahap ini, menjadikan jumlah keseluruhan objek yang telah dikembalikan mencapai 828. Langkah ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan dalam memulihkan dan melestarikan warisan budaya nasional.

Koleksi Puputan Badung, misalnya, mencerminkan perlawanan heroik dalam sejarah Indonesia. Pengembalian artefak ini menjadi simbol penting rekonsiliasi budaya antara kedua negara, sekaligus memperkuat pemahaman tentang identitas bangsa di era modern.

Menteri Fadli Zon mengapresiasi kerja sama dengan Belanda yang telah berlangsung sejak penandatanganan Nota Kesepahaman pada 2017.

“Ini adalah langkah signifikan dalam membangun keadilan budaya. Kami berterima kasih atas itikad baik dari pihak Belanda dan berharap ini menjadi model bagi negara lain dalam mengembalikan warisan budaya mereka,” ujarnya dikutip dari keterangan tertulis.

Upaya repatriasi ini dilakukan secara bertahap:

  1. 2023: Penyerahan 472 objek termasuk Arca Singasari, Keris Puputan Klungkung, dan Harta Lombok.
  2. Awal 2024: Penyerahan 288 objek dalam batch kedua, meliputi artefak dari Perang Puputan Badung dan Tabanan.
  3. Akhir 2024: Penyerahan tambahan 204 objek dari batch kedua serta 68 artefak dari Museum Rotterdam.

Penyerahan terbaru ini menegaskan komitmen kedua negara dalam melestarikan warisan budaya bersama.

Menurut Menteri Fadli Zon, artefak-artefak ini tidak hanya menjadi simbol masa lalu tetapi juga alat pendidikan untuk generasi mendatang.

“Kami bertanggung jawab memastikan objek-objek ini menginspirasi masyarakat dan menjadi bagian integral dari pendidikan sejarah bangsa,” katanya.

Sebagai bagian dari strategi ke depan, Fadli Zon mengusulkan pembentukan satuan tugas bersama dengan Belanda. “Satuan tugas ini akan menangani berbagai aspek, mulai dari pelestarian artefak hingga logistik pameran dan pengelolaan etis. Kami berharap kemitraan ini terus berkembang dalam semangat saling menghormati,” tambahnya.

Wakil Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda, Barbera Wolfensberger, juga menyampaikan komitmen Belanda untuk mendukung upaya ini dalam pertemuan sebelumnya pada awal Desember 2024.

Baca Juga

Warga Jakarta Jangan Panik, Stok LPG Dijamin Aman Meski Harga Naik

Jakarta - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas...

Sering Susah Fokus? Bisa Jadi Ini Gejala ADHD pada Orang Dewasa

Yogyakarta - Kasus Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau ADHD...

Tak Lagi Nol Persen, Ini Skema Pajak Baru untuk Mobil Listrik

Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri menetapkan aturan...

Sampah Jadi Listrik, Proyek Raksasa Dimulai di 3 Kota Besar

Jakarta - Pemerintah mempercepat penerapan teknologi pengolahan sampah menjadi...

Kemenag Buka Suara, Isu Pengambilalihan Dana Masjid Itu Tidak Benar

Jakarta - Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik (HKP)...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini